Buka Mata, LGBT Agenda Sistemis yang Menyesatkan

TintaSiyasi.com -- Fenomena penyimpangan seksual yang masif dikampanyekan dunia saat ini tentu bukan hanya kebetulan semata. Tentu kita menolak lupa pada tahun 2016 dalam situs resminya sebuah badan PBB dengan proyek besarnya United Nations Development Pragramme (UNDP) menunjukkan dukungan luar biasa terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks (LGBTI) dengan memberikan kucuran dana sebesar US $ 8 juta (sekitar Rp 108 miliar) kucuran dana di fokuskan pada empat negara besar seperti Thailand, Filipina, China dan Indonesia (detikNews, 2016/12/2).

Kucuran dana terhadap negeri ini sepertinya telah menuai hasil bagaimana para influencer-selebritis ramai mempromosikan pelaku penyimpangan seksual hingga pelaku bukannya malu tapi mendadak jadi artis. Panggung kian terbuka perlahan tapi pasti pewajaran masyarakat terhadap para pelaku penyimpangan seksual ini pun mulai tampak, para pengikut kaum sodom ditoleransi, dinormalisasi, tidak malu-malu lagi muncul di platform sosial media, bahkan para pelaku dipuja dan dibela oleh kaum Muslim itu sendiri, astagfirullahaladzim.

Belum lagi kenyataan pahit bahwa negara dan para penguasa turut membiarkan keberadaan mereka, bahkan turut serta menancapkan paham sekularisme liberalisme, bagaimana sistem pendidikan saat ini, pergaulan bebas, dan media massa yang diterapkan nyata-nyata telah turut memperkuat penerimaan terhadap ide dan perilaku menyimpang. Bahkan baru saja di sahkan UU TPKS yang sama saja dengan mengizinkan seks bebas dan penyimpangan seksual lainnya selama ada persetujuan dari pelaku seksual. Artinya apa, bahwa zina, LGBT dan sejenisnya akan dibiarkan setelah RUU ini sah. Maka jangan heran jika hari ini seluruh sosial media akan menghapus postingan kita yang mengkritik LGBT dengan alasan standar komunitas.

Jelaslah bahwa kehadiran kelompok dan para aktivis LGBT beserta dukungan masif terhadap mereka tidaklah terjadi dengan sendirinya. Namun, tersistemis sebagai penancapan ideologi kapitalisme, sekularisme, liberalisme menjadi agenda politik negara adidaya. Mirisnya negara Muslim yang berjiwa pengekor dengan para penguasa yang haus kekuasaan ikut memberi dukungan, meskipun kehancuran kelestarian manusia dan peradabannya nampak di depan mata.

Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, negara yang seharusnya menjaga fitrah generasi dan peradabannya justru pendukung kemaksiatan. Hilangnya peran negara menjadikan umat kehilangan perisai pelindung, bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Saat ini yang dibutuhkan umat tentu pelindung dengan kekuatan global karena yang dihadapi adalah adidaya politik global sehingga umat membutuhkan sokongan dari kekuatan politik yang juga global.

Dan kekuatan politik global yang sudah terbukti menguasai separuh dunia adalah kekuatan sistem Islam, Khilafah Islamiyah - institusi politik Islam yang akan menyatukan semua kekuatan, mulai dari SDM-SDA. Sekaligus siap menerapkan ideologi Islam sebagai asas dan sistem aturan dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari politik pemerintahan, ekonomi, pergaulan, pendidikan, hukum dan sanksi, pertahanan keamanan, termasuk hubungan internasional.

Cara Islam dalam mencegah dan menghilangkan perilaku menyimpang LGBT yaitu dengan melalui tiga pilar : ada individu, masyarakat, dan negara. Pertama, membentuk individu bertakwa yang menjaga diri dari perbuatan maksiat dan pemikiran menyimpang. Kedua, peran masyarakat yang  melaksanakan amar makruf nahi mungkar, berdakwah untuk menyadarkan umat bahwa penyebab maraknya LGBT saat ini adalah sistem sekuler demokrasi. Karena pengagunggan demokrasi terhadap HAM dan liberalisme. Inilah yang membuat setiap orang membela kesalahannya dengan dalih HAM dan kebebasan bertingkah laku. Sehingga kewajiban kita sebagai muslim untuk menyampaikan bahwa setiap manusia terikat dengan aturan penciptanya. Dan yang ketiga, pilar paling penting yaitu negara, penerapan aturan Allah oleh negara bisa melindungi rakyatnya dari berbagai perbuatan dan pemikiran menyimpang. Adanya aturan yang mencegah terjadinya perbuatan merusak seperti LGBT hingga adanya sanksi yang tegas bagi pelaku.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, disahihkan Syekh Al-Albani).

Hanya sistem Islam, satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan persoalan LGBT, khilafah membentuk akidah Islam yang kokoh di tengah masyarakat melalui pendidikan untuk  membentuk  kepribadian Islam dan dakwah Islam. Islam mengatur bagaimana sistem pergaulan yang benar menurut syariat. Negara seperti ini dipastikan akan mampu mencegah kemungkaran dan menjaga kemandirian di dalam maupun di luar negara tidak akan mudah didikte. Khilafah tegak di atas ketakwaan, baik rakyat maupun penguasanya. Ia hadir justru untuk memelihara fitrah kemanusiaan, baik sebagai hamba Allah maupun pemegang amanat kekhalifahan. Semua hal yang bertentangan dengan fitrah dan berpotensi merusak kehidupan akan dicegah melalui penerapan Islam kaffah. Wallahu a'lam. []


Oleh: Indi Lestari, Amd
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar