Bilakah Dunia Mendengar Jeritan Palestina?


TintaSiyasi.com -- Dunia tengah disibukkan dengan upaya membantu Ukraina menghadapi invasi Rusia. Sejak awal invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara di dunia berlomba-lomba mengecam, mengutuk Rusia bahkan memberikan berbagai sanksi di negaranya bagi transaksi atau kegiatan apapun yang berkaitan dengan Rusia. 

Bantuan terus mengalir bagi Ukraina. Bank Dunia menyetujui paket bantuan sebesar US$723 juta atau Rp10 triliun (dengan rata-rata Kurs Rp14.385 per dolar AS) berupa pinjaman dan hibah.

Bank Dunia mengatakan akan terus mengerjakan paket dukungan US$3 miliar atau senilai Rp43 triliun lainnya dalam beberapa bulan mendatang untuk negara tersebut. Bank Dunia juga menjanjikan bantuan ekstra untuk negara-negara tetangga yang menerima lebih dari 1,7 juta pengungsi, yang sebagian besar adalah wanita, anak-anak, dan lansia. Paket keuangan untuk Ukraina termasuk janji US$100 juta (Rp1,4 triliun) dari Inggris.

Bank Dunia mengatakan dana itu akan membantu pemerintah Ukraina menyediakan layanan penting, termasuk upah bagi pekerja rumah sakit, pensiun untuk lansia, dan program sosial bagi kelompok rentan. 

Paket termasuk pinjaman US$350 juta atau setara dengan Rp5 triliun, ditambah sekitar US$139 juta atau Rp1,9 triliun melalui jaminan dari Belanda dan Swedia. Bantuan itu juga terdiri dari US$134 juta (Rp1,9 triliun) dalam bentuk hibah dari Inggris, Denmark, Latvia, Lituania, dan Islandia, serta US$100 juta (Rp1,4 triliun) pendanaan dari Jepang (ekonomi.bisnis.com, 10/03/2022).

Hampir semua negara berpendapat bahwa perang ini adalah ‘bencana’ bagi dunia karena akan memangkas pertumbuhan ekonomi global. Perang di Ukraina datang pada saat yang buruk bagi dunia karena inflasi sudah meningkat akibat Covid-19. Begitu 'hebohnya' dunia atas penderitaan Ukraina. 

Namun bagaimana dengan penderitaan negara-negara Muslim yang telah lama mengalami penindasan? Sebut saja Palestina. Penjajahan terhadap Muslim Palestina telah berlangsung puluhan tahun namun dunia bungkam.

Negara-negara dunia terutama di Benua Eropa dan Amerika selalu mengelu-elukan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Alasan HAM itu pula yang menjadi alasan mereka mati-matian membela Ukraina. Tapi disaat yang sama mengabaikan pelanggaran HAM yang telah terjadi di depan mata mereka selama puluhan tahun lamanya.

Inilah inkonsistensi dunia dalam memegang prinsip. Sekaligus membuktikan bahwa bantuan yang mereka berikan bagi negara konflik hanya demi keuntungan pribadi dan untuk menunjukkan eksistensi diri. Jika dirasa tidak menguntungkan maka mereka diam dan tidak melakukan apa-apa. Lebih-lebih jika itu menyangkut penindasan terhadap kaum muslimin. Secara tidak langsung mereka tampak menyembunyikan kebencian tersendiri terhadap islam. 

Disisi lain, ketika dunia tengah sibuk 'mengurusi' Ukraina, kedzaliman Israel terhadap Muslim Palestina semakin menjadi-jadi. Beberapa waktu lalu, tepatnya Minggu, 10 April 2022, tentara Israel menembak seorang perempuan Palestina di dekat Betlehem, Tepi Barat, hingga akhirnya tewas. 

Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, perempuan berusia 40-an tahun itu meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Kota Beit Jala. Menurut Kemenkes Palestina, perempuan itu tewas karena kehilangan banyak darah akibat arteri yang robek terkena timah panas tentara Israel (cnnindonesia.com, 11/04/2022).

Hingga saat ini Palestina masih mati-matian berusaha mengatasi serangan militer yang dilakukan Israel. Sebelumnya, pada Senin (4/4/2022) lalu, Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtay berharap dunia bisa meminta Israel untuk menghentikan serangan militer mereka terhadap warga sipil Palestina. 

Pesan ini ia sampaikan selama rapat kabinet Otoritas Palestina yang digelar di Kota Ramallah, Tepi Barat sebelum akhirnya disampaikan secara resmi. "Eskalasi Israel terhadap warga Palestina, yang meliputi pembunuhan, penyiksaan, penangkapan serta membolehkan pemukim melakukan kejahatan, menimbulkan ancaman yang luar biasa terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan," kata Ishtaye (wartaekonomi.co.id, 07/04/2022).

Dunia memperlihatkan standard ganda yang harusnya tidak bisa diterima akal dan rasa kemanusiaan. Bagaimana mungkin membela Ukraina setengah mati, tapi melakukan pembiaran terhadap Israel yang telah bertindak tak manusiawi terhadap Palestina sekian tahun lamanya. Jelas, perdamaian dunia dan perlindungan HAM yang hakiki tidak akan bisa kita dapatkan jika berharap dari negara-negara yang ada di dunia dengan sistem kapitalismenya saat ini.

Palestina dan Dunia Butuh Khilafah

Kaum Muslim saat ini semakin dirundung diberbagai belahan dunia tanpa adanya bantuan serta ketegasan dari para pemimpin dunia Islam terhadap penjajahan Barat. Apa yang bisa kita harapkan saat ini untuk membebaskan Palestina dari jajahan zionist Israel maupun negeri-negeri Muslim lainnya seperti Rohingya, Kazakhstan, Afganistan dan lainnya dari jajahan Barat selain khilafah. Seperti yang sudah kita saksikan bahwa demokrasi kapitalisme tidak mampu melindungi umat Islam dari kekejaman jajahan Barat.

Belum lagi adanya sekat-sekat nasionalisme yang menjadikan umat Islam tercerai-berai. Paham ini pula yang menjadikan para pemimpin muslim enggan bertindak tegas terhadap musuh-musuh Islam disamping adanya normalisasi hubungan diplomatik. Oleh karena itu, hanya khilafah yang menjadi benteng terakhir umat Islam yang menjadi junnah dalam melindungi setiap kehormatan dan kemuliaan kaum Muslim. 

Kekacauan yang terjadi di dunia saat ini tidak lain disebabkan oleh diterapkannya sistem kapitalisme yang menyengsarakan umat manusia. Serta tidak diterapkannya sistem Islam secara kaffah (total menyeluruh). 

Di sinilah relevansi umat Islam untuk kembali menegakkan khilafah yang akan menyatukan umat, menjadi perisai yang melindungi umat, menjaga kekayaan negeri-negeri Islam dari penjajah kafir yang rakus, dan menerapkan syariat Islam yang akan memberikan kebaikan pada seluruh umat manusia. Bukan hanya Rahmat bagi kaum muslimin saja tetapi juga Rahmat bagi seluruh alam semesta. 

Jika Islam diterapkan niscaya keberkahan akan turun dari langit dan bumi sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al A'raf ayat 96 : "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."


Oleh: Dinda Kusuma W T
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar