Rasa Keadilan yang Mati di Tangan Demokrasi

TintaSiyasi.com -- Kasus penghilangan nyawa umat Islam semakin meningkat. Bahkan penghilangan nyawa tersebut tanpa alasan yang jelas. Kasus-kasus tersebut akhirnya tenggelam, hilang terganti dengan kasus-kasus yang lain. Sedangkan para pelaku tak terjerat hukum, bahkan terkesan kebal terhadap hukum, baik pelakunya masyarakat sipil atau penegak hukum sekalipun.

Rasa keadilan saat ini semakin hari semakin menipis. Tergantikan dengan kepentingan yang berkuasa. Sekalipun kepentingan tersebut menuntut nyawa sebagai tumbalnya yang seakan tak berharga. Keadilan telah menjadi barang mewah bagi sebagian besar rakyat saat ini. Untuk mendapatkannya, mereka harus rela berkorban walau pada akhirnya tidak mendapatkannya.

Keadilan dalam sistem demokrasi, yang katanya memberikan kebebasan manusia melakukan sesuatu secara bebas dengan dilindungi undang-undang, nyatanya tidak mampu memberikan kebebasan setiap individu untuk mendapatkan keadilan bahkan untuk nyawanya sekalipun.

Keadilan dalam sistem ini hanyalah milik mereka yang memiliki kuasa dan harta, mereka bebas berbuat apapun tanpa ada yang mencela. Selain mereka, maka hanya akan menjadi korban keserakannya semata. Merampas nyawa seakan sama dengan membuang sampah yang tak lagi berharga.
Hukum telah tumpul bagi rakyat umumnya, hanya tajam saat dikendalikan oleh yang memiliki kuasa. Bahkan menjadi pembenar saat nyawa menjadi taruhannya. Keadilan semacam ini hakikatnya bukanlah keadilan namun kesewenangan atau kekejaman karena menganggap suatu yang berharga bagi manusia menjadi tak bernilai di mata mereka.

Dalam Islam, nyawa setiap insan Muslim adalah berharga, bahkan lebih berharga dibandingkan dunia dan isinya. “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa haq.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Tidak heran, Islam menempatkan keadilan di atas segala karena setiap yang bernyawa berhak untuk dilindungi dan dijaga. Bahkan menjadi prioritas sehingga penjagaan atasnya mampu mengerahkan segenap kekuasaan yang dimiliki oleh negara. Sekalipun itu hanya untuk satu nyawa Muslim yang tak berdosa.

Namun lihatlah kini, penindasan dan pembunuhan semakin merajalela, semua atas nama kebebasan belaka. Pada akhirnya, kerakusan dan pengkhianatan terhadap kemanusiaan telah berkuasa karena diterapkannya sistem demokrasi sekuler. Keadilan benar-benar telah mati di tangan demokrasi.

Hanya dengan sistem Islam, keadilan dan keamanan terwujud sempurna. Telah terbukti ratusan tahun lamanya saat berkuasa. Tak melihat Muslim atau selainnya bahkan hewan dan tumbuhan sekalipun tetap mendapatkan haknya. Hak untuk dilindungi dan dijaga.
Kembali pada Islam adalah solusi atas masalah mendasar ini. Tak ada sistem lain yang mampu secara sempurna memberikan rasa dan fakta keadilan sesungguhnya.
Wallahu a'lam. []


Oleh: Rewpa
Pemerhati Masalah Sosial

Posting Komentar

0 Komentar