Politik Klenik Mengundang Azab


TintaSiyasi.com -- Tahun ini memang tahun yang tak sepi menuai pro dan kontra. Banyak kasus terjadi yang dirasa rakyat sungguh tidak patut dilakukan, mengingat syirik telah jelas didefinisikan. Di sisi lain, ditengah penolakan para ahli dan rakyat tentang pembangunan IKN yang penuh polemik, presiden Jokowi bersama 34 gubernur se Indonesia melakukan ritual mengisi kendi Nusantara di titik nol Ibu Kota Negara (IKN) (kompas.com, 13/3/2022).

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun dalam wawancaranya dengan Kompas.com menyampaikan bahwa aktifitas seperti itu dalam terminologi sosial budaya dan sosiologi bisa dikategorikan politik klenik yaitu suatu praktik politik mengimplementasikan kemauan penguasa (IKN) berdasar imajinasi irrasionalitas yang meyakini semacam adanya mistisisme tertentu (kompas.com, 13/3/2022).

Lebih lanjut Ubaedilah mengatakan bahwa: politik klenik ini menunjukkan adanya kemunduran peradaban politik. Praktik ini bertentangan dengan rasionalitas masyarakat modern, sebab politik modern yang menghadirkan pemerintahan modern meniscayakan syarat rasionalitas dalam seluruh  implementasi kebijakannya. Membawa kendi berisi air dan tanah dari 34 provinsi adalah suatu tindakan irasional.

Azumardy Azrah mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah pun angkat bicara, "saya tak faham maksudnya, hanya saja ritual seperti itu telah membawa IKN ke masa magis dan mistis dimasa silam". (Tempo.com, 13/3/2022).

Ketua MUI Sumatra Barat Gusrizal Gazahar menyesalkan keikut sertaan gubernur Sumatra Barat yang ikut berpartisipasi dalam ritual kendi Nusantara, beliau berpendapat ritual seperti itu mengandung keyakinan yang bertentangan dengan akidah tauhid, sehingga yang dilakukan gubernur sumatra Barat telah mencoreng wajah sumatra Barat sebagai daerah yang dikenal dengan semboyan "adat basandi syara', syara'basandi kitabullah (haluan padang.com, 14/3/2022).

Sungguh sangat ironis penguasa yang menolak syariat Allah lalu malah dengan senang hati melakukan ritual mistik dan syirik dalam kenegaraan, tidak cukupkah permasalahan yang terjadi di negeri ini, malah menambah aktifitas syirik yang mengundang murka Allah. Bagaimana keberkahan akan tercurah jika klenik syirik jadi andalan, astagfirullah al'dziim.

Bukankah Allah SWT telah mengingatkan dalam surat Al Baqarah ayat 165: "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)".

Beginilah wajah negara yang menerapkan  demokrasi yang mengandung ide kebebasan, pemikiran yang rusak dan merusak mengandung kemaksiatan serta  kesyirikan tumbuh subur, sementara Islam yang membawa kebaikan justru disingkirkan, inilah sekularisme yang menolak agama (Islam) dalam mengatur urusan kehidupan.

Dengan menyingkirkan peran agama dalam kehidupan, secara tidak langsung memberi peluang masuknya kesyirikan, mengapa demikian? Karena secara fitrah manusia memiliki naluri, di antara naluri itu adalah manusia menghamba pada zat yang dianggap memiliki kekuatan. Manusia membutuhkan peran dari zat yang dianggap berkuasa, jika kemudian agama disingkirkan maka dia akan mengambil zat lain selain Allah yang dianggap memiliki kekuatan dan berkuasa.

Demokrasi menafikan Allah sebagai Zat yang memiliki kekuatan dan yang berkuasa, yang berhak disembah, maka sebagai gantinya penyembahan itu disalurkan ke hal-hal yang bersifat mistis, mereka menganggap dirinya telah melakukan kebaikan padahal sesungguhnya mereka telah berbuat kesesatan, kesyirikan yang mengundang murka Allah SWT. 

Dengan politik klenik yang mereka lakukan, alih-alih mendapatkan kesejahteraan, justru murka Allah yang akan didapatkan dari Zat yang menciptakan dan menguasai alam semesta. Rasulullah SAW bersabda, "Allah Tabaraka wa ta'ala berfirman" Aku tidaklah butuh adanya tandingan-tandingan. Barang siapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan perbuatan syiriknya itu." (HR. Muslim no 7666).

Allah SWT telah mengingatkan bahwa barakah (bertambahnya kebaikan) dan kesejahteraan akan Allah turunkan pada suatu negeri yang beriman dan bertakwa. 

Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat ayat kami. Maka kami siksa mereka sesuai dengan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A'raf ayat 96).

Jelaslah di sini bahwa ketika negeri ini mengharapkan kesejahteraan maka seharusnya membuang jauh sistem demokrasi sekularisme yang melahirkan kesyirikan dan mengganti dengan sistem Islam yakni khilafah yang menjadikan Allah sebagai satu satunya Zat yang disembah. Karena Allah lah Sang Pencipta sekaligus pengatur alam semesta.

Allahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Dra. Dewi Asiya
Pemerhati Sosial

Posting Komentar

0 Komentar