Mahasiswa, Pastikan Perjuanganmu Tak Sia-Sia

TintaSiyasi.com -- Aksi demo mahasiswa telah digelar sejak hari Jumat 8 April 2022 lalu di seluruh Indonesia, di antaranya Samarinda, Makassar, Palembang, Semarang Kendari dan Bogor. Aksi ini merupakan respons kepada pemerintah yang dinilai tak bisa mengatasi masalah di negeri ini.

Koordinator lapangan dari mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil), Sadid Farhan, mengatakan, aksi tersebut bentuk kekecewaan terhadap pemerintah. Pemerintah dinilai tak bisa mengatasi masalah yang menyebabkan masyarakat hidup dengan kesulitan (republika.co.id, (08/04/2022).

Koordinator Pusat BEM SI, Kaharuddin mengatakan, ada 6 tuntutan yang disuarakan pada aksi 11 April Ini, di antaranya: (nasional.okezone.com, 10/04/2022).

Pertama, menuntut presiden bersikap tegas menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan 3 periode, karena sangat jelas mengkhianati konstitusi. 
Kedua, menuntut dan mendesak presiden untuk menunda dan mengkaji ulang UU IKN termasuk dengan pasal-pasal yang bermasalah serta dampak yang ditimbulkan dari aspek lingkungan, hukum, sosial ekologi dan kebencanaan. 
Ketiga, mendesak untuk menstabilkan harga dan ketersediaan bahan pokok di masyarakat.
Keempat, mengharapkan Presiden mengusut tuntas para mafia minyak goreng serta mengevaluasi kinerja menteri terkait.
Kelima, menuntut penyelesaian konflik agraria.
Keenam, mahasiswa meminta presiden dan wakil presiden berkomitmen penuh dalam menuntaskan janji kampanye disisa jabatannya.

Mencermati tuntutan tersebut, tampak mahasiswa belum berpikir bahwa kezaliman yang terjadi sekarang bukan semata karena rezimnya, melainkan dari UU neoliberal yang lahir dari demokrasi kapitalisme. Mahasiswa seharusnya sadar bahwa sudah sekian rezim berkuasa di Indonesia, namun semua gagal mensejahterakan rakyat. Selama rezim masih menjalankan ideologi kapitalisme liberal, Indonesia tidak akan pernah berubah.

Semestinya, mahasiswa belajar banyak dari pendahulu mereka yang berjuang mengusung perbaikan sistem (reformasi) 1998 silam. Reformasi mengganti rezim yang setiap rezimnya tetap saja melahirkan berbagai UU pesanan para pemodal—sekadar tambal sulam sistem yang makin memberi karpet merah bagi kekuasaan oligarki.

Karena pada faktanya, pascareformasi pun tidak pernah lahir UU kecuali selalu bercorak kapitalisme dan neoliberalisme. Dari sini tampaklah bahwa sistem demokrasi dan kapitalisme hanya memberi harapan palsu perubahan. Mahasiswa harusnya memiliki agenda pergerakan yang mandiri dan bebas dari campur tangan rezim.

Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial semestinya memiliki asas perubahan yang shahih (benar) dalam merespon persoalan, sehingga bebas dari berbagai kepentingan yang melanggengkan kezaliman. Asas perubahan yang shahih akan mewujudkan perubahan hakiki, yakni perubahan dari sistem yang salah yaitu kapitalisme liberal kepada sistem yang benar. 

Perubahan yang benar tidak akan terbeli oleh iming-iming uang dan kekuasaan. Sebagaimana perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketika pemimpin Quraisy, melalui Abu Thalib,  menawarkan iming-iming duniawi,  Rasulullah SAW menjawab dengan berkata, "Demi Allah seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwahnya sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa".

Demikianlah sikap yang harus dilakukan oleh para mahasiswa, teguh dalam perjuangan. Agar demikian, mahasiswa harus mendasarkan aktivitasnya pada asas yang shahih, yakni akidah Islam. Islam harus dijadikan kaidah dan kepemimpinan berfikir, sehingga setiap tuntutan dan gerakan lahir dari kebenaran wahyu, bukan kepentingan pragmatis yang hanya berefek jangka pendek. 

Akidah Islam juga akan membantu mahasiswa pada arah perjuangan yang benar. Yaitu menjadikan penerapan ideologi Islam sebagai solusi atas permasalahan Indonesia. Sehingga berbagai kritis multidimensi diselesaikan dengan syariat Islam. 

Keberhasilan Islam dalam transformasi masyarakat telah terbukti kan pada dakwah Rasulullah SAW. Islam berhasil mewujudkan peradaban yang makmur dan wilayah yang luasnya mencapai 2/3 dunia. Kemakmuran itu dinikmati dunia selama 13 abad lamanya hingga berakhir karena runtuhnya khilafah di Turki akibat makar keji negara penjajah Inggris. 

Penegakan ideologi yang haq yakni Islam, harus menjadi agenda perjuangan mahasiswa. Inilah satu-satunya jalan untuk menjaga kemurnian pergerakan mahasiswa dari tangan kotor yang terdapat pada kepentingan mereka. 

Karena itulah perjuangan mahasiswa harus berpijak pada ideologi Islam. Mahasiswa harus bangkit melawan ideologi batil yang menzalimi umat bawah komando antek penguasa kapital. Mahasiswa harus bergerak mengerahkan waktu, pikiran, dan energi mewujudkan perubahan hakiki, bukan hanya dengan pergerakan pemuda yang tidak membawa perubahan berarti.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Siti Zulaikha, S.Pd.
(Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar