Lingkaran Setan Demokrasi


TintaSiyasi.com -- Adagium demokrasi adalah kekuasan yang berasal "Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat". Mereka mengimani bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, sehingga apa pun yang diputuskan dengan suara rakyat terbanyak, itulah keputusan Tuhan dan sah untuk diterapkan.

Dalam demokrasi kekuasaan ada di tangan rakyat, sehingga untuk memperoleh kekuasaan orang-orang yang memilki cukup sumber daya akan mempergunakan rakyat sebagai kuda tunggangan menuju posisi kepemimpinan yang diinginkannya.

Oleh karena itu, wajar jika para penguasa yang saat ini memegang tampuk kekuasaan adalah sekelompok orang yang dahulu pernah meraih kepercayaan rakyat untuk menjalankan amanat kekuasaan.

Sayangnya, orang- orang yang sekarang menjadi bumper yang dijadikan oleh penguasa untuk menghadapi rakyatnya juga merupakan orang-orang yang dulu ikut merebut kekuasaan dari rezim sebelumnya melalui kekuatan rakyat pula. Ironis, bukan?

Dulu mereka meneriakkan ketidakadilan rezim, menuntut turunnya harga barang-barang, bahkan meminta penguasa sebelumnya untuk turun dari kekuasaan dengan jargon mencintai tanah air dan negara. Seolah-olah ini adalah perjuangan membela rakyat dengan tulus atas nama bangsa Indonesia.

Namun demikian, setelah mereka berada di lingkaran kekuasaan mereka pada akhirnya menjadi sekelompok orang yang paling getol membela penguasa saat ini dari kritikan dan nasehat yang berasal dari rakyatnya sendiri.

Mungkin pengalaman mereka digaris depan di masa lalu membuat mereka memiliki nilai tawar bagi penguasa sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghadapi orang-orang seperti mereka dalam situasi masa kini.

Bisa jadi inilah manfaat berdemokrasi bagi beberapa orang lapangan agar bisa menikmati kue kekuasaan meskipun bukan sebagai oligarki, melainkan hanya menjadi semacam security atau sekadar petugas pengamanan.

Apabila saat ini rakyat menginginkan perubahan, maka harus betul-betul dipastikan untuk tidak mengulangi kesalahan, karena demokrasi adalah sebuah lingkaran setan.

Ketika adagium "Tidak ada teman dan musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi" dipergunakan, maka rakyat hanya akan sibuk berputar-putar pada kepentingan segelintir orang tanpa mendapatkan perubahan yang dibutuhkan. 

Pencitraan demi pencitraan akan selalu menarik-narik perasaan mereka agar mau mendukung para penipu meraih kekuasan. Dan akhirnya kembali rakyat menjadi korban.

Tanpa didasari konsep yang benar dan metode yang secara empiris akan membawa pada perubahan yang dibutuhkan, pihak-pihak yang melakukan demonstrasi saat ini sangat mungkin dimanfaatkan untuk menjadi garda depan dari kekuasaan selanjutnya dalam menghadapi aspirasi masyarakatnya.

Karena demokrasi menghitung jumlah kepala tanpa mempertimbangkan isi kepala, maka jumlah kepala terbanyak akan menjadi penguasa dari yang sedikit. Padahal kebenaran tidak boleh didasarkan pada sesuatu yang berubah-ubah karena kebenaran akan menjadi patokan segala tindakan. 

Itulah mengapa kebenaran harus berasal dari Zat yang tidak pernah berubah, yaitu Sang Pencipta Alam. Hanya Zat yang bisa menciptakan dan menjaga keberlangsungan alam semesta dan kehidupan saja yang layak untuk menjadi standard kebenaran.

Solusinya adalah Islam. Konsep Islam dalam melakukan perubahan adalah dengan membangkitkan pemikiran tentang kehidupan, darimana mereka berasal, untuk apa mereka hidupa dan akan kemana tempat mereka pulang. 

Metode perubahan dalam Islam dilakukan secara pemikiran, politis, tanpa kekerasan, serta dilakukan secara revolusioner bukan sekedar reformatif semata. Inilah cara yang secara empiris telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan secara normatif ada dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Agar tidak kembali berputar-putar dalam lingkaran setan demokrasi, kami menyeru kepada masyarakat Indonesia yang saat ini sedang muak dengan kezaliman, untuk memilih Islam dalam melakukan perubahan. Mari kita lanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan sistem Islam secara legal formal. Wallahu a'lam bishshowwab.

Oleh: Trisyuono Donapaste
Aktivis Penggerak Perubahan

Posting Komentar

0 Komentar