Jomblo Summit Festival Berpotensi Menjadi Ajang Kemaksiatan dan Penyesatan Massal

TintaSiyasi.com -- Pemerintah kabupaten Sumedang memberikan sinyal akan menggelar Jomblo Summit Festival di kawasan makam keramat marongge. "Jomblo Summit Festival" itu sendiri ialah sebuah konsep yang disiapkan menjadi aura branding wisata di kawasan makam keramat marongge, yang dipercaya ketika orang yang belum mempunyai jodoh lalu mengikuti festival itu akan segera dapat jodoh kalau ada takdirnya. Lebih lanjutnya, karena Marongge sudah punya pasar tersendiri dari berbagai daerah di Indonesia. Maka dari itu jika konsep "Jomblo Summit Festival" ini terwujud maka diyakini akan mendatangkan banyak wisatawan.

Sebagai informasi, pelet Marongge dipercayai sangat manjur untuk memikat lawan jenis, namun yang jelas selalu ada yang tertarik untuk mendapatkan pelet tersebut.

Sinyal akan menggelar acara Jomblo Summit Festival di kawasan makam keramat marongge dilontarkan Bupati Kabupaten Sumedang Dony Ahmad Munir usai mengikuti kegiatan seminar bertemakan pariwisata baru-baru ini.

Dalam wawancara dengan wartawan, Dony mengungkapkan, dalam mengembangkan wisata perlu terobosan yang berbeda atau out of the box. Salah Satunya menggelar Jomblo Summit Festival di kawasan makam keramat Marongge.

Inspirasi dan inovasi dalam membangun pariwisata tambah Dony harus terus dimiliki pelaku usaha, "harus ada pembeda dengan wisata lain, harus inovasi, harus kreatif," ujar Dony.

Dony mencontohkan, salah satu inovasi di Sumedang, pemerintah daerah bisa menggelar seperti Jomblo Summit Festival. Acara tersebut bisa digelar di kawasan marongge, salah satu kawasan wisata ziarah yang terkenal dengan kesaktian ilmu peletnya. "Kita punya marongge. Siapa yang tak kenal marongge? Kita setting marongge jadi kawasan wisata dengan menjual aura branding," ujarnya. "Nanti akan ada Jomblo Summit Festival. Siapa yang datang ke sono (marongge) insyaallah (kalau jomblo ada jodohnya)," kata Dony berseloroh.

Seperti diketahui, selama ini ketika orang berbicara masalah ilmu pelet yang kesohor di Sumedang bahkan di Nusantara, pasti diidentikkan dengan pelet marongge. Warga yang datang ritual dalam bentuk ziarah ke Marongge ini umumnya ingin mendapatkan pelet Marongge, di antaranya untuk pemikat, baik itu untuk mencari jodoh, usaha, kepopuleran, atau kepentingan lainnya yang berurusan dengan pengasihan atau kinasihan.

Berbagai kalangan mulai dari pejabat, pengusaha, artis, pemain sepakbola, hingga masyarakat biasa, banyak berdatangan ke Sumedang hanya untuk mendapatkan pelet marongge. Dikutip dari kabarpriangan.com, Jum'at, 4 Maret 2022.

Hal ini tentu menjadi masalah yang cukup serius bagi masyarakat. Sebab dapat menjerumuskan kepada kesyirikan secara massal. Mengapa demikian? Sebab, ketika kita memperhatikan ritual ziarah di situs pemakaman keramat Marongge tersebut, kita menemukan setidaknya ada dua penyimpangan yang dapat menjerumuskan pada kesyirikan, yakni;

Pertama, tujuan berziarah. Dalam Islam hukum berziarah secara asal adalah sunah, sebagaimana nabi SAW bersabda:

اِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُْهَا فَاِنَّهَا
 تَذَكَّرُكُمُ الْاَخِِرَةَ.

Artinya: "Dulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang lakukanlah ziarah kubur, karena akan mengingatkan kalian terhadap akhirat." (HR. Muslim).

Namun, ziarah hanya boleh dilakukan dalam rangka mendoakan mereka yang telah lebih dulu berpulang, dan juga untuk mengingatkan kita pada kehidupan akhirat. Jangan sampai ziarah menjadi ajang untuk memohon doa kepada orang yang sudah meninggal karena hal itu justru merupakan perbuatan syirik karena telah menyekutukan Allah.

Allah SWT berfirman: 

وَاعْبُدُوْا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُ بِهٖ شَيْءًا

Artinya: "Sembahlah ALLAH dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apapun." (QS. An Nisa: 36).

Pengertian inilah yang disebut dengan syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan lainnya yang telah jelas diharamkan oleh Allah SWT. Menurut Ar Raghib Al Asfahani, syirik menjadi dua:

Pertama. As Syirk Akbar (ْاَلشِّرْكُ الاَكْبَر), syirik besar, yaitu syirik dalam bidang keyakinan. Yakni meyakini adanya tuhan selain Allah atau menyekutukan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hal ketuhanan. Seperti meyakini kekuasaan atau kekuatan Ilahiyah (ketuhanan) pada benda-benda yang dianggap keramat seperti pohon beringin, keris, akik, akar bahar, binatang, kuburan, atau patung, dan sebagainya.

Kedua. As Syirk al Asghor (اَلشِّرْكُ الْاَصْغَرْ), syirik kecil, yaitu menyekutukan Allah dalam tujuan beribadah atau beramal kebaikan yang tujuannya untuk memperoleh pujian dari orang lain, Padahal tujuan beribadah dan beramal kebaikan seharusnya hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT (Al Mausu'ah al Qur'aniyah: 369).

Berdasarkan penjelasan ini maka telah jelas, bahwa meminta kepada selain Allah atau mengkeramatkan benda termasuk kesyirikan yang besar, sebab tidak secara langsung ia meyakini ada yang dapat mengabulkan doa selain Allah.

Kedua, terkait aktivitas/ritual yang dipraktikkan. Yang mana sangat kental dengan khurafat seperti bersemedi, mandi kembang, mandi di aliran sungai Cilutung Sumedang sambil melarungkan celana dalam yang dipakainya saat itu, dan lain sebagainya yang tidak ada sambungannya berdasarkan hukum adat. Maka ritual yang demikian adakah perbuatan batil.

Adapun antusias pemerintah Sumedang untuk menggelar Jomblo Summit Festival di tempat tersebut dapat menjerumuskan masyarakat khususnya kaula muda pada kemaksiatan dan kesyirikan. Yang mana kita ketahui tanpa adanya sebuah festival saja para remaja kita telah jauh dari ajaran Islam dan tak lagi merasa segan untuk melanggar aturan-aturannya, dan kini mereka seolah digiring pada kesyirikan untuk meyakini adanya sumber kekuatan selain Allah.

Sangat disayangkan jika pemerintah mengorbankan keimanan masyarakat hanya untuk kepentingan ekonomi melalui pengembangan pariwisata yang bertentangan dengan syariat.

Namun kita melihat bahwa hal demikian adalah sesuatu yang wajar pula, sebab pandangan hidup yang mereka emban bukanlah Islam akan tetapi kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, mengejar materi sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan aturan pencipta-Nya. Tolak ukurnya bukan lagi halal dan haram, salah dan benar, akan tetapi asas manfaat. Sekiranya dirasa ada manfaat berupa materi, meski diharamkan oleh agama tetap mereka ambil, sebab tujuan hidupnya bukan lagi akhirat tetapi kenikmatan dunia yang sementara.
Dalam sistem saat ini, akidah masyarakat kita sangat tidak terjaga sebab jauh dari aturan Allah SWT.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Iim Kamilah
Wado - Sumedang

Posting Komentar

0 Komentar