Ironi Hukum Sekuler, Korban Kejahatan Bisa Menjadi Tersangka


TintaSiyasi.com -- Murtede atau Amaq Sinta mungkin tidak menyangka akan mengalami peristiwa yang tidak disangka-sangka. Peristiwa yang lumayan membuat kaget dan syok. Sudahlah menjadi korban begal, malah ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan. Kejadiannya berawal saat dini hari sekira pukul 01.30 WITA pada Minggu, 10 April 2022, ia hendak mengantarkan makanan untuk ibunya di Lombok Timur yang sedang sakit. Saat melaju di jalanan yang lumayan sepi, tiba-tiba ia dipepet dua orang yang mengendarai sebuah motor. Mereka memaksa dan berusaha merampas motornya. Si begal membawa celurit. Tak kalah, Sinta pun mengeluarkan pisau yang dibawanya. Terjadilah duel di antara mereka. Tak berapa lama datang sebuah motor lain yang membawa dua orang ikut memepetnya. (suara.com/15-04-2022)

Lelaki 34 tahun asal Lombok Tengah tersebut berusaha mati-matian mempertahankan keselamatan diri dan hartanya. Dia seorang diri melawan empat begal. Dan akhirnya duel dimenangkan oleh Sinta si korban begal. Dua di antara pelaku begal, P (30) dan OWP (21), yang merupakan warga desa Beleka, Praya Timur, Lombok Tengah tewas. Dua begal lainnya melarikan diri ketika melihat dua temannya tumbang. 

Dari hasil visum pihak kepolisian, OWP mendapat luka tusuk pada bagian dada sebelah kanan tembus ke paru-paru. Sementara P mengalami luka tusuk di bagian punggung sebelah kanan yang menembus paru-paru. Sinta sendiri selamat dan tidak mendapat luka berarti. 

Saat saya menonton salah satu channel YouTube yang menayangkan wawancara dengan Sinta, ada salah satu komentar yang menyebutkan jika dilihat dari gerak tubuh Sinta bisa dipastikan jika ia bisa bela diri. Wah, salah sasaran nih si begal. Ketemu korban yang ternyata jago bela diri. Mungkin kita juga bertanya-tanya, kenapa Amaq membawa pisau dapur? Dan jawaban pun saya dapatkan dari salah satu komentar netizen yang menyebutkan jika di beberapa daerah ada yang sengaja membawa sejenis pisau atau senjata lainnya untuk membela diri saat bepergian. Apalagi jika daerah tersebut masih sepi dan jauh dari pemukiman.  

Dari Korban Menjadi Tersangka

Sekitar enam hari pascaperistiwa, Amaq Sinta melaporkan kejadian pembegalan yang menimpa dirinya. Polisi pun menyita beberapa barang sebagai barang bukti, yaitu empat buah senjata tajam dan motor sebanyak tiga unit. Satu motor milik Sinta dan dua motor lainnya milik pelaku. Dua pelaku begal yang melarikan diri sudah ditangkap sebelumnya oleh polisi.

Tak berselang lama dari kejadian pembegalan tersebut, Amaq Sinta ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan. Menurut Wakil Kepala Polres Lombok Tengah Kompol I ketut Tamiana dalam konferensi di Lombok Tengah menyatakan bahwa korban begal dikenakan Pasal 338 KUHP yaitu menghilangkan nyawa seseorang melanggar hukum maupun Pasal 351 KUHP ayat (3): melakukan penganiayaan mengakibatkan hilang nyawa seseorang. Duh biyung, niat melapor pembegalan yang menimpa dirinya, malah dia ditetapkan menjadi tersangka dan langsung ditahan.

Mendengar Sinta ditahan, masyarakat pun geger. Sebagian masyarakat Lombok dan beberapa LSM bersuara agar Sinta dibebaskan. Dari warga biasa hingga kepala desa menuntut Polres Lombok Tengah segera membebaskan Sinta dari tuntutan pembunuhan. Menurut mereka, Sinta hanya melakukan upaya pembelaan diri ketika mendapat serangan begal yang akan merampas motornya. Sinta juga menyampaikan dia melakukannya sekadar membela diri karena dia diserang dengan senjata tajam. Jika tidak melawan, bisa jadi ia yang mati, apalagi dikeroyok empat orang. Saat awal mendapat serangan, Sinta sudah berteriak minta tolong beberapa kali. Namun tak satu pun warga yang mendengar. Hal ini wajar karena kejadian berlangsung tengah malam menjelang dini hari dan di tempat sepi.

Polres Lombok Tengah akhirnya mengabulkan permintaan dari pihak keluarga untuk menangguhkan penahanan Amaq Sinta. Pihak keluarga menjamin akan kooperatif dengan pihak kepolisian dan juga memastikan Sinta tidak akan melarikan diri.    
Pandangan Hukum Positif Indonesia terhadap Kasus Murtede alias Amaq Sinta

Kejadian yang dialami oleh Sinta sebenarnya pernah terjadi sebelumnya. Kejadian yang menimpa Muhamad Irfan Bahri serupa dengan Sinta. Usai menumbangkan pelaku begal yang akan merampas gawainya, ia ditetapkan menjadi tersangka. Salah satu pelaku yang membawa celurit akhirnya tewas setelah Irfan melakukan perlawanan saat perampasan terjadi. Pelaku lainnya kritis. Celurit yang dibawa pelaku begal sempat melukai tangan Irfan. Irfan sendiri melawan dengan tangan kosong. (merdeka.com/18-04-2022)

Saat itu Irfan ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan. Kasus Irfan menjadi viral hingga beritanya sampai di telinga Presiden Jokowi. Singkat cerita, Irfan akhirnya dibebaskan dan mendapat penghargaan karena keberaniannya melawan begal. 

Mengutip pendapat Profesor Suteki, seorang Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, bahwa tindakan yang dilakukan oleh Sinta tidak termasuk ke dalam kasus eigenrichting. Bahasa mudahnya makna dari eigenrichting adalah tindakan main hakim sendiri. Sedikit berteori, menurut Profesor yang juga dikenal sebagai Pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila menyampaikan perbuatan Sinta masuk dalam perbuatan membela diri yang amat terpaksa sesuai dalam Pasal 49 Ayat 2 KUHP. Bunyi pasal tersebut adalah “Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.” Pendapatnya ini beliau sampaikan dalam channel YouTube Prof. Suteki (15/04/2022).

Jadi bisa disimpulkan, jika tindakan yang dilakukan oleh Sinta adalah sebagai bentuk pembelaan diri karena mendapat serangan atau ancaman tidak boleh dipidana. Pilihan yang dihadapi Sinta hanyalah melawan atau mati. Korban begal yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka pelaku pembunuhan sudah seharusnya dibebaskan. 

Karena desakan dari berbagai pihak, akhirnya kepolisian mengadakan gelar perkara kasus Murtede. Pasal 49 Ayat 2 KUHP juga menjadi acuan Polri dalam menyikapi kasus Murtede ini. Akhirnya Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto meminta penghentian kasus korban begal yang menjadi tersangka. Status tersangka korban pun dicabut dan pihak Polda NTB setelah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Murtede alias Amaq Sinta dibebaskan dari segala tuntutan hukum dan berkumpul kembali dengan keluarganya.

Pandangan Hukum Islam Terhadap Kasus Murtede alias Amaq Sinta

Islam jelas sekali mengharamkan membunuh jiwa kecuali dengan hak. Allah SWT berfirman yang artinya,

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (TQS al-Isrâ : 33).

Dalam ayat lain disebutkan Allah murka dan mengazab pelaku pembunuhan.

Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (TQS an-Nisâ` : 93)

Lalu bagaimana jika pembunuhan yang dilakukan tidak sengaja atau dalam keadaan terpaksa karena membela diri ketika mendapat serangan yang mengancam nyawa?

Allah menjelaskan dalam beberapa ayat yaitu Q.S. Al-Baqarah ayat 194 dan Q.S. Asy-Syura ayat 41 bahwa manusia dibolehkan membalas serangan dengan serangan yang seimbang. Pun tidak ada dosa bagi orang yang teraniaya untuk membela diri.

Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam sabdanya yaitu,

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud, Sunan Abi Daud, 4/246)

Ada seseorang yang menghadap Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan kau beri padanya.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?” Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.” ia balik bertanya “Bagaimana jika ia malah membunuhku?”. Beliau menjawab, “Engkau dicatat syahid”. ia bertanya kembali, “Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”. Beliau menjawab, “Ia yang di neraka”. (HR. Muslim, Shahih Muslim, 1/124).

Kesimpulannya bahwa pembunuhan yang dilakukan dengan motif pembelaan diri karena terancam nyawa, harta, atau kehormatan dan tidak ada acara lain untuk menghentikannya kecuali dengan tindakan yang dapat membunuh pelaku kejahatan tersebut, maka dimaafkan, tidak dikenai kisas dan diyat.


Oleh: Erlina YD
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar