Hanya dalam Demokrasi, Murtadin Bebas Melancarkan Hate Speech kepada Islam

TintaSiyasi.com -- Ulama terkemuka Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa, lidah orang cerdas itu berada di belakang akalnya, yang mana saat akan berbicara dia harus berpikir terlebih dahulu. Jika kata-kata itu bermanfaat dan membawa kebaikan maka dia akan mengatakannya, akan tetapi jika itu merugikan maka lebih baik ia diam. Sedangkan lisan orang bodoh itu berada di depan akalnya. Saat ingin mengatakan sesuatu, dia langsung mengatakannya tak peduli apakah bermanfaat atau tidak. Kurang lebih sama seperti hinaan keji yang dilakukan oleh seorang murtadin kepada umat Islam.

Beberapa waktu lalu, viral di berbagai pemberitaan terkait gugatan yang dilakukan oleh seorang pendeta murtadin. Adapun dari unggahan video tersebut, Abraham Ben Moses meminta kepada Menteri Agama agar menghapus 300 ayat di dalam Al-Qur’an. Katanya ayat-ayat tersebut dapat memicu radikalisme, sehingga harus dihapuskan. Sementara itu Dittipidsiber Bareskrim Polri mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pendalaman kasus. Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo (Liputan6, 16/3/2022).

Kemudian pernyataan berikut datang dari Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, yang bahkan telah meminta Polri guna menyelidiki tayangan video milik seorang pria atas nama Saifuddin Ibrahim alias Abraham Ben Moses. Menurutnya, pernyataan tersebut sangat meresahkan dan berpotensi  memecah belah umat beragama di Indonesia. Terlebih hal itu sudah masuk pada ranah penistaan agama, yang mana tindakannya dapat dipidana hukuman penjara lebih dari 5 tahun. Usut punya usut, ternyata sebelum itu, si pendeta pun pernah dijatuhi hukuman empat tahun penjara terkait hal serupa yaitu penistaan agama.

Ditegaskan pula oleh Pakar Hukum Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., bahwa kasus penghinaan terhadap agama merupakan kejahatan serius (serious crime). Sebab telah memenuhi dua alat bukti yakni; pertama ucapan yang menyatakan ”pesantren sumber radikalisme” dan ”penghapusan 300 ayat dalam Al-Qur’an. Tindakan tersebut dapat dijerat dengan PNPS UU No. 1 / 1965, UU ITE, KUHP pasal 156 dan 156 A.

Sayangnya, meski telah terpenuhi syarat dan hukum, di mana telah nyata-nyata melakukan ujaran kebencian (hate speech) kepada ajaran Islam, namun ternyata pemerintah hingga saat ini belum berhasil membekuk pelaku yang kini telah hengkang ke negeri Paman Sam.


Alam Demokrasi, Lahan Subur bagi Penistaan Agama

Menelisik kasus tersebut di atas, semakin menguatkan kita akan suatu fakta, bahwa ternyata alam demokrasi yang menjadi wadah hingga seseorang bebas melontarkan ujaran kebenciannya pada agama lain. Peristiwa ini pun terus-menerus berulang, tak menyisakan rasa jera bagi para pelaku.

Terlebih lemahnya penegakan hukum yang terjadi hari ini, negara pun terkesan kurang serius dalam penanganan kepada para pelaku penistaan agama. Padahal mereka telah terbukti menodai ajaran Islam, dan seharusnya diganjar secara tegas. 

Seperti kita ketahui bersama, bahwa sebelum ini pun telah ditemukan kasus serupa yaitu penistaan yang pernah dilancarkan oleh Kace dan juga Paul Zhang kepada agama Islam, akan tetapi hingga saat ini, apa sanksi tegas yang ditetapkan atas mereka? Malah penanganannya terkesan lambat dan bertele-tele.

Melihat lebih jauh lagi maka akan kita dapatkan sebuah analisis menarik terkait berbagai tindak pidana atas ujaran kebencian tersebut. Yang mana semua itu dipicu oleh sebuah persepsi yang salah terhadap syariat Islam. Pemahaman tersebut lahir atas upaya barat dalam rangka melanggengkan hegemoninya di kancah dunia. Untuk itu, dilancarkan berbagai agenda kotor guna mendeskreditkan agama Islam yang biasa dikenal dengan sebutan islamfobia. Yang mana agenda tersebut telah dicanangkan sejak 1980-an, kemudian menjadi masif setelah runtuhnya menara kembar (WTC dan Pentagon) 2001 lalu.

Dengan demikian, terdapat tiga faktor yang mendasari timbulnya islamfobia yaitu; adanya keyakinan dan persepsi yang salah, unsur kebencian, dan kesengajaan. Kemudian berkembanglah berbagai tindakan seperti penghinaan, penganiayaan, hingga penghilangan identitas, serta adanya kebijakan yang diskriminatif. Nasib umat Islam hari ini, persis seperti yang pernah dialami oleh baginda Nabi Muhammad SAW ketika mendakwahkan Islam di tengah-tengah kaum Quraisy.


Rangkaian Tindakan dan Fitnahan Keji pada Diri Kaum Muslim

Ketika suatu pemahaman yang salah terbentuk dalam masyarakat terlebih ditunjang oleh sistem yang mendukung, maka lengkap sudah. Ujaran kebencian pun tak terelakkan lagi. Alam demokrasi yang memberi ruang kebebasan berbicara, sehingga siapa pun berhak mengeluarkan pendapatnya tanpa berpikir terlebih dahulu. Kebebasan berbicara telah menjadikan seseorang melontarkan kalimat berdasarkan hawa nafsu semata, menuturkan ujaran kebencian serta melecehkan agama orang lain meski itu dapat menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

Adapun permintaan penghapusan 300 ayat dari Al-Qur’an, adalah sama dengan keinginan untuk merevisi Al-Qur’an itu sendiri. Sementara itu fatwa MUI menyampaikan bahwa penodaan terhadap agama adalah haram, salah satunya yaitu melecehkan serta merendahkan Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an adalah kitab suci yang bersumber dari Sang Khaliq, Allah SWT, Pencipta langit dan bumi yang tidak diragukan lagi keotentikannya. Sebab itu ketika ada seseorang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu keliru maka pastilah pendapat orang tersebut yang salah. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tepatnya surat Al-Kafirun ayat 6, yang merupakan dasar bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan agama lain. Ayat tersebut pun menjelaskan bahwa Islam menegasikan agama lain di luarnya. Namun bersamaan dengan itu pula, Islam tidak akan ikut campur terhadap agama-agama lain dalam hal keyakinan mereka. 

Sementara itu, Islam pun mengharamkan agama-agama lain untuk ikut campur dalam urusan akidah umatnya. Namun dalam bermuamalah Islam tetap membuka ruang  guna berinteraksi dengan agama-agama lain dalam rangka mencapai kemaslahatan hidup. Islam sama sekali tidak melarang muamalah, jual beli, atau transaksi lainnya dengan non-Muslim selama akadnya tidak bertentangan dengan syariat.


Perlu Solusi Islam untuk Mencegah Tindakan Tersebut Berulang

Kejadian yang menimpa umat Islam hari kini merupakan sunatullah yang akan terus terjadi, sebagai pertarungan antara haq dan batil. Persis seperti yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW dan juga para sahabat kurang lebih 14 abad yang lalu. Umat Islam akan senantiasa mengalami pendeskreditan baik secara psikis maupun fisik. Di mulai dari hinaan, caci maki, hingga pencitraburukan. Setelah itu akan ada lagi upaya penyiksaan dan penganiayaan, yang dilanjutkan pula dengan pemboikotan serta mengisolasi. Tak kurang sampai di situ, akan dilakukan pula teror serta pembunuhan, dan berakhir dengan peperangan dalam skala global (negara). Seperti yang kini dialami saudara Muslim kita di berbagai negara konflik, misalnya; Palestina, Rohingya, Syria, India, Uighur, dan lain sebagainya.

Tindakan-tindakan tersebut akan terus berlangsung pada diri umat Islam, hingga hari kiamat. Allah SWT berfirman:

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ’Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah 2: 120).

Untuk itu umat Islam harus sadar dan bangkit bersama, kemudian bersatu dalam satu kepemimpinan. Melakukan perubahan mendasar kepada umat, membongkar kedok penguasa tirani, mengoreksi berbagai kebijakan yang semakin menyengsarakan rakyat. Umat Islam pun wajib terus mendalami syariat secara kaffah, kemudian bergabung bersama dalam jamaah dakwah, melakukan amar makruf nahi mungkar, serta menghilangkan persepsi yang salah pun ucapan kebencian terhadap diri mereka.
Adapun upaya dalam skala yang lebih luas, adalah sebuah negara yang mengemban dakwah Islam ke segala penjuru dunia. Guna melawan dominasi AS yang selama ini senantiasa menancapkan pengaruhnya. Dilancarkan untuk menggagalkan kebangkitan Islam. Kewajiban ini merupakan bentuk dari amar makruf nahi mungkar dan dinaungi oleh Khilafah Islamiyah, serta mengikuti metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pertarungan ini adalah perlawanan secara ideologi antara demokrasi kapitalisme dan sosialisme komunisme melawan ideologi Islam.


Penutup

Dengan demikian pemerintah mesti segera menuntaskan kasus ujaran kebencian terhadap umat Islam, sebab kasus tersebut merupakan bagian dari serious crime. Kemudian sebagai aparat penegak hukum, hendaklah bertindak secara adil serta tidak menjadikan hukum layaknya pisau yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. 

Selanjutnya, menindaklanjuti urgensi dari perubahan sistemis dalam hukum, umat Islam harus senantiasa lantang dalam menyampaikan kebenaran, jangan pernah berhenti meski dalam perjalanannya akan kita temukan berbagai onak dan duri. Maksimalkan lagi upaya dakwah ideologis, untuk mengubah pemikiran umat dari keterpurukan menjadi kebangkitan. Bersatu dalam kepemimpinan tunggal Khilafah Islamiyah, yang akan senantiasa menjadi perisai pelindung bagi umat Islam khususnya dan juga manusia pada umumnya.

Sembari terus memperbaiki, melayakkan, dan berserah diri di hadapan Allah SWT, Rabb penguasa langit dan bumi. Memaksimalkan perjuangan dakwah secara pemikiran yang mengikuti metode Rasulullah SAW, dengan tanpa kekerasan. Sebagaimana firman-Nya;

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: 104).

Insyaallah, Allah SWT akan memenangkan umat Islam yang selalu berjuang menegakkan syariat-Nya. Sebab itu adalah sesuatu yang pasti, dan telah tercatat dalam kitab suci-Nya;

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur 24: 55).

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Rahmiani Tiflen, S.Kep
(Voice of Muslimah Malang)

Posting Komentar

0 Komentar