Generasi Gemilang Cermin Bangsa yang Bermartabat

TintaSiyasi.com -- Tawuran, kata ini tidak asing lagi di lingkungan masyarakat kita.Yang terbayang adalah adanya dua kelompok massa yang berseteru seperti antar warga, antar preman bahkan tawuran antara polisi dengan tentara.

Tetapi yang paling sering terjadi yaitu tawuran pelajar yang saling berseteru/bersaing tentang sesuatu yang terkadang sangat sepele. Motifnya bermacam-macam, ada yang saling ejek di media sosial, adanya dendam pribadi, berebut pacar dan lain-lain. Hal ini bukan saja terjadi di lingkungan perkotaan, melainkan sudah menjalar masuk ke dalam lingkungan daerah pedesaan, yang meliputi 11 provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara, NTT, NTB, dan Sumatera Selatan.

Tidak sedikit tawuran tersebut menimbulkan korban luka bahkan jiwa dari kedua belah pihak, karena dalam aksinya mereka membawa senjata tajam seperti sabit, pisau, gir sepeda motor. Mirisnya para korban tersebut masih di bawah umur.

Pihak kepolisian dan para guru juga kewalahan dalam mengatasi masalah tawuran antar pelajar ini. Selain adanya korban jiwa, fasilitas umum banyak yang rusak. Masyarakat yang berada di dekat lokasi tawuran juga tidak luput terkena sasaran aksi para pelajar seperti terkena lemparan batu.

Sebenarnya mereka paham bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah suatu  perbuatan yang terpuji, tetapi karena masing-masing individu/kelompok lebih mementingkan egonya, maka suasana tidak terkendali akhirnya terjadi. Komnas Perlindungan Anak Indonesia mencatat sepanjang tahun 2018 kasus tawuran 14 persen, tahun sebelumnya 12,9 persen, jadi ada peningkatan 1,1 persen dan itupun datanya belum sampai akhir tahun, ungkap Retno Listiyanti, Komisioner Bidang Pendidikan KPAI.

Apa yang terjadi pada para pelajar itu tidak sepenuhnya salah mereka, karena mereka sangat minim informasi, akibat dari sistem pendidikan yang tidak berorientasi pada akhlak dan ketauhidan kepada Allah SWT.  Para pelajar mendapatkan informasi yang salah, aktivitas yang semu, miskin manfaat, merusak diri dan masa depan, bahkan melanggar fitrah manusia. Akibatnya mereka terjebak dalam pergaulan bebas, karena tidak ada benteng iman sebagai imunitas ketika berinteraksi dengan dunia luar yang semakin liberal.

Keluarga yang minim akan ilmu agama juga berpengaruh terhadap akidah generasi Islam serta acuhnya masyarakat terhadap aktivitas para pelajar yang bebas dan liar dalam lingkungan mereka sehingga menimbulkan sifat seperti individualis, bukan urusan saya, hedonis dan lain-lain.

Islam sangat memperhatikan tentang hal ini, keunggulan generasi Muslim tidak lepas dari keunggulan sistem Islam itu sendiri. Sistem Islam memiliki metode yang khas dalam pembelajaran yang tidak dimiliki sistem manapun. Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk pola pikir dan pola sikap yang Islami yang tidak dimiliki dalam sistem pendidikan kapitalisme. Dengan menerapkan metode Islam dalam pembelajaran inilah, wajar jika akhirnya lahir generasi unggul yang diakui oleh bangsa manapun.

Sebut saja Ibnu Sinai, selain ahli Fikih, beliau juga terkenal sebagai Bapak Kedokteran. Buku Al-Qanun fi ath-Thibb merupakan ensiklopedia ilmu kedokteran dan ilmu bedah terlengkap yang menjadi referensi utama pada fakultas kedokteran di berbagai universitas di Eropa hingga abad ke-14. Al-Khawarizmi, berhasil membuat peta bumi sekaligus peta laangit ketika pada saat yang sama bangsa Eropa masih meyakini bahwa bumi itu datar. Beliau juga merupakan pakar matematika dan Aljabar. Masih banyak ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terkenal hasil dari buah pendidikan yang benar.

Para ilmuwan itu selain ahli dalam bidang keilmuannya, mereka juga ahli dalam bidang agama, karena kurikulum pendidikan dalam Islam wajib berlandaskan akidah Islam. Pendidikannya adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Tsaqofah Islam harus diajarkan di semua tingkat pendidikan. Untuk tingkat perguruan tinggi hendaknya diadakan/dibuka berbagai jurusan dalam berbagai cabang ilmu keislaman, di samping diadakan jurusan lainnya seperti kedokteran, teknik, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya.

Pengajaran hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar menengah. Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Dan kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin.

Yang. membedakan lagi, pendidikan dalam Islam, ketika seorang Muslim mempelajari sesuatu terlebih tsaqofah Islam, ia dituntut untuk mengambilnya secara praktis untuk diterapkan dalam kancah kehidupan. Ia akan mengambil hakikat yang ada dalam alam semesta, manusia dan kehidupan yang berada dalam jangkauannya atau yang bisa terjangkau panca indranya. Kemudian fakta tersebut ia pelajari dalam rangka memecahkannya, serta memberikan ketetapan terhadap fakta tersebut. Berbeda dengan sistem kapitalisme, yang metode pembelajarannya hanya bersifat teoritis dan sekadar transfer ilmu saja, tidak memberikan pengaruh apapun terhadap kehidupan, hanya sekadar informasi ilmu saja dan manfaatnya hanya bersifat individu.

Out put pendidikan yang berlandaskan Islam, menghasilkan generasi yang peka, pemikirannya mendalam sehingga mampu memecahkan segala problematika kehidupan, menjadi pribadi yang tangguh, memegang Islam sebagai ideologinya dan mampu menerapkan semua ilmu yang dipelajarinya.

Keluarga dibekali dengan tsaqofah Islam yang sangat bagus, sehingga pelajar selain mendapatkan pembelajaran di sekolah, di rumah pun mendapat benteng keimanan, serta ada kepedulian dalam lingkungan masyarakat terhadap tumbuh kembang generasi Islam.

Dengan penerapan pendidikan secara islami, generasi cemerlang dan tangguh akan tercipta. Bukan hanya memiliki tsaqofah Islam yang memadai tetapi mereka memiliki ketinggian ilmu. Inilah yang akan menjadi bekal untuk mengarungi kehidupan dalam situasi sulit ataupun lapang. Sistem pendidikan seperti ini hanya akan terwujud dalam sistem khilafah yang akan menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Tutik Indayani
Pejuang Pena Pembebasan

Posting Komentar

0 Komentar