Tiga Seni Menata Pernikahan

TintaSiyasi.com -- Mohon maaf kalau saya katakan bila pernikahan tidak cukup hanya modal cinta dan semangat. Ada yang harus disiapkan saat menghadapi pernikahan. Apa saja itu? Pernikahan membutuhkan life skill, dengan pondasi iman dalam bingkai kasih sayang. Ketika pernikahan mulai mengarungi samudera waktu, keterampilan-keterampilan itu semakin penting untuk dinaikkan levelnya.

Kesalahan elementer yang dilakukan banyak pasangan adalah membiarkan pernikahan berjalan alami, tanpa pembelajaran dan usaha meningkatkan keterampilan merawat cinta dan kasih sayang. Ketika konflik terjadi dan berujung pada perceraian tak sedikit yang kemudian saling menyalahkan pasangannya. Padahal seperti kata seorang penasihat pernikahan; untuk mempertahankan pernikahan membutuhkan kerjasama dua belah pihak, tapi untuk menghancurkannya cukup oleh satu orang saja. Kesimpulannya, baik suami maupun istri harus sama-sama meningkatkan keterampilan mengelola pernikahan.

Berikut ini tiga keterampilan yang wajib dimiliki dan ditingkatkan oleh pasangan suami istri.

Pertama, seni mengalah. Hidup bersama itu bukan untuk menang-menangan, tapi untuk menjalin kebersamaan, dan untuk bisa hidup bersama adalah harus berusaha mencari kesepakatan. Untuk bisa demikian, adakalanya kita mengalah pada pasangan, bersepakat, dan ikhlas menjadikan pendapatnya sebagai keputusan bersama.

Urusan yang tidak prinsipil adalah hal-hal yang tidak perlu dirundingkan dengan urat leher yang kencang atau suara meninggi. Santai saja. Dan terima pendapat si dia, coba dengan perasaan riang, siapa tahu usulannya bila dicoba ternyata fun.

Kedua, seni mendengarkan. Allah SWT berikan kita satu lisan dan dua telinga, pasti bukan tanpa tujuan. Allah inginkan kita lebih banyak menyimak ketimbang bicara.

Sayang kita kerap tidak memahami tujuan ini, jadilah kita sosok yang ingin didengarkan dan bukan sebagai pendengar yang baik.

Saat pasangan tak mau kalah saat bicara, itu sudah masuk siaga dua. Begitu jadi pertengkaran itu siaga satu. Tapi satu pihak mulai diam dan mau menyimak, tensi ketegangan dan ancaman akan turun.

Keterampilan mendengarkan di sini maksudnya adalah menyimak dengan segenap hati dan pikiran. Imam Ali bin Abi Thalib ra berpesan;

من احسن الاستماع تعجل الانتفاع

Siapa yang paling baik dalam menyimak, niscaya paling cepat mendapatkan manfaat.

Simak baik-baik saat si dia berbicara atau mungkin marah dan kecewa. Jangan reaksi berlebihan apalagi over react alias baper. Apalagi nge-judge kalau si dia bermaksud ‘menyerang’ teritori kita. Dengarkanlah baik-baik, sepenuh hati, dan penuh prasangka baik.

Ketiga, seni memberikan uzur. Apa yang bisa membuat hubungan kita dengan pasangan mudah meledak? Itu karena kita mudah men-judge si dia, termasuk dengan prasangka buruk. Menjalin dan menata relasi dengan pasangan itu rumit dan unik, karena memang manusia itu bukanlah makhluk statis. Kita selalu dinamis menghadapi persoalan yang sering unpredictable. Tak bisa diterka. Saat kita sudah berjanji akan mengantar istri makan malam, eh tahu-tahu ada lembur mendadak yang harus diselesaikan. Saat kita harap istri bisa maklum, dia malah ngambek. Hidup itu memang unik.

Pada saat macam begini, agama punya tuntunan terbaik; berikan uzur pada pasangan. Uzur artinya adalah alasan yang membuat si dia tak bisa melakukan sesuatu. Dalam agama, kita diminta untuk selalu berusaha menemukan uzur pada saudara kita sehingga kita dapat memakluminya. Nabi SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ الْمَعَاذِيْرَ

"Seorang Mukmin adalah orang yang mencari uzur-uzur (bagi saudaranya)."

Memberi atau mencari uzur pada si dia, sama artinya kita berusaha terus berprasangka baik padanya. Ja’far bin Muhammad ra berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah uzur sampai 70 uzur. Bila kamu tidak mendapatkan uzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai uzur yang aku tidak ketahui.” (HR Al Baihaqi).

Saat pasangan melakukan hal yang membuat kita tersinggung atau marah, tetaplah berkepala dingin. Carilah uzur untuk memaklumi keadannya. Amarah bisa reda, hubungan mesra tetap terjaga. []


Oleh: Ustaz Iwan Januar
Pakar Parenting Islam

Posting Komentar

0 Komentar