Tarif Listrik Naik, Rakyat Makin Tercekik

 
TintaSiyasi.com -- Dari masa ke masa kehidupan rakyat semakin jauh dari kesejahteraan, kebutuhan pokok semakin melambung tinggi sedangkan penghasilan rakyat tidak mengalami kenaikan, cenderung terus menurun akibat pandemi yang belum juga sirna. Di akhir tahun hingga awal tahun rakyat hanya diberi kado pahit oleh para pemangku kebijakan. Dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seperti telur, ayam, cabai, minyak goreng, dan lain sebagainya. Harga minyak goreng yang mencapai Rp18.000 per liter semakin menambah panjang penderitaan rakyat.

Kini rakyat dibuat panik dengan adanya wacana kenaikan listrik yang sedang dirancang pemerintah. Rakyat semakin tercekik oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah, padahal kehidupan rakyat sudah sangat sulit dari hari ke hari. Di mana hati nurani pemerintah, apakah mereka tidak peduli, sehingga begitu tega membuat rakyat terus menderita? Apakah rakyat tidak berhak menerima jaminan kesejahteraan dari negara? 

Dikutip dari cnbcindonesia.com (26/01/2022), Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan, mengenai tarif listrik non subsidi yang masuk ke dalam tarif adjusment di tahun 2022 sesuai dengan keputusan pemerintah. Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2017 pemerintah telah menahan tarif adjusment. Alhasil, tarif listrik untuk non subsidi tidak mengalami kenaikan. Dengan demikian pemerintah berencana untuk melepas kembali tarif adjsument di tahun ini. Sehingga akan ada kenaikan tarif listrik nonsubsidi ketika tarif adjusment itu dilepas.

Ada empat parameter yang mengikuti tarif adjusment. Pertama, parameter ekonomi makro rata-rata per tiga bulan, kedua, realisasi kurs Rupiah, ketiga, Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 47,21 US$/Barrel, dan yang keempat, tingkat inflasi dan Harga Patokan Batubara (HPB).

Pada Rabu (26/1/2022), dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR, Dirut PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, "Kami hanya sebagai operator. Apakah yang non subsidi akan menggunakan kompensasi ditanggung pemerintah atau tarif adjusment. Ketika dilepas, maka akan ada kenaikan tarif berdasarkan 4 parameter tersebut. Keputusan ini tentu bukan di PLN". Benarkah tarif listrik tidak mengalami kenaikan sejak tahun 2017?

Padahal masih hangat dalam ingatan, saat awal-awal pandemi menimpa negeri sekitar bulan Juni 2020, masyarakat dibuat kaget oleh tarif listrik yang tiba-tiba melonjak, kenaikan listrik saat itu mencapai tiga kali lipat dari biasanya. Meskipun PT PLN (Persero) telah mengklarifikasi bahwa tarif listrik tidak ada perubahan. 

Namun faktanya masyarakatlah yang merasakan dan membayar tagihan listrik dengan kenaikan yang sangat fantastis. Padahal masyarakat mengalami kesulitan ekonomi akibat PSBB yang diberlakukan saat itu. Sehingga beban hidup masyarakat bertambah besar. Walaupun ada sebagian masyarakat yang menerima subsidi listrik, subsidi listrik ini pun tidak merata dan masih salah sasaran sebagaimana yang terjadi pada penyaluran bansos.

Sebelumnya, Dirjen Ketenagalistrikan melalui Kementerian ESDM, Rida Mulyana menyampaikan akan menyesuaikan atau menaikkan tarif listrik untuk pelanggan nonsubsidi (tariff adjustment) paling cepat pada kuartal III-2022 atau bisa dimulai pada Juli 2022. Sesuai dengan kesepakatan dengan Badan Anggaran DPR RI, penyesuaian tarif listrik di tahun ini akan ditinjau dalam kurun waktu maksimal enam bulan. Penyesuaian tarif pun, akan bersifat situasional tergantung faktor lainnya. Rida pun menegaskan, adanya rencana penyesuaian tarif listrik bukan berarti pemerintah dan DPR berniat untuk mengurangi subsidi, melainkan mendorong agar pemberian subsidi lebih tepat sasaran. Benarkah demikian halnya, lantas apakah regulasi ini dapat terealisasi?

Mengingat fakta di lapangan subsidi listrik masih menyisakan banyak kegagalan. Selain itu kenaikan listrik sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat, meski kenaikan tarif hanya diberlakukan pada pelanggan tertentu. Sejumlah industri yang menggunakan listrik sebagai tenaga penggerak, tentu saja akan berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas barang yang dihasilkan. 

Kenaikan tarif dasar listrik, secara tidak langsung berdampak pada kenaikan harga barang. Hal ini yang akan memberatkan masyarakat, terutama sekali rakyat kecil. Ketika harga sembilan bahan pokok naik, tentu akan diikuti kenaikan bahan-bahan sekunder lainnya. Sehingga kenaikan ini sangat membebani dan mencekik rakyat.

Agus Kiswantono, Direktur Forum Kajian Kebijakan Energi Indonesia (FORKEI), mengkritisi rencana pemerintah menaikkan tarif listrik. Memurutnya, reorientasi atas regulasi listrik dari business-oriented atau swastanisasi menjadi pelayanan untuk rakyat sangat penting dilakukan pemerintah. Karena jika tidak dilakukan, akan menimbulkan masalah yang besar. Indonesia memiliki potensi alam yang sangat kaya dan beragam, diantaranya material yang ada di perut bumi seperti batu-bara, gas, minyak dan lainnya. Selain itu Indonesia sebagai negara khatulistiwa, selama 1 tahun ini sorot mataharinya sangat luar biasa. Sehingga bisa dikonversi menjadi energi listrik. Penentuan patokan tarif listrik jika hanya berdasarkan kenaikan minyak dunia sangatlah kurang bijaksana. Seharusnya ada reorientasi terkait suplai listrik yang dikaitkan dengan kekayaan material yang ada di Indonesia.

Bila kita cermati, akar permasalahan dari mahalnya tarif listrik ialah penerapan sistem kapitalisme liberal. Sistem ini meniscayakan kebebasan dalam kepemilikan sehingga peran negara sangat terbatas, tidak lebih sebagai regulator dan fasilitator saja karena semuanya diserahkan pada mekanisme pasar. 

Adapun tingginya tarif listrik ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menyerahkan pengelolaan listrik dan sumber energinya yakni migas dan batu bara kepada pihak swasta maupun asing. Sehingga hasilnya tidak dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Melainkan pihak swasta maupun asing mengambil keuntungan darinya.

Indonesia sebagai negara khatulistiwa memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan beragam. Energi primer yang beragam tersebut dapat dikonversi ke energi listrik. Dengan demikian, seharusnya pemerintah tidak perlu menaikkan tarif listrik. Bahkan, masyarakat tidak perlu membayar mahal untuk listrik.

Hal itu dapat terjadi jika pemerintah sebagai regulator tidak menerapkan untung rugi kepada rakyatnya sendiri. Dengan berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki, negara seharusnya mengelola sumber daya alam yang melimpah dan beragam itu untuk memakmurkan rakyat. Bukan sebaliknya, pengelolaan sumber daya alam diberikan kepada pihak swasta maupun asing. 

Sehingga sampai kapan pun rakyat tidak akan pernah menikmati listrik murah apalagi gratis. Karena regulasi yang ada hanya menguntungkan pihak swasta maupun asing. Kapitalisme liberal membuat rakyat semakin jatuh miskin sedangkan pengusaha baik swasta maupun asing semakin kaya. 

Berbeda dengan Islam, Islam memandang listrik sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat. Maka negara akan memberikan secara gratis. Selain itu listrik juga dipandang sebagai bagian dari kepemilikan umum yang seharusnya tidak diperdagangkan oleh negara terhadap masyarakatnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Kaum Muslim berserikat atau memiliki hak yang sama dalam tiga hal yaitu, air, rumput, dan api." (HR Ibnu Majah). Rasul SAW juga bersabda, "Tiga hal yang tak boleh di monopoli yaitu, air, rumput, dan api." (HR Ibnu Majah).

Dengan demikian hanya Islam sebagai ideologi yang sempurna. Selain sebagai agama, Islam mampu mengatur segala aspek kehidupan manusia. Sumber daya alam yang sejatinya milik umum, pengelolaannya hanya oleh negara untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyat. Sehingga kemakmuran dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Kemakmuran dan kesejahteraan yang hakiki hanya dapat terwujud dalam sebuah sistem yang sahih yang bersumber dari Sang Pencipta, yakni sistem Khilafah Islamiyah. Sistem yang akan mampu menerapkan aturan Islam secara mendasar dan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga tercipta negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Sri Haryati
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar