Rajab, Bulan Mengoptimalkan Generasi Tangguh Pejuang Peradaban Islam

TintaSiyasi.com -- Dalam kalender hijriah, Rajab merupakan bulan ketujuh. Kata Rajab sendiri berasal dari Bahasa Arab yang artinya “keagungan, kebesaran atau kemuliaan”. Dengan demikian, Rajab merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sungguh bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan, dalam catatan Allah, saat Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan itu.” (QS At-Taubah [9]: 36).

Dalam kitab Zaadul Masiir tentang tafsir surat at-Taubah ayat 36, diterangkan bahwa Allah SWT melarang kita melakukan perbuatan haram, menzalimi diri sendiri apalagi pihak lain di bulan suci ini. Ini karena bulan tersebut amat mulia. Pada saat yang sama, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan (kumparan.com, 15/02/2021). Imam al-Baihaqi juga menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan haram tersebut termasuk pada bulan Rajab ini lebih besar. Begitupun pula amal saleh dan pahalanya (yang dilakukan pada bulan haram tersebut) juga sangat besar (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III/370).

Rajab juga merupakan bulan pengampunan, sehingga umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak istighfar. Sebagaimana Imam Ja’far ash Shadiq meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Rajab adalah bulan pengampunan bagi umatku, maka perbanyaklah beristighfar di bulan ini, karena Ia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Bulan Rajab dijuluki dengan al-Ashab (pelimpahan) karena pada bulan ini rahmat Allah dilimpahkan kepada umat-Ku, karena itu perbanyaklah mengucapkan Astagfirullah wa as’aluhu al-taubah yang artinya “aku memohon ampun kepada Allah dan aku meminta kepada-Nya agar diterima taubatku.

Selain itu terdapat pula peristiwa besar Isra’ Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab, tepat pada tahun 10 kenabian. Rasulullah SAW menempuh perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di al-Quds, Palestina. Hingga menembus lapisan langit yang tidak bisa dijangkau oleh semua makhluk, malaikat, jin, dan manusia dalam waktu satu malam. Nabi Muhammad SAW melihat bukti-bukti kebesaran Allah SWT seperti sosok dajjal dan siksaan-siksaan yang spesifik sesuai dosa yang dilakukan seseorang di dunia. Misalnya seperti azab bagi orang-orang yang suka membicarakan orang lain mereka mempunyai kuku yang tajam dari tembaga dan mereka mencakar-cakar wajahnya sendiri. Di Baitul Maqdis Nabi Muhammad SAW juga mendirikan shalat dengan Nabi-Nabi Allah yang lain. Mereka dibangkitkan dan dikumpulkan. Setelah melihat penyiksaan dan azab, Nabi Muhammad menyaksikan kenikmatan surga, semua keindahan surga juga terlihat jelas. Peristiwa tersebut tentu berada di luar nalar manusia namun, tiada yang mustahil jika Allah SWT berkehendak.

Momen persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar juga terjadi di bulan Rajab. Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Sejak itu seluruh hukum syariah pun bisa diterapkan secara keseluruhan. Menjaga kesucian darah, harta, dan jiwa.                          
     
Banyak peristiwa luar biasa menggetarkan jiwa di bulan ini. Namun, bulan Rajab juga menyimpan sejarah penting yang menjadi nestapa dunia saat ini yakni the fall of khilafah. Tragedi penghapusan Khilafah Utsmaniyah yang terjadi pada tanggal 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924) menandai sekularisasi di dunia Islam dan juga menandai dimulainya penderitaan kaum Muslim di seluruh dunia hingga hari ini. Tepat 101 tahun. 

Oleh karenanya, sudah sepatutnya pemuda, para pemimpin perubahan mengoptimalkan perannya dalam melanjutkan kehidupan Islam ini memperjuangan kembali aturan-aturan Islam sebagai bentuk konsekuensi keimanan kita. Sebagaimana Allah SWT memfirmankan, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208). Kita harus berhijrah secara totalitas, tidak parsial karena ridha Allah SWT yang kita tuju. Dengan cara belajar hakikat ideologi Islam sebenarnya yang memiliki fikrah dan thariqah yang shahih. Karena akar permasalahan hari ini terletak pada sistem kapitalisme sekuler maka tidak ada jalan lain selain meninggalkan sistem kapitalisme dan beralih pada sistem kehidupan Islam. 

Kunci sukses perubahan itu dimulai dengan meneladani perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menegakkan Daulah Islam. Karena keyakinan mereka akan janji Allah SWT tersebut memampukan tekad mereka menegakkan syariah Allah dalam naungan Khilafah Islamiyah yang nantinya mampu menyelesaikan persoalan umat di setiap sendi kehidupannya. Bagaimana cara mereka melanggengkan dakwah hingga mencetak kepemimpinan pemerintahan Islam? Secara umum ada tiga langkah yang merupakan satu kesatuan manhaj, yaitu:

Pertama. Beliau melakukan pembinaan secara intensif dan berkelanjutan (At tarbiyah al-istimroriyah) dalam membangun interaksi ideal antara fitrah (jiwa, akal, hati) yang dapat memunculkan pemikiran yang sesuai dengan sistem Islam. Pada saat itu, setelah Rasulullah berhasil mengislamkan orang-orang terdekatnya rumah Arqam bin Abi Arqam yang menjadi pusat dakwah umat Muslim untuk melakukan pertemuan. Mereka menyelenggarakan halaqah-halaqah secara rutin di tempat tersebut.

Maka ketakwaan individu sangat diperlukan dalam melakukan perubahan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah at Tahrim ayat 6. Karena para sahabat dahulu selalu menghiasi diri mereka dengan ketakwaan individu dan senantiasa menyibukkan diri mereka dalam taqarrub kepada Allah SWT. sudahkan kita memahami Islam secara menyeluruh dan berusaha menerapkan pada aspek-aspek yang bisa kita terapkan? Mari kita evaluasi diri kita masing-masing, sudah seharusnya kita belajar Islam secara menyeluruh dan berusaha menerapkan dalam setiap aspek kehidupan termasuk mendakwahkannya kepada yang lain.

Kedua. Membangun semangat pembinaan bersama masyarakat (tafa’ul ma’al ummah). Proses tarbiyah beliau terapkan dalam bingkai jama’ah secara konsisten. Seperti halnya ketika Rasulullah berhasil membentuk negara Islam di Madinah beliau langsung meletakkan asas-asas penting bagi masyarakat disana. Diawali dengan menyatukan sahabat Anshar dan Muhajirin kemudian melaksanakan pembangunan masjid. Karena itulah, sampai sekarang masjid menjadi asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam.  Melalui proses secara berjamaah inilah nilai-nilai yang ditanam tumbuh mengakar menjadi wujud yang kongkrit. 

Harus ada pendidikan islami dan dakwah islami di tengah masyarakat. Dahulu pada masa Rasul dan Khulafa’ al Rasyidin pendidikan telah menjadi perhatian utama sejak masa awal berkembangnya Islam. Rasulullah mengajarkan dasar-dasar agama Islam secara langsung kepada kaum Muslim dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya. Tempat pembelajaran yang digunakan oleh Rasul pada saat itu adalah rumah sahabat al Arqam bin Abi Al Arqam dan Kuttab. Setelah hijrah ke Madinah tempat pembelajaran bagi kaum Muslim adalah Masjid, Sufah, dan Kuttab.

Ketiga.  Melakukan dakwah dengan tujuan jihad di jalan Allah (Ad-Dakwah ilallah wal Jihad fii Sabilillah). Proses pembinaan, tarbiyah dan berjamaah tidak akan sempurna bila tidak diletakkan dalam konteks dakwah dan Jihad. Semangat egoisme, kepentingan pribadi, materialisme mampu dikalahkan dengan penegakan nilai-nilai Ilahiyah. Ridha Allah dan surgalah yang tertancap dalam hati, visi mereka bukan hawa nafsu belaka. Sehingga mampu melanggengkan dakwah bagi kehidupan mereka dan yang lainnya. Memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam naungan khilafah sembari harus belajar Islam.

Sejarah membuktikan bahwa semua pencapaian kaum Muslim yang paling besar dicapai ketika kaum Muslim berada di dalam kesatuan dalam kepemimpinan khilafah. “Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya.” (HR. Bukhari). Jadi pilar terkuat pelaksanaan ideologi Islam adalah dengan adanya sebuah negara dalam melaksanakan seluruh aturan dalam kehidupan termasuk syariat Islam nantinya. Misalkan, untuk menjauhi/menghindari riba kita butuh aturan negara untuk mengharamkan riba. Coba bayangkan kalau misalnya riba diharamkan, ada enggak orang yang masih berani menggunakan riba? Termasuk juga dalam aspek pergaulan, kalau negara menerapkan bahwa hubungan biologis antara laki-laki dan perempuan hanya boleh dalam lingkup pernikahan, adakah yang berpacaran? Menjadi pelakor?  Dan kerusakan-kerusakan lainnya? Sungguh kita membutuhkan aturan tegas dari negara.

Begitu adilnya gambaran peradaban Islam. Namun, saat ini kita sedang menggunakan cara pandang ideologi kapitalisme maka, idelogi Islam jelas merupakan ancaman baginya. Sebab ideologi kapitalisme bertumpu pada ide dasar sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Maka bagi ideologi kapitalisme, agama adalah masalah pribadi antara individu dengan Tuhannya. Agama tidak dibenarkan turut campur dalam pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Karenanya, Islam dalam bentuk ideologi jelas merupakan ancaman terhadap eksistensi sekularisme, dasar kapitalisme. Sebab Islam dalam bentuk ideologi berarti mengharuskan adanya peran agama (Islam) dalam seluruh tatanan aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tanpa kecuali.

Menghadapi ancaman ini, para penganut kapitalisme melakukan berbagai langkah, antara lain, melakukan manipulasi dengan menyebarkan opini bahwa Islam adalah agama ritual saja, bukanlah ideologi. Islam diilusikan seperti agama Kristen atau Katolik yang harus terlepas dari kekuasaan dan pemerintahan.

Memandang Islam sebagai ideologi, kata mereka, adalah suatu apologi yang muncul karena perasaan inferior di bawah dominasi dan imperialisme Barat. Dikatakan pula bahwa konsep kenegaraan dalam Islam itu sebenarnya tidak ada, karena dalam Al-Qur`an tidak ada kata “dakwah” (negara) atau khilafah (sistem pemerintahan). 

Benarkah Islam ideologi adalah sebuah ancaman?

Menurut Islam itu sendiri, jelas tidak. Bahkan ia adalah sebuah harapan, ketika saat ini umat Islam berada dalam ketertindasan akibat kapitalisme. Lebih dari itu, ideologi kapitalisme yang diterapkan kini bukan sekadar ancaman, tapi sudah menjadi bahaya nyata yang menyengsarakan umat Islam.

Islam ideologi adalah sebuah penegasan  identitas, dan  revitalisasi Islam yang mutlak adanya, setelah sebelumnya Islam mengalami reduksi hanya sebagai “agama” dalam pengertian Barat. Jadi, dengan kata "ideologi Islam”, sebenarnya dimaksudkan agar Islam kembali menempati posisinya yang layak yang telah ditetapkan Allah baginya. Yaitu sebagai. penuntun dan pengatur segala urusan hidup manusia secara utuh dan menyeluruh (kaffah). Jelaslah, Islam ideologi adalah penegasan identitas yang justru menjadi tuntutan saat ini. Islam ideologi bukan ancaman bagi umat Islam. 

Menerapkan ideologi Islam merupakan kewajiban bagi seluruh kaum Muslim, di manapun dan siapapun yang masih di bumi Allah. Sehingga memang harus untuk berupaya mewujudkan penerapan kembali syariat Islam dengan thariqahnya yaitu Khilafah Islamiyah. This is janji Allah akan datang kembali masa kekhilafahan ‘ala minhaj nubuwwah, artinya kelak akan ada lagi khilafah sebagaimana khilafahnya khulafaur rasyidin dulu. Dalam sejarah khilafah, khilafah mampu menaungi umat yang multikultural tidak hanya Islam tetapi Nasrani dan lain-lain.

Sesungguhnya ideologi Islam harus sesegera mungkin tampil di panggung kehidupan manusia untuk menyelamatkan umat dari jurang penderitaan dan gelimang kesengsaraan yang nyaris tanpa batas. Kemunculannya adalah suatu keniscayaan, karena kemenangan Islam telah menjadi janji Allah dan Rasul-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman dan ikhlas beramal shalih. Namun, umat Islam tidak berarti hanya bertopang dagu dan ongkang-ongkang kaki menunggu kemenangan Islam tersebut. Justru kita wajib berjuang bahu-membahu satu sama lain, dengan mengerahkan segala daya dan upaya, agar ideologi-ideologi kafir segera punah dari muka bumi dan agar ideologi Islam kembali meraih keunggulan dan kejayaan untuk tampil di tengah kehidupan umat manusia, walaupun orang-orang kafir membencinya.

Allah SWT berfirman, “Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka. Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash Shaff : 8).

Begitulah gambaran Islam kaffah dalam sebuah peradaban Islam, dalam sebuah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Sudah saatnya kita para pemuda yang ingin mewujudkan peradaban Islam itu terwujud kembali merapat dengan tongkrongan yang mengajak pada ketaatan bukan tongkrongan kemaksiatan. Dengan menghadiri majelis ilmu, terutama majelis ilmu keislaman sebagai kiat kita untuk meneladani pemuda-pemuda hebat di zaman old seperti Imam Bukhari, Muhammad Al Fatih, dan lain sebagainya. Karena dengan itulah kita akan bangga sejajar dengan pemuda zaman generasi terbaik dahulu di hadapan Allah SWT kelak.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Nurul Izzah
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar