NFT dan Cryptocurrency dalam Perspektif Islam

TintaSiyasi.com -- Beberapa waktu lalu, jagad media sosial dihebohkan dengan Ghazali Everyday yang meraup miliaran rupiah setelah menjual foto selfienya sebagai NFT. Tak ayal, kosa kata NFT beserta cryptocurrency menjadi trending topik di platform Twitter saat itu. Warganet mulai memperbincangkan  NFT sebagai pilihan baru sumber penghasilan yang mudah dan tidak ribet. Cryptocurrency, alat pembayaran NFT, turut serta menjadi bahasan. Namun, apa sebenarnya NFT dan cryptocurrency? Dan bagaimana kita, sebagai seorang Muslim, melihatnya dari kacamata syariat?

NFT (Non-Fungible Token) adalah unit data unik dan tidak dapat dipertukarkan yang disimpan di blockchain yang mendukung cryptocurrency (tirto.id, 27 Desember 2021). Mudahnya, NFT adalah aset digital yang unik dan hanya dimiliki oleh satu orang dalam suatu periode waktu. NFT memberikan sertifikat keaslian atau bukti kepemilikan publik, tetapi tidak membatasi pembagian atau penyalinan file digital yang mendasarinya (tirto.id, 27 Desember 2021), sehingga pada dasarnya NFT memperjualbelikan bukti kepemilikan. NFT lahir pada tahun 2014 untuk memfasilitasi seniman agar karyanya tidak mudah diduplikasi. Keamanan kepemilikan karya dijamin dengan blockchain, sehingga tidak dapat dimodifikasi dan disalin.

Lalu, apa hubungannya dengan cryptocurrency? Di dalam proses penjualan NFT, seniman perlu bertautan dengan dompet crypto yang mendukung dan membeli beberapa cryptocurrency, seperti Ether, misalnya. Dalam hal ini, cryptocurrency berfungsi sebagai mata uang dalam jual beli NFT.

Cryptocurrency sendiri adalah mata uang digital atau uang digital yang tersedia hanya dalam bentuk visual, dan tidak tersedia dalam bentuk fisik. Pertukarannya disebut sebagai transaksi ‘peer-to-peer’ yang artinya tidak ada bank atau pihak ketiga lain yang terlibat. Cryptocurrency tidak memiliki otoritas penerbit pusat seperti bank atau pemerintah, transaksi dilakukan secara anonim dan diamankan dengan teknologi blockchain (Kompas.com). Dewasa ini, uang crypto banyak dijadikan obyek investasi oleh kawula muda, meski dapat pula dijadikan sebagai alat tukar untuk barang dan jasa. Kini uang crypto banyak dianggap sebagai terobosan baru dalam pertukaran uang yang aman dan banyak diiklankan oleh influencer tanah air.

Cryptocurrency memiliki volatilitas (naik turunnya nilai dalam suatu periode waktu tertentu) yang tinggi. Bitcoin (salah satu jenis cryptocurrency) pernah mengalami kenaikan menjadi Rp 555 juta setelah Elon Musk mengumumkan bahwa Tesla menerima uang crypto. Namun, harga Bitcoin turun sekitar 5 persen hanya dalam hitungan menit setelah Tesla memutuskan untuk berhenti menerima Bitcoin. Cryptocurrency menciptakan ruang besar untuk gambling (perjudian) dan fraud (penipuan) karena sifatnya yang spekulatif dan tidak adanya otoritas resmi.

Dari sisi lingkungan, cryptocurrency dikabarkan menghabiskan banyak energi dan merusak lingkungan. Hasil kalkulasi CBEIC, alat untuk memperkirakan penggunaan energi Bitcoin yang ditemukan oleh peneliti dari Universitas Cambridge, menunjukkan bahwa jaringan Bitcoin mengonsumsi lebih dari 7 gigawatt listrik, yang berarti Bitcoin menyerap 0,25 persen konsumsi elektrik dunia (The Verge via TeknoLiputan6.com).

Syariat melarang penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang. Terdapat dalil syara’ tentang larangan jual beli sesuatu yang gharar, yang salah satunya adalah keharaman jual beli yang majhul (tidak jelas). Selain itu, Syekh Atha Abu Rasytah, seorang mujtahid, mengeluarkan ijtihadnya tentang mata uang. Sebuah mata uang harus memenuhi syarat untuk dapat dianggap sebagai mata uang. Syaratnya antara lain:

Pertama. Harus merupakan standar untuk barang dan jasa, yakni bahwa padanya terpenuhi ‘illat moneter pada waktu itu sebagai harga dan upah. Artinya mata uang tersebut dapat dipakai untuk menilai suatu barang dan jasa.
Kedua. Harus dikeluarkan oleh otoritas yang diketahui, misalnya negara dan bank sentra, dan bukannya otoritas yang majhul (tidak diketahui).
Ketiga. Mata uang harus tersebar luas di tengah masyarakat dan bukannya khusus pada satu kelompok dan tidak pada yang lain. 

Cryptocurrency tidak memenuhi ketiga syarat tersebut, sehingga tidak dapat disebut sebagai mata uang. US Treasury mengategorikan crypto sebagai komoditas, sehingga tidak bisa disebut sebagai mata uang. The People’s Bank of China pun menyatakan bahwa crypto, secara fundamental, bukanlah mata uang, melainkan target investasi. Joseph Stiglitz, seorang pemenang nobel ekonomi, turut mengatakan bahwa Bitcoin tidak memberikan manfaat sosial yang berguna dan hanya terkenal karena potensinya untuk melakukan penipuan (CNN Money, 3 Desember 2017).

Begitulah, dunia kapitalisme membuka seluas-luasnya jalan untuk meraup keuntungan. Tidak peduli sumber dan cara yang digunakan. Ironisnya, generasi Muslim saat ini selayaknya kapal yang tidak memiliki kompas, arah perginya hanya berpatokan pada ombak yang membawanya. Parameter syariat tidak menjadi inti hidupnya, sehingga mudah terarus sesuatu yang viral. Hal ini disebabkan karena masyarakat terdidik dengan sekularisme yang lahir dari kapitalisme, yang tidak menjadikan syariat sebagai aturan hidup dan memisahkan agama dari kehidupan, sehingga tidak ada batas yang jelas antara halal dan haram. 

Oleh karena itu, remaja Muslim, mau tak mau, harus mengkaji Islam untuk mengetahui garis batas yang jelas antara hitam dan putih di dalam syariat. Membuatnya menjadi kuat dan kokoh, serta tidak mudah ikut-ikutan. Syariat akan dapat dipahami dengan mengkaji Islam dan terlahir pula pemahaman bahwa remaja Muslim harus menjadi pelaku perubahan. Tentunya beserta jamaah yang selalu menguatkan di jalan ketaatan dan senantiasa memperjuangkan perubahan.

Kita harus ingat bahwa seharusnya yang lebih kita takutkan daripada ketinggalan tren viral adalah ketidaktahuan kita pada hukum Allah. Maka, ayo kita pahami syariat Islam, supaya tumbuh kebanggaan kita terhadap Islam dan, insyaallah, tumbuh pula kebanggaan Rasulullah kepada kita sebagai umatnya.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Rana Shofwatul Islam
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar