Menista Lakon 'Mirip' Ustaz Khalid Basalamah: Dapatkah 'Dihukum'?

TintaSiyasi.com -- Imbas dari diviralkannya video Ustaz Khalid soal wayang, muncul respon Gus Miftah yang menggelar pertunjukan wayang. Namun semua orang kaget, karena di pertunjukan itu ada karakter menyerupai Ustaz Khalid yang dilecehkan. 

Dalam pandangan hukum, membuat pertunjukan wayang dengan karakter yang ditujukan pada tokoh tertentu seperti yang ada di video yang viral ini belum tentu memenuhi unsur tindak pidana. Namun, demikian dari sisi etis sangat layak dipersoalkan. 

Saya sudah saksikan antawacana lan anggit, sabetan wayang yang dilakukan oleh dalang Ki Warseno (Slank) dkk terkait dengan wayang yang mirip tokoh UKB dengan tokoh wayang Arjuna, Hanoman, Gatotkaca, Baladewa, dan Limbok. Nggawe ati nggrantes, prihatin karena sindiran itu begitu sarkastik tanpa sanepan, tanpa sasmita nir subasita lan trapsila. 

Belum lagi ditambah dengan sajak Gus Miftah yang mbumboni kesan adanya Islamofobia. Berikut potongan sajak Gus Miftah. 

Sigro milir..sang gethek si nogo bajul.. 

Wah...
Begitu pandai iblis itu, menyematkan imamah dan jubah. Dengan warna putih, seakan begitu suci tanpa noda, dengan menghitamkan yang lainnya 

Haruskah kuda lumping diganti dengan unta lumping? Haruskah gamelan diganti dengan rebana?
Pohon kelapa diganti dengan pohon kurma?
Dan haruskah nama Nabi Sulaiman diganti karena mirip kata-kata Jawa?


Saya tidak mengerti kenapa sajaknya diberi titel sigra milir? Kalimat pertamanya pun sudah keliru. Bukan "si nogo" bajul tetapi "sinangga" bajul. 

Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”. 

Demikianlah bunyi tembang macapat bermetrum Megatruh yang berkisah tentang Jaka Tingkir naik rakit di sebuah sungai. Ada yang menyebut sungai itu sebagai Kedung Srengege. Ada pula yang menyebutnya Bengawan Solo. Ia dikawal 40 buaya putih, di depan, di belakang, di samping kanan dan samping kiri. Rakitnya pun bergerak perlahan-lahan. 

Kembali ke persoalan inti, dari sisi hukum perbuatan dalan menghajar tokoh yang punya kemiripan dengan Ustaz Khalid tidak bisa dijerat karena tidak menunjuk pada orang, tempat dan waktu yang pasti terkait dengan sindiran yang terindikasi pelecehan tersebut. Lakon tidak menyebut UKB, foto juga tidak sama, apalagi posturnya. 

Hanya dari sisi etis, sungguh tidak pantas bahkan terkesan menggambarkan upaya merusak tatanan budaya jawa (pakeliran) yang adi luhung, penuh dengan sasmita, sanepan bukan sarkasme. Dalang itu ada yang sangat santun menyampaikan pesan, misalnya dalang Ki Narto Sabdo, Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto, dan lain sebagainya yang "ngugemi" tingginya nilai etis budaya wayang. Tidak mudah bicara sarkasme, "cuk", "bajingan", "asu" dan tindakan keji "njuwing-njuewing" kwanda orang yang teraniaya sekalipun itu terhadap musuh yang dibenci. 

Selain dari Gus Miftah, muncul juga respon BNPT, namun narasi yang dibawa kurang enak, seperti dimuat di detik.com: "Apakah wayang-wayang itu harus tampil dengan ustaz Wahabi sehingga tidak dibakar lagi? Buat wayang yang pakai jenggot, buat wayang yang hangus jidatnya, buat wayang yang pakai cingkrang, agar mereka bisa bersahabat," tutur Irfan. 

Ini memang sudah islamofobia dan ada unsur pelecehan terhadap orang Muslim yg berjenggot (sebagai sunah Nabi), jidat hangus itu juga bukan sesuatu yang aib, karena itu salah satu penanda yang bersangkutan rajin bersujud, cingkrang itu juga sunah Nabi yang kesemuanya tidak dapat dinistakan dan dijadikan indikasi bahwa yang bersangkutan radikal. Sungguh hal itu sudah mengindikasikan pelecehan terhadap aturan-aturan Islam dalam berbusana, atau penampilan diri. Namun, sekali lagi meski secara etis ini bertentangan namun secara hukum tidak dapat dituntut. Tapi, anda harus tahu pertanggungjawaban moral etis itu justru lebih berat dibandingkan dengan pertanggungjawaban hukum. Dengan model penyerangan etis semacam itu justru semakin menunjukkan bahwa mereka sedang tidak "nguri-nguri" kabudayan Jawa yang adi luhung. Menistakannya, dan itulah sikap yang menurut saya intoleransi namun seringkali justru dipakai sebagai sarana melakukan program deradikalisasi oleh lembaga tertentu. 

Pasca beredar video pertunjukan dari Gus Miftah ini, makin rame. Gaduh. Sementara muncul banyak kecurigaan soal isu diviralkannya kembali video lawas Ustaz Khalid soal wayang di tengah isu-isu krusial.  Kita sekarang sedang berada di tengah gelombang ombak distrust kepada penyelenggaraan negara, baik itu pemerintah, DPR, parpol, pemda yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat yang diwakilinya. Terkesan kemunculan video lama yang seharusnya tidak dipermasalahkan karena menyangkut khilafiah internal umat, dimanfaatkan untuk mengaburkan isu-isu sentral " penderitaan rakyat" karena pandemi (penghasilan, vaksin, migor, pertambangan, pengangguran, kemiskinan, IKN, BPJS, JHT dll) yang "blunder" karena kebijakan yang salah atau tidak integral. Rakyat ini persatuannya sangat rapuh laksana daun-daun kering, diikat dengan tali sangat sulit, yang paling gampang dipercikan api, dan terbakar.

Jadi, sebaiknya pemerintah segera turun tangan, menkominfo juga harus patroli siber agar video yang terkesan hendak memecah belah bangsa bisa dievaluasi, tidak semua dibiarkan karena tidak semua bisa dipertanggungjawabkan. 

Persoalan membenturkan Islam dan budaya ini terus berlanjut, dan terkesan ada yang merawat isu ini. Kita kenal ada ungkapan: Desa mawa cara. Negara mawa tata. Atau kalau kita pinjam istilah Cicero: Ubi Societas Ibi Ius, di mana ada masyarakat, di situ ada hukum. Masyarakat punya budaya dan punya hukum, mungkin bisa lebih dahulu ada sebelum Islam datang. Misalnya di Arab, bagaimana mereka punya sistem perbudakan, poligami, membunuh anak perempuannya, minum arak, dan lain-lain. Islam datang membawa kabar gembira untuk menawarkan kehidupan yang bukan hanya untuk kebahagiaan di dunia melainkan akhirat, bukan hanya bahagia kebendaan tapi juga batin, bukan penyembahan kepada makhluk tapi kepada Pencipta mahluk dan lain-lain. 

Sepintas memang terjadi perbenturan, namun ketika dakwah hadir, dipastikan benturan itu akan semakin melunak atau sebaliknya mengeras. Potensinya sama. Dan semua itu adalah ujian keimanan bagi setiap Mukmin yang mendakwahkan kebenaran dari Allah yang haq, apakah akan terus, atau berhenti karena cemoohan, makian, serangan bahkan pembunuhan terhadap sang dai. 

Namun, di sisi lain pun harus dilakukan bahwa berdakwah pun punya strategi mulai dari yang soft hingga yang hard, tanpa harus menghilangkan konten kebenaran aturan yang hakiki yang telah jelas batas-batasnya. Contoh misalnya berdakwah di kafe, di tempat pelacuran, di tempat perjudian dan lain-lain, apakah ini dibenarkan? Kembali kita ke tuntunan bukan tontonan. 

Benturan peradaban pasti terjadi, pemenangnya ada yang tetap istiqamah dalam kebenaran Illahi Rabbi. Jika hari ini mereka yang menentang ajaran Islam tidak berubah, mungkin anak cucunya akan menjadi pejuang Islam yang tangguh. Mentradisikan (ajaran) Islam, bukan mengislamkan tradisi karena pasti akan sulit dan benturannya pun pasti keras. 

Tabik.! []

Semarang, Rabu: 23 Pebruari 2022


Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H. M.Hum.
(Pakar Hukum dan Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar