Layangan Putus, Potret Buram Pernikahan Sistem Kapitalisme

TintaSiyasi.com -- It's my dream, not her! Sepenggal kalimat ini begitu viral beberapa waktu yang lalu. Sosok Kinan yang diperankan oleh Putri Marino berharap ingin mengunjungi Cappadocia, tempat impian paling romantis dengan balon udara di Turki. Kinan ingin mengunjungi tempat ini bersama suaminya Mas Aris, sosok peran yang dilakoni oleh Reza Rahadian. Namun sayang seribu sayang, justru suami Kinan memilih wanita lain bernama Lydia Danira yang diperankan oleh sosok Anya Geraldine. Tidak hanya impian yang kandas ke Cappadocia, sosok Mas Aris juga membelikan wanita simpanannya sebuah penthouse apartment senilai 5 Miliar. Lydia Danira seorang pelakor yang dipertahankan oleh Mas Aris hingga akhir episode drama ini.

Ya, drama layangan putus bersama adegan plus-plus begitu ramai diperbincangkan. Kisah perselingkuhan keluarga kaya dan mapan dengan sosok suami dan istri yang nyaris sempurna, namun berakhir kandas di pengadilan. Drama layangan putus tidak lain adalah sebuah kisah yang diangkat dari novel karya Mommy ASF atau Eca Prasetya yang ditulis dari kisah nyata berupa curhatan di media sosial. Namun faktanya, kisah yang diangkat ke layar kaca sangat berbeda dengan kisah nyata penulis aslinya. Terlihat dari episode-episode yang ditayangkan sangat kental adegan perselingkuhannya. Para sineas menangkap selera konsumen, melihat banyaknya para pelakor dalam bingkai pernikahan kehidupan nyata. 


Penyebab Merebaknya Perselingkuhan

Drama keluarga dengan mengangkat kasus perselingkuhan begitu digandrungi khalayak di tanah air. Tuntutan pasar, membuat para sineas  berpikir bahwa ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Menggandeng beberapa artis layar lebar ternama dengan adegan tidak senonoh antar lawan jenis yang diperuntukan hanya untuk usia tujuh belas tahun ke atas. Sebenarnya banyak drama yang serupa, yang ingin disampaikan kepada publik. 

Tentunya kehadiran sosok wanita atau pria lain menjadi masalah yang rumit, bahkan menjadi keretakan dalam rumah tangga. Sayangnya perasaan cinta pada wanita atau pria lain sering disalah artikan dalam bingkai kehidupan nyata. Banyak alasan, atau faktor jinsiyah (naluri seorang lelaki) sehingga berujung perselingkuhan. 

Memang benar, naluri menyalurkan dorongan seksualitas memang alamiah, hal ini akan ada pada lelaki dan perempuan. Sayangnya, sistem kehidupan hari sangat rusak, sehingga bermunculan kasus perselingkuhan, seperti jamur tumbuh subur di musim hujan. Ya, sekularisme adalah sistem yang memisahkan kehidupan dari agama. Sebagai contoh rumah tangga yang dinyatakan mapan dalam sisi ekonomi ternyata tidak mampu membawa muara pernikahan hingga akhir hayat. Ini membuktikan bahwa dalam bingkai pernikahan yang dibutuhkan tidak hanya ekonomi namun ilmu agama yang dapat membimbing alur jalannya pernikahan. Artinya sistem sekularisme hari ini tidak dapat dijadikan solusi bagi kehidupan.


Poligami sebagai Solusi

Jika merunut pada alur drama "Layangan Putus" yang sempat viral beberapa waktu yang lalu. Sosok Kinan dilambangkan sebagai "layangan" yang nasibnya terombang-ambing atas kehadiran wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya.  Pada dasarnya cermin kehidupan masyarakat hedonisme saat ini diatur oleh sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan asas manfaat sebagai ukuran baik buruknya tatanan kehidupan. Justru poligami dianggap tabu, kuno bahkan digiring bersama proyek moderasi agama. Poligami dianggap menyengsarakan kaum wanita. Padahal poligami merupakan syariat Islam yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan jika dipahami dan dijalani dengan benar. 

Dalam sebuah kitab An-Nidzam al Ijtimai' karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani bahwa poligami hukumnya boleh, artinya tidak ada celaan di dalamnya. Kebolehan tersebut bersifat mutlak tanpa adanya syarat dan batasan tertentu. Dalam terjemahan QS. An Nisa ayat 3, "Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat".

Poligami juga dilandasi dengan rasa adil. Secara umum, perilaku adil adalah sikap yang harus ditampakkan seorang suami terhadap istri, baik saat monogami maupun poligami. Keadilan menyangkut kebutuhan istri berupa pemenuhan sandang, pangan, papan, dan perlakuan yang baik sebagai pemimpin kepada sang istri dan anak-anaknya. 

Drama "layangan putus" seolah-olah memberi gambaran bahwa tayangan hari ini mencerminkan rendahnya akhlak dan minimnya tayangan yang berbobot saat ini. Tentu hal ini dapat merusak generasi muda saat ini, menganggap bahwa pernikahan merupakan lembaran yang suram, sehingga berujung takut untuk menikah. 

Mengapa drama layangan putus syarat dengan adegan plus-plus lolos menjadi konsumsi publik? Seyogyanya, karena cuan dan bisnis drama ini bisa laku keras di pasaran. Para sineas menangkap potensi bisnis dan mengambil nilai manfaat dari setiap proyek ini. 

Sebagai Muslim dan Muslimah, sudah selayaknya kita menjadikan syariat agama Islam sebagai landasan dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan kehidupan. Tidak ada kata jatuh cinta kepada wanita atau pria lain ketika sudah menikah. Maka pentingnya menundukkan pandangan, menjaga aurat, menjaga batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Sejatinya peran individu menuju ketakwaan juga harus di dukung oleh negara, negara mampu membuat aturan yang mengajak setiap warganya untuk taat. Keberadaan negara yang menerapkan aturan Islam mampu menekan permasalah perselingkuhan. Salah satu caranya dengan mengganti sistem yang telah rusak menjadi sistem dengan menerapkan syariat Islam. 

Tidakkah kita ingin berjuang menerapkan sistem kehidupan yang lebih baik? 

Wallahu a'lam. []


Oleh: Reni Adelina
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar