Cengkeraman Kapitalis Sekuler di Rusunami

TintaSiyasi.com -- Berbicara tentang propinsi Sumatra Utara, maka yang terbersit dibenak kita adalah propinsi yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Belum lagi, Sumut juga digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata mancanegara, karena memiliki tempat wisata yang tak kalah indahnya dari propinsi lain di Indonesia.

Namun, di balik daya tarik Sumut dari pariwisatanya yang memukau, terdapat permasalahan klasik yang di mana setiap negara yang menggunakan sistem kapitalisme sekuler akan merasakannya. Yaitu kehidupan masyarakatnya yang carut-marut. Terjadi kesenjangan sosial di tengah masyarakat Sumut, khususnya di kota Medan. Hal ini terlihat jelas ketika Wali Kota Medan, Bobby Nasution menyambut baik ajakan kerjasama yang ditawarkan PT Waskita Karya Realty (WKR) untuk pengembangan kawasan kota disejumlah asset milik Pemko Medan. Tentu saja, Pemko menyambut baik tawaran manis ini. Dengan alasan untuk menyediakan tempat tinggal bagi keluarga kurang mampu dalam bentuk Rusunami, maka kerjasama ini akan dilaksanakan dan didukung penuh oleh Pemko Medan. 

Dilansir dari perumnas.co.id, bahwa Rusunami merupakan program pemerintah Indonesia yang dikenal dengan nama proyek 1000 menara untuk membangun rusun bertinggi lebih dari 8 lantai. Wujud fisiknya mirip dengan apartemen pada umumnya, maka tak heran Rusunami juga dikenalkan oleh para pengembang properti sebagai apartemen bersubsidi. Embel-embel “bersubsidi” ini ternyata memberi dampak yang cukup positif bagi calon pembeli apartemen berkelas menengah (bukan kelas bawah). Tentunya, subsidi ini hanya berlaku bagi konsumen yang memenuhi syarat. Bantuan subsidi yang diberikan pemerintah pun beragam, antara lain subsidi selisih bunga hingga maksimum 5% (sesuai golongan), bantuan uang muka hingga maksimum Rp 7 juta (sesuai golongan) dan bebas PPN.

Hal ini tentu saja bukan kabar gembira bagi masyarakat kota Medan. Karena sebelum ini juga ada sejumlah bangunan yang dibuat pemerintah untuk diberikan kepada masyarakat sebagai tempat tinggal, tapi minim peminat. Dikarenakan lokasi yang dibuat sangat jauh dari tempat kerja atau pusat kota Medan. Sehingga tidak dijamah masyarakat walaupun dijual dengan harga murah. Faktor lainnya adalah karena hal tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang terus saja meningkat dari segala jenis kebutuhan. Masyarakat yang saat ini lebih mementingkan isi perut ketimbang tempat tinggal, sehingga membuat pembangunan Rusunami akan sia-sia belaka. Apalagi jika pembuatan Rusunami ini bekerjasama dengan pengusaha, tentunya akan ada nilai bisnis di dalamnya. Lagi-lagi rakyat dijadikan alasan untuk membuka ladang bisnis oleh penguasa. 

Hendaknya, Pemko setempat melihat lebih dalam apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Bukan hanya memandang ke arah yang satu saja dan berpaling dari yang lain. Bukankan yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah harga sembako yang murah? Bahan bakar yang murah? Biaya sekolah dan fasilitas sekolah yang terjangkau? Lapangan pekerjaan yang mencukupi kebutuhan hidup? Atau keamanan masyarakat sehari-hari? Seharusnya inilah yang dibenahi terlebih dahulu oleh Pemko Medan. Masyarakat miskin yang tinggal di kolong jembatan, pinggiran rel kereta api atau bantaran sungai, karena ekonomi mereka tidak menunjang untuk hidup dan tinggal di tempat yang layak. Rakyat banyak yang miskin karena diterapkannya sistem kapitalisme sekuler dalam kehidupan ini. Penguasa lebih berpihak kepada pengusaha daripada rakyatnya sendiri. Membuat sesuatu yang hanya mendatangkan keuntungan bagi penguasa dan pengusaha saja. 

Beginilah kondisi masyarakat yang hidup dalam sistem kapitalisme sekuler. Manfaat dan keuntungan menjadi landasan pemerintahan berbuat sesuatu. Masyarakat yang hidup di bawah sistem kapitalisme sekuler tidak akan mendapatkan keadilan yang merata. Kesenjangan sosial akan semakin menggila, yang kaya bertambah kekayaannya, yang miskin bertambah kemiskinannya. Ibarat tikus mati di lumbung padi, begitulah kondisi masyarakat kita saat ini. Hidup di tanah yang subur dan indah, tapi membeli rumah saja tidak mampu, karena dikapitalisasi oleh penguasa.

Lain halnya jika kita berbicara dalam sistem Islam. Islam yang paripurna, akan mampu memberikan fasilitas yang memadai untuk seluruh masyarakatnya. Bahkan sistem Islam mampu memberikan rumah gratis bagi masyarakat miskin. Karena sistem Islam mengkelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat secara keseluruhan. Tanpa menjadikan rakyat sebagai ladang bisnis untuk pemasukan kas pemerintah. Sistem Islam sudah mengatur sedemikian rupa dari mana anggaran negara untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya. Tanpa meninggalkan kesan kesenjangan sosial seperti yang terjadi di dalam sistem kapitalisme sekuler. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Rika Lestari Sinaga, A.Md.
Konten Kreator

Posting Komentar

0 Komentar