Cegah Radikalisme Berujung Perpecahan


TintaSiyasi.com -- Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri Brigjen Umar Effendi mengaku bakal melakukan pemetaan terhadap masjid-masjid untuk mencegah penyebaran paham terorisme. Hal itu ia sampaikan dalam agenda Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI disiarkan di kanal YouTube MUI, Rabu (26/1)(harianaceh.co.id, 2022/01/26).

Rencana pemetaan masjid dikaitkan dengan isu radikalisme. Dan tuduhan terhadap ratusan pondok pesantren terkait terorisme lagi-lagi menampakkan wajah islamofobia penguasa negeri ini. Tentu saja, Ini menimbulkan dugaan adanya framing negatif terhadap umat Islam. Sekaligus menunjukkan sikap tidak adil terhadap umat Islam. 

Harus kita pahami bahwa, isu ini tidak bisa dilepaskan dari upaya war on terrorism and war on radicalism, yang pada hakikatnya adalah war on Islam. Isu radikalisme selain isu terorisme pertama kali dimainkan oleh Amerika Serikat. 

Henry kissinger, asisten presiden Amerika Serikat untuk urusan keamanan nasional periode 1969-1975. Dalam sebuah wawancara pada November 2014 mengungkapkan pandangannya dengan menyatakan "... Apa yang kita sebut sebagai terorisme di Amerika Serikat tetapi sebenarnya adalah pemberontakan Islam radikal terhadap dunia sekuler dan terhadap dunia yang demokratis atas nama pendirian semacam kekhilafahan".

Pernyataan ini tampak jelas bahwa, jargon radikalisme bukanlah jargon yang bersifat objektif. Namun, telah dikemas untuk tujuan jahat yaitu, menghantam Islam dan kaum Muslim yang menginginkan tegaknya Islam dalam seluruh aspek kehidupan. 

Untuk merealisasikan hal itu, barat tidak bekerja sendirian. Namun, dengan meminjam tangan penguasa komprador di negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia. Penguasa komprador di negeri-negeri Muslim, senantiasa mengikuti arahan dari negara-negara barat dalam menghadang Islam. Kebangkitan Islam, melalui tegaknya Islam kaffah. Dianggap sebagai ancaman bagi penguasa sekuler. Sebab tak bisa dipungkiri bahwa dalam kurun dua dekade terakhir arus kebangkitan Islam di negeri ini cukup menguat. 

Melalui agenda Global War on terrorism, Barat masuk mempropagandakan deradikalisasi. Proyek deradikalisasi dan kontra radikalisasi pun menjadi salah satu arah kebijakan rezim. Program deradikalisasi dilakukan untuk mengubah paham orang yang radikal menjadi tidak radikal. 

Jelaslah, bahwa perang melawan radikalisme adalah proyek Barat untuk menjaga kepentingannya. Yakni, untuk menguasai dunia dengan sistem kapitalisme sekuler. Proyek radikalisme ini akan menguntungkan Barat termasuk para antek mereka yang berkuasa di beberapa negara. Sementara umat Islam secara keseluruhan adalah pihak yang dirugikan dengan proyek radikalisme ini. Sebab, umat Islam akan terus menjadi sasaran kejahatan rezim, melalui proyek deradikalisasinya. 

Oleh karena itu umat Islam harus bangkit dan bersatu untuk melawan stigmatisasi negatif terhadap istilah radikalisme. Adapun sikap yang harus diambil umat Islam dalam upaya melawan proyek deradikalisasi yang merugikan umat Islam Ini yaitu:

Pertama, mengungkap rencana-rencana jahat musuh Islam. Serta makar dan persekongkolan para penguasa sekuler dengan negara-negara imperialis Barat. Upaya ini ditujukan agar umat Islam mampu melihat dari kejahatan tersembunyi yang ada dibalik makar dan persekongkolan tersebut. 

Kedua, meningkatkan kesadaran politik.  Melalui edukasi yang bersifat terus-menerus. Yang dimaksud dengan kesadaran politik di sini bukanlah seperti yang dipraktikkan politisi sekuler. Tetapi, kesadaran yang mendorong umat untuk memandang setiap persoalan dari sudut pandang akidah dan syariat Islam. 

Kesadaran politik hanya akan tumbuh jika di tengah-tengah umat ada pembinaan atau tasqif yang bersifat terus-menerus hingga umat menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya sudut pandang hidupnya dan syariah Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengatur seluruh perbuatannya. 

Ketiga, harus ada entitas Islam. Yakni, ulama, parpol Islam, ormas Islam, gerakan Islam dan seluruh elemen umat Islam. Yang senantiasa menjelaskan kepada umat dan seluruh elemen bangsa ini. Bahwa, ancaman sesungguhnya terhadap bangsa dan negara ini adalah kapitalisme liberal beserta turunannya. Bukan syariat Islam dan umatnya.

Harapannya agar umat mempertebal keyakinan atas kebenaran agamanya. Semakin memperbesar ketidakpercayaan umat terhadap para penguasa sekuler yang anti-Islam. Dan masyarakat meninggalkan sistem sekuler demokrasi dan kembali kepada aturan Islam.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Sumiati, ST
(Pemerhati Sosial Politik)

Posting Komentar

0 Komentar