Yakinlah Sis, Islam Kaffah is Our Dream!

TintaSiyasi.com -- Wanita mana yang tak kenal bubuk merica? Rempah penyedap pedas hangat beraroma khas ini, akrab menemani emak-emak berjibaku di dapur. Namun apa jadinya bila bubuk merica ini disemprotkan ke wajah manusia?

Mata perih dan terasa panas akibat semprotan merica, dirasakan sejumlah Muslimah Afghanistan pada demonstrasi yang digelar di depan Universitas Kabul baru-baru ini.  Insiden ini menimpa mereka, yang terlibat aksi menuntut hak atas pendidikan dan pekerjaan dari pemerintahan Taliban (republika.co.id, 16 Januari 2022).

Mereka juga meneriakkan “kesetaraan dan keadilan” sambil membentangkan spanduk bertuliskan “hak-hak perempuan dan hak asasi manusia (HAM)". Sekelompok anggota Taliban lalu membubarkan aksi mereka menggunakan semprotan merica. 

Sesaat penulis teringat potongan adegan di satu film sejarah, tentang kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II di era Utsmani. Dalam adegan itu, digambarkan sikap pemimpin tertinggi dunia Islam ini, saat menghadapi demonstrasi mahasiswa yang tengah terbuai paham dan nilai-nilai Barat.

Tak ada pengusiran dan pembubaran dengan kekerasan atau cara yang tak nyaman. Sang Khalifah dengan tegas, penuh wibawa, dan argumentatif, bisa mematahkan kesalahan logika para demonstran. Lisannya mampu menyentuh keimanan para mahasiswa itu agar kembali meninggikan dan menaati hukum-hukum Allah saja. 

Kasih sayang bak seorang ayah tampak dari gesture dan kebijakan nyata yang diambilnya. Mereka berhasil diyakinkan bahwa jaminan negara atas urusan mereka sebagai mahasiswa dan rakyat, akan didapatkan tanpa harus menuntut kebebasan ala Barat. 

Islam yang menjadi ideologi negara, sekaligus standar pikir dan laku pemimpin, menjadi faktor penentu terwujudnya jaminan tadi. Inilah yang dipegang erat oleh Sultan Abdul Hamid II. Bak lokomotif, Beliau berhasil membawa gerbong khilafah kepada rel ideologi Islam. Gerbong yang sebelumnya sempat tergelincir ke selokan westernisasi oleh beberapa pendahulunya.

Andai Sang Sultan yang mendengar tuntutan Muslimah Afghanistan yang berdemo tempo hari, situasinya jelas tak sama. Para wanita ini akan meninggalkan lokasi dengan ketenangan dan penuh harap.

Hari ini para Muslimah Afghanistan rawan mengalami kerancuan untuk memahami Islam. Serangan pemikiran Barat tak sebatas lewat ajang diskusi dan propaganda. Namun nyata-nyata menggunakan tangan penguasa antek untuk menetapkannya dalam sistem kehidupan secara praktis. 

Di sisi lain, gambaran penerapan Islam yang diharapkan tercermin dalam kinerja rezim Taliban, tak kunjung hadir. Belum lagi sejumlah pembatasan aktivitas publik perempuan  yang diberlakukan, dirasa makin menambah masalah. 

Saat ini Afghanistan menghadapi kelumpuhan ekonomi yang serius. Para pegawai negeri tak digaji selama berbulan-bulan. PBB menyampaikan sekitar 22 juta orang, lebih dari setengah populasi Afghanistan, menghadapi kelaparan akut. Hal ini akibat banyak keluarga yang kehilangan penghasilan belakangan ini (merdeka.com, 15 Januari 2022).

Karenanya, dalam gempuran logika Barat tentang kebebasan wanita, wajar jika pembatasan aktivitas wanita, termasuk untuk bekerja, dipandang kezaliman. Pasalnya, mereka merasa dibiarkan bergelut dengan kelaparan dan kekurangan tanpa diberi kesempatan untuk mendapatkan uang. 

Sementara itu belum tampak tanda-tanda pulihnya ekomomi di bawah kepemimpinan Taliban. Maklum saja, episode panjang pendudukan Barat atas Afghanistan jelas meninggalkan luka-luka di sekujur negeri, termasuk dalam hal ekonomi. 

Di sinilah semestinya Muslimah Afghanistan tak boleh lupa betapa jahatnya kuasa Barat. Tak selayaknya mengharapkan solusi dari kebebasan dan HAM yang didengang-dengungkan Barat. 

Kebebasan dan kesetaraan hanyalah narasi penggoda agar kita berlepas diri dari segenap ajaran Islam. Inilah yang lalu membuka jalan penjajah untuk menancapkan imperialismenya. 

Bebas dari hukum Islam menjadikan rezim-rezim di negeri Muslim menjabat tangan para penjajah dan menyerahkan SDA mahal padanya. Berarti pula perangkap utang LN sengaja mereka masuki, setelah merasa bebas dari haramnya riba. Juga meminta "fatwa" penjajah dalam mengelola negeri-negeri Muslim. 

Kebebasan dan kesetaraan juga memberikan kacamata pandang berlensa gelap terhadap syariat Islam yang mengatur relasi pria dan wanita. Hasilnya semua tampak gelap pekat bagi perempuan. Perempuan dalam bius kebebasan, berlepas dari patron yang ditetapkan Islam dalam masalah ini. Begitu pun para lelaki. 

Akibatnya, bangunan keluarga menjadi rapuh dan melahirkan generasi yang kualitasnya makin merosot. Makin gelaplah kebodohan pada umat hingga membenamkan cengkeraman penjajah lebih dalam lagi.

Sungguh, kesadaran akan arah perubahan hakiki dan metode untuk mewujudkannya menjadi perkara mutlak bagi semua pihak. Bagi Muslimah Afghanistan yang menuntut solusi. Bagi rezim Taliban yang memimpin Afghanistan. Begitupun seluruh kaum Muslim yang merindukan kembali posisinya sebagai 'khoiru ummah'. 

Yakinlah, Islam telah membuktikan diri sebagai peradaban mulia yang memuliakan wanita selama belasan abad. Bukti ini diakui intelektual Barat sekalipun. Semua itu tak lain merupakan pengakuan akan benarnya firman Allah SWT:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ 

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,....." (QS. Al-A'raf: 96).

Teruntuk saudari-saudari di Afghanistan: "Yakinlah Sis, Islam kaffah is our dream!" []


Oleh: Riani Kurniawati
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar