UIY: Hukum Diadakan untuk Mewujudkan Keadilan bukan Ketidakadilan


TintaSiyasi.com -- Menganggapi persoalan pernahanan Habib Bahar bin Smith (HBS), Cendekiawan Muslim Ustaz Ismal Yusanto (UIY) menyatakan bahwa hukum diadakan untuk mewujudkan keadilan bukan justru sebaliknya muncul ketidakadilan. 

"Jadi hukum diadakan untuk mewujudkan keadilan bukan justru sebaliknya, muncul ketidakadilan," ujarnya dalam HBS Ditahan: Ketidakadilan Hukum Makin Nyata di kanal Youtube Media Umat, Minggu (9/1/2022) 

Menurutnya, jika ada hukum yang dilakukan namun timbul ketidakadilan, pasti ada sesuatu yang salah. 

"Nah, kita merasakan ini hari apa yang menjadi falsafah dasar bahkan sangat dasar dari hukum dalam bahasa awam seperti yang tadi saya sampaikan itu. Itu tidak terwujud, jadi hukum hadir bukan menyelesaikan masalah. Tapi setiap kali hukum hadir, pasti menimbulkan masalah," tuturnya 

Selanjutnya UIY menjelaskan, kenapa menimbulkan masalah, karena masalahnya tidak selesai muncul masalah baru. Seperti misalnya penyusunan peraturan perundang-undangan. 

"Kan diangankan itu (Hukum) digunakan untuk menyelesaikan masalah tapi yang terjadi kan timbul masalah baru, kayak undang-undang minerba itu, itu timbul masalah. Mengapa karena itu milik rakyat, kok malah diserahkan kepada korporasi, kan timbul masalah dan selalu muncul ketidakadilan. loh ini milik rakyat kok diserahkan kepada orang perorang adilnya dimana?," paparnya 

Ia menuturkan, perang antar suku, perang antar kelompok bahkan perang antar negara terjadi karena peristiwa-peristiwa kriminal yang tidak terselesaikan. Bahkan hanya karena faktor senggolan saja bisa timbul perkelahian luar biasa. 

"Sebenarnya kita ini berada pada situasi yang sangat menyedihkan dan mengerikan. Menyedihkan karena yang kita amankan tidak terwujud, hukum untuk menyelesaikan masalah, hukum untuk mewujudkan keadilan. Mengerikan karena ketidakadilan semakin menjadi-jadi, mengerikan karena persoalan alih-alih selesai malah timbul masalah baru," jelasnya 

Ia mengungkapkan, secara substansial bisa dikatakan bahwa pemegang kekuasaan sedang menjerumuskan dirinya sendiri. "Kalau dia itu memimpin, maka sebenarnya  membawa negara ini kepada jurang atau tubir, jurang yang dalam satu langkah itu bisa termasuk dalam jurang jadi bukan perbaikan tapi perusakan," pungkasnya.[]Sri Astuti

Posting Komentar

0 Komentar