Tugas Intelektual Muslim

TintaSiyasi.com -- Indonesia, negeri zamrud khatulistiwa yang dianugerahi Allah kekayaan alam yang sangat melimpah. Tidak ada negara di dunia yang memiliki kekayaan alam seperti di Indonesia. Itulah mengapa dari dulu Indonesia selalu menjadi incaran para kolonial, baik kolonialisme gaya lama maupun penjajahan gaya baru. Sementara Indonesia sendiri tidak pernah berdaulat secara ideologis, yang menyebabkan bangsa ini mudah diintervensi bahkan dijajah oleh bangsa lain, dari dulu hingga sekarang. Inilah yang menyebabkan negeri ini tidak memiliki martabat. Dalam istilah martabat terkandung nilai kemuliaan, keadaban, kemandirian, kehormatan, bahkan disegani oleh orang lain. 

Psikologi keterjajahan bangsa ini telah lama mengurat syaraf dari generasi ke generasi. Dalam istilah lain bangsa ini dalam kubangan hegemoni dan intervensi kolonialisme. Strategi mencari jalan keluar dari hegemoni dan imperialisme asing inilah, yang menjadi tugas pertama para cendekiawan Muslim dengan gagasan dan pemikirannya. Sebab, tugas pertama seorang mukallaf (Muslim) menurut Imam Syafi'i adalah memikirkan kemajuan agamanya. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan potensi cendekiawan Muslim yang juga melimpah, sudah semestinya Indonesia berdaulat dan bermartabat dari sejak dulu, tetapi faktanya hingga hari ini bangsa ini justru kian terjajah. Quo Vadisintelektual Muslim?

Dalam Al-Qur'an, kalimat yang paling banyak diulang, yakni sebanyak 31 kali dengan redaksi yang persis sama adalah kalimat yang berkaitan dengan nikmat dan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Allah menekankan, kalimat itu dengan sebuah pertanyaan, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Seolah mengindikasikan sebuah sikap yang tidak adanya rasa syukur dalam diri manusia.  Sebab, faktanya kebanyakan manusia tidak mensyukuri nikmat dan anugerah, yang diberikan Allah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Ketidaksyukuran manusia kepada Allah direfleksikan dengan pengabaian nilai dan hukum Allah, dalam mengelola bumi dan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya terkait dengan bidang ekonomi. Pengabaian itu juga terjadi dalam mengelola manusia dalam pola pikir dan pola sikapnya yang terkait dengan bidang sosial, budaya, politik, hukum, dan pendidikan. Allah mengingatkan, sekaligus  mengancam kaum Muslim yang abai terhadap peringatan dan hukum Allah dalam surah Thahaa: 124, "Dan Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Di antara ayat-ayat pertanyaan tentang kenikmatan yang diberikan kepada manusia dalam surah Ar-Rahman, Allah membeberkan berbagai fenomena kosmos, sains, dan hubungannya dengan teologi. Adalah penting dan mendesak merealisasikan Islam rahmatan lil 'alamin dalam perspektif  peradaban bermartabat yang mampu menjadikan bumi Indonesia ini terjaga, maju, dan menyejahterakan rakyat, bukan peradaban sekuler apalagi komunis yang anti terhadap aspek teologis. Akibatnya,  kini bumi Indonesia diambang kerusakan ekologis dan sosiologis. Padahal, Allah telah menata sedemikian sistemis dan sistematis.

Bahkan, Allah mengingatkan dalam surah al-A'raaf: 85, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". Inilah karakteristik epistemologi Islam yang mengintegrasikan antara fenomena kosmos, sains, dan teologis sekaligus. Dalam perspektif inilah, peran strategis cendekiawan Muslim menemukan relevansinya. Sebab, menyandang gelar cendekiawan dan Muslim, sekaligus berarti mengintegrasikan sains dan teologi secara bersamaan. Cendekiawan Muslim bukanlah cendekiawan sekuler parsial, tapi integratif holistik.

Peradaban Barat dengan landasan epistemologi sekuleristik dan ateisitik telah melahirkan manusia-manusia jahat, rakus, dan destruktif  demi memenuhi kehausan duniawi dan kekuasaan. Hasilnya adalah sebuah peradaban anti-Tuhan, yang lebih mengedepankan kebebasan tanpa batas di semua bidang kehidupan. Sains dan teknologi ala Barat sekuler hanya berorientasi materialisme dan mengabaikan nilai dan moral. Dari paradigma sains sekuler inilah, awal dari kerusakan bumi dengan sumber daya alamnya hingga kerusakan manusia dengan pemikiran, jiwa, dan perilakunya. Allah dengan tegas telah memberikan ilustrasi fakta ini dalam surah ar-Ruum: 41, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Ada sebuah pertanyaan yang mendasar, sekaligus keprihatinan yang mendalam, mengapa bangsa  mayoritas Muslim ini belum memiliki kedaulatan dan martabat. Umat Islam yang dahulu mencapai puncak kejayaan peradaban, kini hanya tinggal kenangan. Kaum Muslim tak lagi menjadi bangsa  yang disegani, sebagaimana dahulu semasa Rasulullah. Islam dan kaum Muslim saat itu dan beberapa abad setelahnya begitu disegani oleh siapa pun karena kemajuan di bidang sains teknologi, ekonomi, budaya di bawah kekuatan teologinya. Padahal, Rasulullah oleh Michael D Hart digambarkan sebagai sosok paripurna peletak peradaban agung, "…kesatuan tunggal yang tidak ada bandingannya dalam memengaruhi sektor keagamaan dan duniawi secara bersamaan, merupakan hal yang mampu menjadikan Muhammad untuk layak dianggap sebagai sosok tunggal yang memengaruhi sejarah umat manusia....".

Hilangnya kedaulatan dan martabat ini bermuara pada terpisahnya sains, kosmos, dan teologi dari setiap diri Muslim. Singkatnya adalah karena sekulerisasi yang telah merasuk ke dalam pikiran dan jiwa kaum Muslim di semua bidang kehidupan, seperti sains, politik, budaya, ekonomi,  pendidikan, dan sosial. Keprihatinan inilah yang kemudian memunculkan ide untuk menyiapkan kader-kader umat terbaik, yang akan meneruskan penegakan kembali peradaban Islam yang telah lama runtuh. Kini umat sedang tidur, tapi tidurnya terasa terlalu panjang. Mesti begitu, ada kader umat yang menjadi pelopor yang menggali dan mencari mutiara yang hilang. Pemikiran Islam yang dulu menguasai dunia adalah mutiara paling berharga, yang harus 'direbut' kembali. Kader pelopor kebangkitan peradaban Islam inilah yang disebut cendekiawan Muslim dalam arti yang luas.

Islam adalah manhaj kehidupan bagi kebaikan manusia seluruhnya sebab ia berasal dari Sang Pencipta manusia. Islam adalah manhaj kehidupan yang realistik, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, akhlak, moralitas, ritual, begitu juga atribut syiarnya. Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh power kekuasaan yang dapat merealisasikannya. Ditopang oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara bulat kepadanya, disertai ketaatan dan pelaksanaan. Allah menegaskan, kemuliaan hukum-Nya dalam surah al-Maidah ayat 50. "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?".

Karena itu, tugas seorang yang menyandang gelar cendekiawan Muslim tidaklah ringan di mata Islam. Seluruh cendekiawan Muslim, ilmuwan Muslim, dan para ulama terdahulu telah dengan gamblang memberikan contoh, bagaimana mereka menghabiskan waktu demi meraih kemuliaan dan martabat Islam dan kaum Muslim sebagai sebuah bangsa. Dengan seluruh potensi yang dimiliki, para pendahulu telah menorehkan sejarah kegemilangan kemajuan Islam, yang adil dan beradab bagi seluruh manusia tanpa memandang ras, agama, suku, warna kulit, dan bahasa.

Usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas para cendekiawan Muslim, pertama kali harus diorientasikan bagi pembangunan masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun di atas manhaj Allah. Hal ini relevan dengan kondisi masyarakat negeri ini yang semakin mengalami degradasi sains dan moral. Usaha ini memerlukan keimanan  dan pemahaman tentang realitas sebagai hakikat keimanan dan wilayahnya dalam sistem kehidupan. Para cendekiawan Muslim harus berani memikul tanggung jawab besar ini, tanpa menunggu imbalan duniawi jika masih ingin melihat bangsa ini bangkit dan bermartabat. Bukankah Allah sendiri yang mengaitkan keimanan suatu masyarakat dengan kesejahteraan dan keberkahan kehidupan. "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."  (Qs al-A'raf: 96).

Menjadikan Islam sebagai dasar manhaj berpikir dan bertindak menuju bangsa yang bermartabat, bukanlah jalan yang pendek dan mudah. Usaha besar ini membutuhkan waktu yang panjang dan usaha yang berkesinambungan. Para cendekiawan Muslim mesti berhenti sejenak untuk merenungkan langkah-langkah strategis fundamental, yang genuinedan tidak terkontaminasi dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Jika konsisten, gerakan peradaban cendekiawan Muslim ini, dengan izin Allah, akan membawa bangsa ini lebih bermartabat dalam arti yang sesungguhnya. Meski harus disadari juga, sampai kapan pun kebangkitan peradaban Islam akan terus menuai hambatan dan ujian.

Berapa lama para cendekiawan Muslim di Indonesia khususnya, akan mampu mengukir bangsa yang bermartabat tidaklah penting. Sebab, Allah akan menilai prosesnya, bukan hasilnya. Ada baiknya direnungkan apa yang dikatakan oleh Ahmad Y al- Hasan, "Marilah kita meletakkan skenario hipotesis: jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan dan jika ekonomi negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan Muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam waktu 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Copernicus, Galileo, Kepler, dan Newton? Model-model planetarium Ibn al-Shatir dan astronom-astronom Muslim, yang sekualitas Copernicus dan  yang telah mendahului mereka 200 tahun membuktikan bahwa sistem Heliosentris dapat dicetuskan oleh saintis Muslim, jika komunitas mereka terus eksis di bawah skenario hipotesis ini."

Kesadaran mendalam untuk terus memberikan arah dan pencerahan bagi seluruh bangsa ini, merupakan amanah abadi yang harus terus dipikul oleh kaum cendekiawan Muslim yang lurus. Dengan manhajIslam yang agung ini, insyaallah bangsa ini akan bermartabat. Sebab, bermartabat bukan hanya soal kemajuan dan kedaulatan, melainkan juga soal kemuliaan. []


Oleh: Dr. Ahmad Sastra
Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

Posting Komentar

0 Komentar