Spirit Doll, Kejahiliahan di Zaman Modern

TintaSiyasi.com -- Hidup di zaman serba modern tidak serta merta menjamin majunya taraf berpikir umat. Faktanya hari ini, di tengah-tengah kehidupan kaum Muslim masih banyak tersebar tahayul, khurafat, mitos, dan bid'ah. Sebagaimana fenomena yang sedang viral dan trend di Indonesia, yakni spirit doll atau boneka arwah yang banyak diadopsi oleh masyarakat, termasuk para selebritis.

Boneka arwah ini memiliki wujud seperti bayi atau anak manusia yang diisi arwah atau roh orang yang sudah meninggal. Siapapun yang mengadopsi boneka arwah harus memberlakukannya seperti anaknya sendiri, seperti diajak bicara, dimandikan, diberi pakaian, diberi makan dan minum. Hal ini dilakukan, karena dianggap dapat mendatangkan kebahagiaan dan rezeki bagi pemiliknya.


Boneka Arwah, Haram, dan Syirik

Fenomena boneka arwah lebih dulu muncul di Thailand pada tahun 2016 dengan sebutan 'luk thep' atau malaikat anak. Biasanya setelah membeli boneka arwah ini, pemiliknya akan membawanya ke seorang biksu untuk dibacakan doa agar dapat mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran atau mengundang arwah masuk ke boneka tersebut. Setelah itu, boneka tersebut diperlakukan serupa bayi manusia, digendong, menggunakan pakaian, dan diberi makan.¹

Di Indonesia sendiri pada zaman lampau, juga telah mempercayai boneka arwah khususnya dalam mitologi Jawa yang dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme, seperti jalangkung.

Jika melihat asal muasal boneka arwah yang sedang viral di Indonesia termasuk dalam madaniyah khas kufur; hasil hadharah kufur. Sehingga kita tidak diperbolehkan untuk mengikut tren mengadopsi boneka arwah karena termasuk bertasyabbuh kepada kaum kuffar dan hukumnya haram. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Orang yang tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum, ia bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud).

Bahkan ketika boneka arwah diadopsi oleh umat Islam, disakralkan, dipuja, dan diperlakukan seperti manusia karena dianggap dapat mendatangkan keberkahan, kebahagiaan, keberuntungan, rezeki, atau dengan alasan apapun, terkategori dalam perbuatan syirik. Sebab, hal itu tidak jauh berbeda dengan penyembahan, pemujaan, dan menyakralkan patung-patung, jimat, batu akik dan keris yang diiisi jin, atau benda-benda sihir lainnya. 

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang memakai jimat, dia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang (untuk mencegah dari ‘ain, yaitu mata hasad atau iri, pen), maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan.” (HR. Ahmad 4: 154).

Allah SWT berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar: 38).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh ra, menjelaskan tafsir ayat di atas: “Ayat ini dan semisalnya adalah dalil yang menunjukkan tidak bolehnya menggantungkan hati kepada selain Allah ketika ingin meraih manfaat atau menolak bahaya. Ketergantungan hati kepada selain Allah dalam hal itu termasuk kesyirikan." [Syaikh 'Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid, 127-128].

Adapun ketika membeli boneka hanya diperuntukkan sebagai mainan anak-anak atau dalam dalam rangka tarbiyah (pendidikan) untuk anak-anak hukumnya mubah atau boleh, selama bukan termasuk madaniyah khas kufur dan tidak mengandung hadharah kufur. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah ra, beliau berkata:

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَ لِى صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِى ، فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَىَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِى

Aku dahulu pernah bermain boneka di sisi Nabi SAW Aku memiliki beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasulullah SAW masuk dalam rumah, mereka pun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku.” (HR. Bukhari no. 6130).


Krisis Akidah Akibat Sekularisme

Tren boneka arwah di masyarakat merupakan salah satu bukti bahwa kaum Muslim hari ini sedang sakit atau mengalami berbagai krisis multidimensi, mulai dari akidah hingga pemerintahan. Ini semua akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme yang dibangun berdasarkan akidah kompromi (sekuler). Aturan hidup yang serba liberal pun semakin menumbuhsuburkan kesyirikan, kepercayaan terhadap benda magic atau mistis, dan ketergantungan kepada selain Allah SWT.

Ditambah budaya hedonis yang menjadikan masyarakat menghamburkan-hamburkan uang hingga puluhan juta demi mengadopsi boneka arwah sebagai anaknya. Padahal mubadzir dan isyraf telah dilarang oleh Allah SWT (Al-Isra' ayat 26-27). Mengapa uang tersebut tidak dipergunakan saja untuk membantu anak yatim-piatu atau saudaranya yang kekurangan daripada sekadar membeli benda mati yang tidak dapat memberikan manfaat ataupun mudharat sedikitpun?

Begitulah Syindrom Budaya Chicago yang telah menjangkiti masyarakat kapitalisme hari ini, termasuk umat Islam yang hidup didalamnya. Kemajuan teknologi semakin membuat masyarakat kapitalis salah dalam memenuhi gharizah nau'-nya (naluri berkasih-sayang); yang harusnya diberikan kepada makhluk hidup justru diberikan kepada benda mati.

Padahal Islam telah diturunkan oleh Allah sejak ± 14 abad yang lalu untuk mengangkat umat yang jahil (menolak kebenaran) menjadi umat yang cerdas (ulul albab) atau mengeluarkan manusia dari zaman jahiliah menuju peradaban yang gemilang ( من الظلمات إلى النور). Namun, kapitalisme hari ini justru mengembalikan pemikiran dan perilaku umat Islam ke zaman jahiliah lagi (من النور إلى الظلمات) alias jahiliah modern. 

Oleh sebab itu, umat Islam harus segera sadar dan bangkit dari segala keterpurukan hari ini, dan kembali naik kelas menjadi khairu ummah. Maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari islam kaffah dan melakukan dakwah ideologis untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan diterapkannya Khilafah Islamiyah. Bukan hanya berkutat pada dakwah akidah saja hingga melupakan bahwa Islam punya syariat yang harus diterapkan secara keseluruhan. Sebab, hanya dengan khilafah semua krisis multidimensi dimensi yang menimpa umat hari ini bisa terselesaikan.

Hadanallahu wa iyyakum jami'an. []


Oleh: Wahidah
(Mahasiswi)

Sumber:
¹ https://news.detik.com/berita/d-5882046/heboh-adopsi-boneka-arwah-di-indonesia-begini-asal-usulnya/2

Posting Komentar

0 Komentar