Proyek Tol Cisumdawu Akibatkan Banjir

TintaSiyasi.com -- Banjir diakibatkan oleh meluapnya volume air di suatu badan air seperti sungai, danau atau bendungan. Akan tetapi banyak warga terus menetap di wilayah rawan banjir karena tak memiliki tempat tinggal lagi.

Dikutip dari Merdeka.com, banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Beberapa kali bencana ini telah merenggut nyawa masyarakat. Curah hujan yang sangat tinggi dan penebangan hutan yang dilakukan secara liar, masih menjadi masalah utama penyebab terjadinya banjir.

Di samping itu, hujan dengan intensitas tinggi juga dapat menjadi penyebab terjadinya banjir. Tingginya curah hujan yang terjadi, berdampak pada meningkatnya volume air di daratan. Jika air tidak bisa terserap dengan sempurna oleh tanah atau dialirkan ke sungai, kondisi ini bisa menjadi penyebab banjir, terutama di area perbukitan.

Cara mencegah banjir bisa dilakukan di lingkungan sekitar terlebih dahulu. Dengan melakukan beberapa kegiatan yang dapat mencegah banjir, secara perlahan banjir bisa diatasi dengan baik. 

Berikut beberapa penyebab terjadinya banjir yang dikutip dari Liputan6.com, yaitu: curah hujan tinggi, membuang sampah sembarangan, daerah dataran rendah, dan kondisi topografis.

Adapun dampak proyek Tol Cisumdawu Sumedang terhadap pemukiman masyarakat dan lingkungan menjadi keluhan. Seperti wilayah Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Daerah tersebut ikut terkena imbas proyek Tol Cisumdawu.

Penasehat Organisasi Masyarakat BBC Skills Bandung Timur, Agus Rusman menyampaikan, keluhan warga Desa Cileunyi Wetan yang terdampak proyek Tol Cisumdawu. Agus mengatakan, musibah banjir bandang yang dialami Kampung Babakan Pasir Tukul tersebut, ucapnya, belum ada yang bersedia bertanggung jawab dari pihak Pimpinan Proyek.

Tak hanya wilayah Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Dampak proyek Tol tersebut dialami warga di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dan Perum Abdinegara Kecamatan Rancaekek. 

Jika ditelaah, memang semua pihak harus introspeksi diri bahwa banjir yang tak terhindarkan itu tetap disebabkan karena kesalahan manusia.

Dalam pandangan Islam, memang faktor-faktor itulah penyebabnya bahwa pada dasarnya kerusakan alam yang ada di muka bumi ini adalah murni karena ulah tangan manusia baik di darat dan di laut.

Oleh sebab itu sebagai kaum yang beriman jelas antara sisi agama dan perilaku manusia sangat berkaitan terhadap berbagai bencana yang ada di muka bumi ini. Maka, dibutuhkan pula cara menyikapi suatu bencana alam dengan menggunakan kacamata agama.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang artinya, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".

Adapun pandangan Islam dalam setiap menyelesaikan persoalan yang terjadi di tengah umat. Ini merupakan buah dari penerapan kapitalisme. Sebagaimana kita tahu, proyek tol untuk kepentingan para investor yang berdalih pembangunan untuk rakyat. Namun yang terjadi rakyat menderita karena dampaknya yakni terjadinya banjir. 

Karena itu, wahai kaum Muslim, sadarlah bahwa kondisi Anda sekalian hari ini sedang terpuruk. Satu-satunya solusi yang benar dan terbaik adalah dengan menerapkan syariat Islam secara kâffah. Keimanan kita pada Islam tentu mengharuskan kita taat secara total pada syariat-Nya. Telah terbukti sekularisme kapitalisme dengan oligarkinya telah merusak umat dan negeri ini. Janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama dengan tetap mempercayai sistem kehidupan selain Islam. Jika kita tetap berkubang dalam sistem kehidupan selain Islam, tentu kita akan terus terpuruk dan tidak akan pernah bisa bangkit kembali. Sebabnya, kebangkitan dari segala keterpurukan hanyalah dengan cara kita kembali pada Islam dan totalitas terhadap syariat-Nya.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Endang Suciati, S.Pd.I
Guru dan Aktivis Muslimah

Posting Komentar

0 Komentar