Prof. Suteki: Separatisme di Papua Adalah Panggung Jenderal Dudung Sesungguhnya


TintaSiyasi.com -- Merespons viral video Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Menyanyi "Ayo Ngopi" bareng prajurit TNI, Pakar Hukum dan Masyarakat, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. menyampaikan, separatisme dan terorisme di Papua adalah panggung Jenderal Dudung sesungguhnya. 

"Saya kira isu utama untuk KSAD adalah separatisme, terorisme di Papua. Daerah ini menuntut kehadiran Jenderal Dudung sehingga KKB jika mau dirangkul- karena katanya KKB adalah saudara- untuk tetap masuk ke pangkuan NKRI. Tetapi jika tidak mau, ya harus diperangi. Itu panggung Jendral Dudung sesungguhnya," ungkapnya dalam segmen Tanya Profesor Aja bertajuk "KSAD Ngopi, KKB Papua Makin Berani," di kanal YouTube Prof. Suteki, Selasa (11/1/2022). 

Prof. Suteki, sapaan akrabnya, menegaskan, benar bahwa salah satu panggung Jenderal Dudung itu di daerah pertempuran seperti di Papua, bukan di Petamburan melawan H43RS, apalagi mencoba memasuki panggung entertain. 

"Dunia entertain itu sering kali hanya berwatak artifisial, penuh kepura-puraan atau penuh sandiwara. Seorang perwira, kepala staf AD tidak pantas memasukinya dan cenderung bisa menurunkan marwahnya karena terlibat dengan dunia yang terkesan hedonis," imbuhnya.

Ia menuturkan, hiburan tentu boleh saja, namun ketika sudah memobilisir bawahan, dan terkesan dipaksakan, maka justru akan merusak panggung habitat sesungguhnya, yakni panggung pertahanan negara. 
 
Terkait penilaian beberapa kalangan bahwa video Ayo Ngopi mengakibatkan reputasi TNI turun, Prof. Suteki berpendapat, reputasi TNI tidak hanya bergantung pada seorang Jenderal Dudung. 

"Dia hanya satu di antara tiga kepala staf. Andaikan nyanyian lagu itu dianggap menurunkan wibawa TNI, mungkin hanya berlaku buat Jenderal Dudung saja, atau oknum tertentu. Saya yakin, banyak TNI yang tidak mau menggadaikan harkat dan martabatnya hanya untuk 'sekerat' remah-remah dunia berupa pangkat dan jabatan," ujarnya. 

Lebih lanjut ia menyebut bahwa Panglima TNI tentu mempunyai penilaian tersendiri terhadap aksi Jenderal Dudung "nyanyi ngopi" yang substansinya kurang menunjukkan intelektualitas dan kehormatan, serta kewibawaan seorang prajurit sejati apalagi bagi seorang perwira. 

"Jadi, saya kira reputasi TNI akan ditentukan bukan oleh ulah Jenderal Dudung, tetapi oleh prajurit-prajurit yang masih mempunyai jiwa pengabdian yg tulus bersama rakyat," cetusnya.

Prof. Suteki pun menilai bahwa persoalan keamanan dan ketertiban serta penegakan hukum itu bukan isu yang menjadi tanggungjawab TNI, melainkan tanggung jawab Polri sepanjang Polri secara resmi tidak meminta bantuan kepada TNI untuk membantu penanganan keamanan, ketertiban dan penegakan hukum. 
Menurutnya, mereka memang harus membuat batas demarkasi untuk tidak melakukan offside tugas dan fungsinya sehingga tidak menimbulkan konflik kepentingan. 

"Maka, bolehlah TNI dan Polri sesekali 'ngopi bareng' dalam rangka mencairkan dan mencari solusi anak negeri agar mampu menciptakan pertahanan negara yang kuat, sekaligus tercipta kamtibmas dan penegakan hukum yang adil," pungkasnya.[] Puspita Satyawati

Posting Komentar

0 Komentar