Prediksi Keumatan 2022, Azyumardi Azra: Tantangan Kita Adalah Aktualisasi Islam dalam Kehidupan


TintaSiyasi.com -- Cendekiawan Muslim Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE. menilai bahwa tantangan yang paling kuat bagi umat Islam di tahun 2022 kedepan adalah mengaktualisasikan Islam dalam kehidupan. 

"Tantangan kita tahun 2022 dari perspektif umat Islam yang paling kokoh itu adalah mengaktualisasikan Islamisitas dalam kehidupan," tuturnya dalam Refleksi dan Prediksi Keumatan: Peluang dan Tantangan Peradaban Islam, di channel YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Kamis, (30/12/2021). 

Menurutnya, hal itu bisa dilihat dari beberapa riset yang dilakukan oleh orang Islam sendiri, bahwa umat Islam itu, meskipun sebagai orang Islam, tetapi tingkat Islamisitas umat Islam itu rendah. Islamisitas itu perilaku sosial budaya umat Islam. Misalnya terkait keadaban. Adab di dalam Islam sangat penting dan berlapis-lapis. Ada adab mau tidur, adab sesama manusia, adab anak, istri dan lain-lain. 

"Karena adab itu sama juga dengan takzim. Jadi tarbiyah, pendidikan itu proses membuat orang itu beradab, takzim," terangnya. 

Azyumardi melanjutkan, terkait keadaban, umat Islam Indonesia masih kalah dalam banyak segi. Ia mencontohkan masalah thaharah, kebersihan. Orang Islam lingkungannya masih kotor, membuang sampah masih seenaknya. Memang secara digitalisasi umat Islam masih bisa beradab. Misalnya naik kereta api trans Jakarta sudah tidak membuang sampah sembarangan. 

Namun menurutnya, Islamisitas umat Islam masih belum tercermin, tidak disiplin, terobos sana terobos sini tidak memperdulikan orang lain, tidak ada kesantunan. Contoh pengguna motor, semaunya sendiri di jalan raya, tidak bisa tertib. 

"Padahal Islam mengajarkan tertib, semisal dalam ibadah mahdah seperti shalat, kalau tidak tertib ya tidak bisa," bebernya. 

Lebih lanjut Azyumardi menjelaskan, keadaban publik. Public civility umat Islam itu rendah dalam bidang sosial budaya ini. Dalam Islam umat diajarkan untuk jujur, tidak mencuri, selalu amanah. Namun ketika menjadi pejabat publik banyak orang Islam yang melakukan korupsi. Apalagi sejak dilumpuhkannya KPK oleh Presiden dan DPR juga dilemahkan, maka korupsi semakin merajalela. 

Kalau umat Islam menjalankan ajaran agamanya bahwa, "orang yang menerima sogok dan menyogok itu masuk neraka". Maka Indonesia ini akan baik, sebab stakeholders terbesar pemangku kepentingan dan penerima manfaat terbesarnya itu umat Islam. 

"Jadi kalau umat Islamnya baik pasti negara ini baik. Kalau negara ini kacau maka kemudian umat Islamnya juga jadi  kacau, jadi rusak semua," jelasnya. 

Azyumardi memaparkan pendapat para kyai muda yang dikirim ke Jepang bahwasanya Islamisitas Indonesia kalah dengan Jepang, para kyai itu melihat Islam itu ada di Jepang. Orang-orang di Jepang itu disiplin, rajin, bekerja keras, etos kerjanya tinggi walaupun orang Islamnya jarang-jarang artinya sedikit. 

"Maka begitu harusnya pandangan kita ke depan," paparnya. 

Menurutnya, memang semangat keislaman orang Indonesia itu meningkat. Banyak muslimah yang sudah pakai kerudung, masjid bagus-bagus di mana-mana. Sebelum Covid, orang pergi haji dan umroh selalu terbangnya dari Indonesia. Tetapi mengapa dalam soal keadaban saja sepertinya tidak ada bekasnya. 

Banyak perilaku kriminalitas yang aneh-aneh, dari kriminalitas biasa sampai perilaku seks yang menyimpang dimana-mana. Korbannya tidak hanya perempuan tetapi juga anak laki-laki yang diperkosa seorang laki-laki juga. Ini suatu kepahitan dan memalukan. 

"Keadaan ini ke depan semakin memburuk, karena kebebasan orang mengakses berbagai hal di media melalui internet, termasuk pornografi. Ini tantangan bagi kita. Mungkin dakwah kita perlu dilihat lagi. Kita perlu mencari asal-muasal, sebab-penyebab terjadi seperti itu," cetusnya. 

Selanjutnya Azyumardi menuturkan, sejak tahun sembilan puluhan sampai sekarang memang ada gejala-gejala bangkitnya Islam. Saya sering menyebutnya kecintaan terhadap Islam itu meningkat. Tetapi kenapa kemudian tidak terlihat dalam kehidupan sosialnya. Ada keterputusan antara kesalehan personal di masjid ketika lagi shalat dengan kesalehan sosial, ketertiban di ruang publik, keadaan public civility, public civiu, dan  seterusnya. 

"Saya kira kita masih menghadapi ini tahun 2022. Disamping di soal-soal politik masih sama dengan beberapa tahun terakhir ini, kemerosotan demokrasi, meningkatnya oligarki, tidak tegaknya hukum, merajalelanya korupsi itu masih akan berlanjut, malah mungkin tambah parah," pungkasnya.[] Faizah

Posting Komentar

0 Komentar