Penista Agama Tumbuh Subur dalam Sistem Kapitalisme Sekuler

TintaSiyasi.com -- Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam, tidak dipungkiri sering terjadinya penistaan dan pelecehan-pelecehan terhadap agama serta simbol-simbolnya. Dan seringnya penghinaan itu dilontarkan kepada agama Islam, yang pelakunya ada orang non-Muslim dan orang Muslim itu sendiri.

Bahkan penghinaan-penghinaan terhadap agama Islam bukanlah sesatu yang dianggap asing lagi. Penistaan yang dilakukan juga dari berbagai kalangan. Seperti, influencer, youtuber, tokoh agama, tokoh rakyat sampai orang biasa.

Ada yang melakukan secara sadar untuk mengambil perhatian penonton agar konten yang tayangkan menjadi viral dan trending. Ada yang melakukan demi menjatuhkan Islam dan kaum Musllim. Namun, ada pula yang melakukan secara tidak sadar atau ikut-ikutan karena lemahnya iman dan tidak pahamnya terhadap batasan dan konteks yang sudah mengandung penghinaan atau pelecehan terhadap agama.

Baru-baru ini kaum Muslim kembali digemparkan dengan unggahan tweet salah seorang yang cukup berpengaruh dalam masyarakat dan juga sebagai pegiat sosial media. Mantan kader Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean di media sosial Twitter pribadinya menulis, "Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa maha segalanya".

Cuitan ini langsung direspon Masyarakat dan ramai diperbincangkan. Tidak lama dari tweet itu diunggah, Ferdinand Hutahaean langsung memberikan klarifikasi dalam video unggahannya. Ferdinand mengklaim cuitan itu tak sedang menyasar kelompok atau agama tertentu. Ferdinand juga bercerita bahwa keadaannya saat itu sedang banyak beban sehingga cuitan tersebut dibuat berdasarkan dialog imajiner antara hati dan pikirannya merespons kondisi tersebut. Ia mengakhiri videonya dengan meminta maaf kepada siapa pun yang merasa terganggu atau tidak nyaman, karna dialog imajiner bukan untuk menyarang siapapun (CCN.Indonesia, 05/01/22).

Ini bukan kali pertama di Indonesia tercinta yang masyarakatnya mayoritas Muslim, tapi kesekian kalinya. Sungguh miris jika kita melihat penista agama yang berulang dan kian subur  tidak dapat terhenti dan mendapatkan solusi yang hakiki. Sebelum membahas lebih lanjut kenapa penista agama Islam tidak berhenti? Maka perlu diketahui terlebih dahulu konsep yang menjadi biang kerok lahirnya benih-benih penista agama.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat menjunjung tinggi konsep kebebasan. Bahkan konsep ini menjadi dasar negara. Kesempatan untuk mengekspresikan kebebasan juga tidak memiliki batas tertentu secara tegas. Karenanya Masyarakat boleh bertingkah laku dan berpendapat sesuai hawa nafsu yang diinginkan. Jika respon Masyarakat kontra terhadap apa yang disampaikan maka tinggal meminta maaf. Bukankah seperti itu yang selalu dilakukan para penista agama? Meskipun  mereka harus terjerap pada bui, nyatanya hukum negeri masih bisa dibeli dan dikompromi. Para tersangka juga tidak bisa dikenakan sanksi yang tegas sebab ada hak asasi manusia (HAM) yang melindungi mereka.

Undang-undang (UU) yang mengatur tentang agama sekarang juga belum cukup kuat sebagai pegangan yang jelas untuk menyatakan seseorang telah menistakan, merendahkan atau menodai agama yang harus dikenakan sanksi atau tidak. Sekalipun RUU KUHP pasal 156 (a) tentang penistaan agama sudah ada yang mengatur tapi UU ini juga akan mandul ketika dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru, yang akhirnya hukum baru akan dicari dan tetapkan setelah adanya kasus yang terjadi. Untung-untung demikian, ironinya penista agama selesai dengan ucapan minta maaf. Muncul lagi, minta maaf lagi. Begitulah seterusnya.

Dari ini semua, memberitahukan kepada kita bahwa negara yang menganut sistem yang bersandar pada akal manusia tidak akan pernah menyelesaikan masalah dari akarnya. Ini juga bukti kegagalan negara dalam menjamin perlindungan beragama bagi setiap pemeluknya.

Padahal dalam sistem Islam, negara adalah sebagai junnah yang akan menjamin kehidupan Masyarakat secara individu atau dalam Islam disebuat dengan maqashid syariah. Maqashid syariah mencakup di dalamnya penjaminan dan perlindunngan terhadap agama. Dengan demikian Islam sangat tegas terhadap pelecehan dan penghinaan agama. Batasan dan sanksi yang mengatur juga sangat jelas, ada perbedaan sanksi yang dijatuhkan kepada penista agama yang beragama Islam atau non-Muslim. Sanksi dijatuhkan juga dilihat dari tingkat penghinaan yang dilakukan.

Dalam Fatawa al Azhar, ulama’ sepakat bahwa siapa saja yang menghina agama Islam, hukum murtad dan kafir.

مَنْ يَلْعَنُ الدِّيْنَ كاَفِرٌ مُرْتَدٌّ عَنْ دِيْنِ الْإِسْلَامِ بِلَا خِلَافٍ

Artinya: “Barangsiapa yang melaknat agama Islam, maka hukumnya kafir dan murtad dari agama Islam tanpa ada perbedaan pendapat.

Al-Maliki menyebutkan, "Siapa yang merendahkan Al-Qur'an, atau sejenisnya, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustai Al-Qur'an, atau bahkan sampai membuktikan apa yang diingkari, maka termasuk kafir menurut kesepakatan ulama”. Imam Syafii juga menegaskan mengolok-olok Al-Qur'an dengan maksud lelucon juga bisa dikategorikan kafir. Dia merujuk Al-Qur'an surat At Taubah ayat 65 yang berbunyi:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُۗ قُلْ اَبِاللّٰهِ وَاٰيٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. At-Taubah Ayat 65).

Allah sebagai pencipta juga menyatakan bahwa permintaan maafnya seorang penista agama itu sia-sia, sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an:

لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ

"Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa." (QS. At-Taubah ayat 66).

Islam juga merupakan pokok aturan yang bersumber dari Sang Khaliq. Aturan-Nya baku dan sudah ada sebelum terjadinya berbagai problem di tengah-tengah masyarakat. Islam juga bukan hanya sebagai agama tapi juga sebagai aturan hidup yang super lengkap. Semua aturannya telah tertera dalam Al-Qur’an, Al-Hadis, dan penggalian-penggalian hukum oleh para mujtahid. 

Penerapan Islam juga tidak hanya secara individu tapi ada kontrol masyarakat yang saling beramar makruf nahi munkar serta ada negara yang menjadikan Islam sebagai standar dan landasan negara dan juga menjadi penegak hukum atas segala kemaksiatan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi termasuk penista agama.

Dengan hukuman yang dijatuhkan kepada penista agama akan membuat mereka jera sehingga tidak terjadi kembali penistaan terhadap agama. Aturan Islam bukan hanya sebagai jawazir (pencegah) tapi juga sebagai jawabir (penebus). Para pelaku kejahatan yang dihakimi dengan hukum Islam dalam negara Islam akan menghapus pertanggungjawaban pelakunya di akhirat nanti.

Maka tidak akan selesai penistaan agama selama kita masih bergantung pada aturan yang bersumber dari akal manusia yang serba terbatas. Hanya dengan aturan Sang Khaliq, agama akan terjaga kesuciannya. 

Wallahu a'lam. []


Oleh: Jartika, S.E
(Aktivis Muslimah Aceh)

Posting Komentar

0 Komentar