Penista Agama Malah Dibela

TintaSiyasi.com -- Lagi-lagi ujaran penistaan agama terjadi di negeri ini. Kali ini mantan politikus partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, pada Selasa (4/1) dalam cuitan di akun Twitter miliknya mengatakan, “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela. Kalau aku, sih, Allahku luar biasa, maha segalanya. Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela".

Sontak cuitan tersebut viral dan menimbulkan berbagai komentar dari masyarakat. Hingga akhirnya Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan telah menetapkan Ferdinand Hutahaean sebagai tersangka atas dugaan melakukan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan penistaan agama. Penetapan ini dilakukan setelah penyidik memeriksa Ferdinand sebagai terlapor dan sejumlah saksi hingga ahli, pada Senin (10/1/2022). 

Ketua Umum Presidium Alumni (PA) 212 Aminudin pun ikut menyoroti kasus ini. Menurutnya dugaan penistaan agama dari cuitan Ferdinand Hutahaean sangat layak diperkarakan. Namun, selang beberapa hari setelah penetapan status tersangka, Ferdinand melakukan klarifikasi terkait maksud dari cuitannya yaitu, “Saya ini Muslim menegaskan bahwa Allah orang Islam itu kuat tidak perlu dibela, seharusnya tidak menjadi masalah. Nah ini yang muncul pernyataan seperti ini karena mereka belum tahu saya siapa, karena saya tidak pernah mendeklarasikan diri saya siapa. Karena itu bagi saya itu juga tidak perlu dideklarasikan saya seorang mualaf. Itulah inti permasalahannya, jadi tolong dicatat baik-baik teman-teman media agar ini tidak semakin meruncing" (MNCPortal, 7/1/2022).

Ferdinand juga menjelaskan bahwa dirinya telah menjadi mualaf sejak 2017. Ungkapan ini justru makin membuat masyarakat khusus umat Islam geram. Bahkan, pegiat media sosial Darmansyah menyatakan, “Saya tidak yakin dia muallaf. Pengakuannya muallaf sejak 2017, bisa saja buat umat Islam tidak banyak melaporkan kepada polisi.” (Genpi.co,(10/1/2022). 

Kendati sudah mengklarifikasi bahwa ia seorang mualaf, akan tetapi banyak netizen yang meragukan pernyataan tersebut. Menyikapi kekesalan dan amarah masyarakat netizen khususnya kaum Muslim, Menteri Agama Gus Yaqut angkat bicara terkait kasus Ferdinand Hutahaean. Namun sikap yang ditunjukkan justru berbeda dengan sikap masyarakat, Menteri Agama Yaqut malah meminta pihak-pihak pelapor melakukan tabayun dan masyarakat jangan melontarkan cacian. Menurutnya, sangat mungkin untuk berbaik sangka dahulu karena Ferdinand mualaf dan belum memahami agama Islam secara mendalam, termasuk dalam hal akidah. Gus Yaqut menilai Ferdinand butuh bimbingan keagamaan, bukan cacian. Benarkah demikian?


Sistem Sekulerisme Membelenggu Iman

Pandangan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) jelas membelenggu keimanan seseorang. Penguasa dalam sistem rusak ini tidak akan menerapkan agama dalam aturan. Baik Muslim maupun non-Muslim diberi kebebasan penuh dalam berpendapat. Hingga akhirnya tidak ada batasan dan standar dalam berbuat termasuk tentang kasus penistaan agama. Negeri ini bukan hanya sekali menerima laporan kasus penistaan agama melainkan berulang kali. Anehnya lagi, negeri yang menempati posisi jumlah Muslim terbesar di dunia mendapatkan kasus penistaan agama sebanyak 67 kasus penodaan agama yang terjadi di Indonesia sepanjang 2020. Bagaimana tindakan penguasa saat ini?

Kemarahan, kebencian, dan tindak tegas tidak tampak dalam diri penguasa. Kasus penistaan agama dianggap hal yang biasa bahkan hukumannya lebih ringan daripada kasus kejahatan lainnya. Penguasa jelas sudah terbelenggu dengan sistem ini. Kekuasaan lebih diperhatikan dibandingkan keimanan. Hukum yang dibuat sendirinya oleh manusia tidak bisa djadikan pemecah permasalahan yang terjadi. Penguasa seolah-olah menutup mata atas fakta yang jelas terlihat. Lebih parahnya lagi, penguasa seakan berpihak pada hal yang jelas-jelas salah. Inilah gambaran ketidakadilan hukum di negeri ala sekuler. Kesalahan dan kebenaran bukan lagi hitam dan putih melainkan abu-abu. Sistem ini sangat jelas membuktikan keadilan, kebenaran, dan ketegasan hanya berpijak pada dasar manfaat dan memihak golongan tertentu saja. Lantas bagaimana Islam memandang kasus penistaan agama?


Penista Agama dalam Pandangan Islam

Penistaan agama dalam Islam adalah tindakan mencaci, membenci, atau tidak suka terhadap Allah SWT, Rasul-Nya dan hukum syariat Islam. Ayat-ayat Al-Qur’an secara tegas telah menerangkan bahwa orang yang menghina, melecehkan agama Islam adalah orang yang kafir atau murtad jika sebelumnya ia adalah seorang Muslim. Kekafiran orang tersebut adalah kekafiran yang berat, bahkan lebih berat dari kekafiran orang kafir asli seperti Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik. Adapun jika sejak awal ia adalah orang kafir asli, maka tindakannya menghina, melecehkan agama Islam tersebut telah menempatkan dirinya sebagai gembong kekafiran dan pemimpin orang kafir. Dalil Al-Qur’an sangat terang menjelaskan kasus penistaan agama ini.

Jika mereka merusak sumpah (perjanjian damai)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah [9]: 12).

Berdasarkan tafsiran di atas, Imam Al-Qurthubi berkata, “Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya membunuh setiap orang yang mencerca agama Islam karena ia telah kafir”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya mencaci maki Allah atau mencaci maki Rasul-Nya adalah kekafiran secara lahir dan batin. Sama saja apakah orang yang mencaci maki itu meyakini caci makian itu sebenarnya haram diucapkan, atau ia meyakini caci makian itu boleh diucapkan, maupun caci makian itu keluar sebagai kecerobohan bukan karena keyakinan. Inilah pendapat para ulama fiqih dan seluruh ahlus sunnah yang menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.” (Ash-Sharim Al-Mashlul ‘ala Syatim Ar-Rasul, hlm. 512) beliau juga menambahkan “Jika orang yang mencaci maki (Allah SWT) tersebut adalah seorang Muslim maka ia wajib dihukum bunuh berdasar ijma’ (kesepakatan ulama) karena ia telah menjadi orang kafir murtad dan ia lebih buruk dari orang kafir asli.

Hukuman seperti ini tentu akan memberi efek jera bagi pelakunya dan sebagai pelajaran bagi masyarakat umum agar tidak melakukan hal yang sama. Namun untuk mewujudkan pelaksanaan aturan tersebut secara sempurna, tidak mungkin berharap pada sistem sekularisme yang asasnya sendiri memisahkan agama dari kehidupan. Maka dibutuhkan sistem yang mumpuni, yang berasal dari As-Syari’ (Allah SWT) yaitu Sistem Pemerintahan Islam (khilafah).  Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Rahmi Lubis
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar