Negara Abai Generasi Lalai



 
TintaSiyasi.com -- Generasi muda adalah generasi harapan bangsa. Jika generasi mudanya baik dan berkualitas, maka akan cerahlah masa depan suatu bangsa. Maka perhatian pada kondisi dan nasib generasi muda ini harus menjadi perhatian utama bagi suatu bangsa yang memiliki visi menjadi bangsa maju dan bermartabat. Jika negara abai dalam perhatian dan perlindungannya pada generasi muda, maka jangan heran kalau yang terbentuk adalah generasi yang lalai terhadap masa depan bangsa.

Memperhatikan kondisi generasi muda saat ini, secara umum lebih banyak hal yang membuat kita mengelus dada dibanding membusungkan dada. Betapa tidak, hampir setiap hari dalam kasus kriminalitas yang terjadi di negeri ini, sebagian besar pelakunya adalah generasi muda.

Berita kriminal seolah tak ada artinya jika tak melibatkan remaja sebagai pelakunya. Selain sebagai pelaku, remaja juga rentan menjadi objek kriminalitas yang terus terjadi dan tidak jarang memakan korban. Sebut saja kasus tawuran pelajar. Di Yogyakarta misalnya, belum lama terjadi tawuran antara dua geng pelajar, di Ringroad Selatan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (Senin, 8/11/2021)

Akibat tawuran, dua pelajar menjadi korban. Keduanya berasal dari salah satu sekolah menengah atas (SMA) negeri di Kapanewon Sewon, Bantul. Satu korban meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sepuluh hari, karena sabetan senjata tajam di bahu dan punggung. Sementara korban lainnya mengalami luka serius dan masih dalam proses perawatan medis (harianjogja.com, 8/11/2021).

Mirisnya, aksi tawuran pelajar ini selalu melibatkan remaja yang notabene berseragam dan saling serang antarsekolah. Seragam yang dikenakan tidak mampu mengingatkan jati diri mereka sebagai pelajar yang seharusnya sibuk belajar, bukan unjuk gigi dengan adu jotos.

Belum lagi jika kita bicara kasus pergaulan bebas di kalangan remaja. Terlalu banyak kasus yang menyesakkan dada karena tingkah pola remaja yang asyik masyuk menikmati kesenangan sesaat tanpa ikatan pernikahan. Bahkan lebih miris lagi, pelaku LGBT di kalangan pelajar pun semakin marak. Mereka sudah berani berkomunikasi dan mengeksiskan diri terutama di dunia maya.

Terlalu banyak fenomena di dunia remaja yang mengkhawatirkan. Masa muda yang seharusnya diisi dengan segudang prestasi dan inovasi yang bisa membangun diri dan bangsa ini tersia-siakan dengan berbagai aktivitas semu, miskin manfaat, merusak diri dan masa depan, bahkan melanggar fitrah insaniyahnya. Lantas faktor apa saja yang memengaruhi generasi lalai ini?

Faktor Berkelindan Mengabaikan Generasi

Keluarga yang kurang membentengi iman anak-anaknya, kurang memerhatikan tumbuh kembang mereka sesuai aturan Islam, membuat banyak remaja yang tidak paham konsep benar salah, baik buruk sesuai pandangan Sang Pencipta. Akibatnya mereka terjebak dalam pergaulan salah karena tak ada benteng iman sebagai imunitas ketika berinteraksi dengan dunia luar yang semakin liberal.


Masyarakat pun tidak memberikan dukungan positif bagi generasi muda karena masyarakat kini yang individualis semakin abai terhadap kontrol sosial. Asalkan bukan anak sendiri yang rusak, masa bodoh dengan nasib anak orang lain. Amar ma’ruf nahi mungkar seakan hanya merugikan diri di zaman now ini.


Namun kealpaan keluarga dan masyarakat ini pada hakikatnya tidak lebih besar mudharat-nya dibanding abainya negara dalam memberikan perlindungan kepada generasi muda. Negara seharusnya adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, karena negara berwenang menerapkan berbagai kebijakan mulai dari politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya.


Namun kini negara abai terhadap pembinaan moralitas remaja. Persoalan moral dipandang sebagai urusan personal, tanggung jawab keluarga, bukan menjadi tanggung jawab negara. Negara lebih banyak mengambil kebijakan kuratif, menangani korban pergaulan bebas, ketimbang mengambil tindakan preventif.


Faktanya negara lebih sibuk menangani korban aborsi ataupun penularan penyakit kelamin, termasuk HIV/AIDS di kalangan remaja. Alih-alih melarang pergaulan bebas di kalangan remaja, negara justru mengampanyekan bahaya pernikahan dini.

Padahal persentase kasus nikah dini amat rendah dibandingkan dengan perilaku pacaran dan seks bebas di kalangan pelajar. Negara mempersoalkan nikah dini yang sah secara hukum agama, sementara pacaran yang jelas mendekati zina justru dibiarkan.

Tidak ada perlindungan negara yang riil terhadap remaja dari ganasnya dunia maya dengan konten-kontennya yang merusak pemikiran dan perasaan remaja. Negara malah membiarkan perusahaan lokal dan mancanegara bersaing merebut pasar remaja yang haus akan gadget, berikut aplikasi-aplikasinya yang bermuatan gaya hidup hedonis, permisif, bahkan anarkis.

Maka, tak berlebihan kalau kita katakan bahwa negara telah gagal memberikan perlindungan bagi generasi muda. Penyebab utama kegagalan ini adalah karena negara memberlakukan sistem kehidupan sekuler-liberal.

Dalam sistem ini, agama tidak menjadi pondasi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Akibatnya generasi pun jauh dari nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi pedoman berpikir dan berperilaku. Parahnya lagi, ketika kalangan muda mulai bangkit kesadarannya untuk kembali kepada kehidupan Islam, mereka malah dicurigai dan di stigmatisasi sebagai intoleran, bahkan radikal. 

*Peran Negara dalam Islam*

Seharusnya negaralah yang menjadi benteng utama dalam melindungi generasi dari berbagai kerusakan pemikiran dan tingkah laku. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Namun al-imam yang disebutkan dalam hadis ini, yang akan menjadi perisai itu, memang hanya akan terwujud dalam sistem terbaik yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau dalam sistem kekhilafahan Islam. Berharap perlindungan hakiki bagi generasi dari pemimpin dalam sistem saat ini hanyalah “PHP” (pemberi harapan palsu). 

Selayaknya kita segera memperjuangkan sistem terbaik yang akan menjamin generasi muda tumbuh berkembang dalam tahanan hidup yang akan memuliakan manusia dan seluruh alam semesta. Tiada lain ialah dengan hanya menerapkan sistem Islam dalam naungan khilafah rasyidah 'ala minhajin nubuwah.
Wallahu a'lam. []

Oleh: Mariyam Sundari 
(Pengamat Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar