Nasib Generasi Bangsa yang Kian Terpuruk

TintaSiyasi.com -- Tahun 2021 telah beranjak dari tempatnya, pergantian tahun pun telah terlewati. Kini saatnya kita refresh semangat baru untuk melewati hari demi hari di tahun 2022. Namun, semangat yang harusnya direfresh masih dibayang-bayangi dengan segunung permasalahan masyarakat termasuk derita anak-anak di masa pandemi.

Pandemi sudah menyelimuti Indonesia lebih dari 2 tahun. Dampak yang ditimbulkan pun merambah ke berbagai aspek tidak terkecuali anak-anak. Mulai dari masalah kesehatan, mental, gizi, hingga tingkat kekerasan terhadap anak. Di masa pandemi, tak sedikit anak-anak yang harus kehilangan orang tuanya karena terpapar virus Covid-19.  Anak-anak juga berpotensi tertular virus yang membahayakan ini. Kehilangan kesempatan untuk belajar optimal seperti di masa normal juga dirasakan oleh anak-anak di masa pandemi. Mereka harus beradaptasi dengan kehidupan baru melalui belajar secara online (daring), terpisah dari teman-teman, keterbatasan pemahaman, dan sulitnya mencari sinyal di daerah-daerah terpencil, sehingga para guru harus mencari cara lain agar pembelajaran tetap berjalan (kompas.com, 27/07/2021).

Pembatasan fisik dan sosial yang diterapkan pemerintah juga mengubah emosi anak usia prasekolah. Anak-anak yang terbiasa bersosialisasi dan bermain dengan teman-temannya, kini harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Minimnya alat bermain yang menunjang sistem motorik, pertumbuhan dan perkembangan anak justru membuat mereka cepat merasa jenuh. Mereka juga akan sulit mengeksplorasi lingkungan sosialnya. Menurut Psikolog Universitas Airlangga, Primatia Yogi Wulandari, kondisi seperti ini akan menimbulkan emosi negatif akibat munculnya kecemasan, gelisah, khawatir dan rasa takut yang ditunjukkan oleh orang-orang disekitarnya. 

Untuk mengatasi masalah ini, banyak orang tua yang memberikan gawai kepada anak-anak sebagai sarana pembelajaran online sekaligus hiburan dikala jenuh. Namun faktanya, cara ini juga memicu masalah baru. Sebab, apabila tidak diawasi dengan baik, anak-anak justru akan mendapatkan banyak informasi melalui media online tanpa disaring terlebih dahulu. Sehingga, para orang tua harus lebih ekstra dalam menjalankan perannya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya yang masih minim akan ilmu (kompas.com 28/11/2021).

Tak hanya itu, rendahnya asupan gizi akibat faktor ekonomi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ASI yang cukup karena sang ibu terpapar Covid-19 juga menjadi sorotan. Tentu, dimasa pandemi seperti ini banyak masyarakat yang harus banting tulang lebih ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak sedikit pula yang harus menahan lapar karena tidak memiliki bahan makanan untuk memenuhi perut mereka yang kosong. Hal inilah yang menyebabkan anak tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kondisi ini tentu menimbulkan masalah baru bagi anak. Risiko sakit dan diare akan dirasakan oleh bayi yang kekurangan asupan gizi dan ASI. Sekalipun bayi mendapatkan ASI perah dari ibunya, namun hal tersebut juga berdampak negatif. Si bayi akan sulit beradaptasi dengan ASI ibunya karena sudah terbiasa mendapatkan ASI melalui dot (kompas.com 27/07/2021).

Kondisi seperti ini nyatanya akan membuka peluang besar bagi industri susu formula. Mereka justru memanfaatkan keterpurukan kondisi bayi dan ibu dengan terus mengembar-gemborkan pemasaran susu formula sebagai jalan pintas agar si anak tetap mendapatkan gizi yang cukup. Mulai dari iming-iming memberikan fasilitas gratis di rumah bersalin hingga teror yang berisi kata-kata meremehkan kemampuan seorang ibu dalam memberikan ASI terbaik bagi anaknya (kompas.com, 27/07/2021). Permasalahan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab, justru akan memperburuk keadaan ditengah kondisi ekonomi yang kian mencekik.

Menurut ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, terdapat 2.726 kasus kekerasan terhadap anak yang terhitung sejak Maret 2020 hinga Juli 2021, 52% diantaranya merupakan kasus kekerasan seksual. Kekerasan seksual yang terjadi bukan hanya pemerkosaan, tetapi juga sodomi, hubungan seks sedarah, dan lain-lain. parahnya lagi, kekerasan seksual ini dilakukan oleh keluarganya sendiri yaitu ayah atau paman. Kementerian perlindungan perempuan dan anak (KemenPPA) menyatakan bahwa total kekerasan terhadap anak di tahun 2019 sebanyak 11.057 dengan jumlah korban 12.285 anak. Di tahun 2020 total kasus meningkat menjadi 11.278 dan jumlah korban sebanyak 12.425. sedangkan di tahun 2021 hingga bulan Juli terdapat 7.089 kasus dengan 7.784 korban anak (kompas.com, 07/09/2021).

Tidak mudah untuk bertahan hidup di bawah naungan sistem kapitalisme. Permasalahan multidimensi yang harus dilalui masyarakat sangat menyiksa diri termasuk anak-anak. Kebutuhan dasar publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan nyatanya sangat sulit didapatkan dengan mudah, justru dijadikan sebagai komuditas komersialisasi para kapitalisme. Hak-hak anak yang seharusnya dapat dipenuhi kini layaknya mimpi yang akan lenyap ketika kita terbangun. Segala lini dimanfaatkan hanya untuk memuaskan kepentingan segelintir orang.

Permasalahan ekonomi yang tak kunjung selesai, ditambah dengan datangnya pandemi ke negeri ini. Semakin menambah penderitaan masyarakat yang harus berjuang keras, bercucuran keringat hingga rela menahan keroncongan perut yang terus meronta-ronta. Anak-anak yang tak bersalah justru menjadi korban keganasan kapitalisme. Asupan gizi yang cukup seharusnya mampu dirasakan masing-masing anak di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. 

Anak-anak juga merasakan pahitnya kekerasan seksual dari orang-orang terdekat mereka. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk berlindung, tempat terindah untuk berbagi kasih sayang, kini diciderai oleh nafsu orang-orang bejat. Mungkin saat ini, mereka akan menganggap tidak ada tempat ternyaman yang bisa ditinggali. Sebab, kekerasan seksual yang dialami menimbulkan perasaan takut, cemas, trauma dan depresi pada korban. Kondisi ini akan merusak masa depan anak yang seharusnya mampu menjadi agen perubahan.

Inilah sedikit gambaran buruknya sistem kapitalisme terhadap nasib generasi penerus bangsa. kapitalisme hanya berfokus pada asas manfaat di dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Maka wajar jika di zaman ini banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Moral anak bangsa juga kian terkikis akibat kurikulum pendidikan yang tidak sejalan dengan kebutuhan. Berbeda halnya dengan sistem Islam yang memfokuskan 3 (tiga) pilar di dalam menunjang perlindungan terhadap anak yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan penerapan hukum dan sistem Islam.

Di dalam sistem Islam, orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya yaitu sebagai tempat belajar ilmu agama. Orang tua akan mengajarkan hukum syara kepada anak sekaligus memahamkan kepada anak akidah yang kuat sehingga mereka paham akan keterikatan dengan hukum syara' di dalam menjalankan aktivitasnya. Di sisi lain, masyarakat juga menjadi social control yang memantau setiap pelanggaran termasuk kekerasan seksual terhadap perlindungan anak. Masyarakat juga mengontrol setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah agar sesuai dengan hak dan kewajiban anak. 

Negara juga memiliki peranan penting sebagai pihak yang membentuk suasana islami ditengah-tengah masyarakat melalui kurikulum pendidikan. Generasi penerus akan dididik dengan ilmu agama yang sempurna sehingga terbentuk kepribadian Islam di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang mengedepankan syakhsiyah Islam tentu akan melahirkan generasi terbaik yang memiliki moral tinggi. Anak-anak tidak akan dibentuk untuk menjadi pekerja industri. Di mana kecerdasan intelektual mereka hanya digunakan untuk para pemilik modal. 

Negara juga akan mendistribusikan kekayaan secara merata dengan memenuhi kebutuhan individu masyarakat tanpa pandang bulu, terutama kebutuhan dasar berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan. Penerimaan negara yang diambil dari banyak sumber salah satunya adalah sumber daya alam akan dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga mampu menjaga keberlangsungan ekonomi negara. Anak-anak pun akan mendapatkan asupan gizi yang cukup, fasilitas bermain yang memadai untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.

Keseimbangan hidup, kesejahteraan, dan ketenteraman hanya akan dirasakan masyarakat di bawah naungan sistem Islam. Permasalahan yang tersistematis dapat diselesaikan hingga ke akar dengan solusi Islam. Hal ini terjadi karena aturan yang digunakan berasal dari Sang Pencipta yaitu Zat yang mengetahui kelemahan dan kebutuhan makhluk ciptaan-Nya. Aturan yang sesuai dengan fitrah manusia dan tidak akan menimbulkan masalah baru. []


Oleh: Fahmara Ghaziya
(Aktivis Dakwah dan Pegiat Pena Banua)

Posting Komentar

0 Komentar