Narasi Moderasi Beragama, Bagian dari War on Islam



TintaSiyasi.com -- Setelah WoT (War on Terrorism) dan WoR (War on Radicalism), babak yang sesungguhnya WoI (War on Islam) pun telah muncul. Kemudian narasi moderasi beragama tanpa henti-hentinya dipromosikan sebagai solusi yang dianggap tuntas terhadap War on Islam

Secara tidak langsung menjadi medan tempur haq dan batil di pertengahan abad 21, bagaikan fatamorgana perdamaian atas dasar sekularisme. Hingga kini, arus global 'War on Islam' masih terus berlanjut.

Apakah sebenarnya perang melawan Islam, apakah sebagaimana perang melawan terorisme dan radikalisme? Benar-benar kebutuhan untuk berperang? Ataukah ada pihak lain yang sesungguhnya mengatur semuanya? Ibaratkan film ada yang bertugas membuat skenario, bertugas mengatur, mengarahkan, dan menjalankan cerita.

*Strategi RAND Corporation terhadap Kaum Muslim*

Adapun jawaban atas pernyataan di atas dapat terjawab melalui artikel yang diterbitkan Al-Waie.id, 28 Desember 2019. Disebutkan, tahun 2003 terbit dokumen RAND Corporation berjudul Civil Democratic Islam: Partners, Resources and Strategies. Dokumen berisikan kebijakan AS dan sekutunya atas dunia Islam untuk memetakan kekuatan (mapping), memecah-belah dan merencanakan konflik internal umat Islam melalui berbagai pola untuk mencegah kebangkitan Islam. 

Mengingat Rand Corp adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah yang dibiayai oleh Smith Richardson Foundation. Berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, Rand corp perusahaan bidang kedirgantaraan dan persenjataan Douglas Aircraft Company. Entah kemudian beralih menjadi think tank (dapur pemikiran) dengan dana operasionalnya berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer. 

Di tahun 2007, Rand menerbitkan dokumen Building Moderate Muslim Networks, memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia.

Apa hubungan yang termaktub dalam kedua dokumen tersebut? Tidak lain suatu ancaman bagi Barat terhadap peradaban dunia modern dan bisa mengantarkan pada clash of civilization (benturan peradaban), sehingga dunia Islam harus dibuat ramah terhadap demokrasi dan "modernitas" untuk mematuhi aturan-aturan internasional demi menciptakan perdamaian global. 

Dengan demikian, diperlukan pemetaan kekuatan dan pemilahan kelompok Islam dari segi kawan atau lawan, diperkuat atau dilemahkan, hingga dijadikan anak didik; serta pengaturan strategi pengerukan pengolahan sumber daya di seluruh dunia Islam. 

Untuk tujuan tersebut, umat Islam dibagi ke dalam empat kelompok, yakni;

1. Fundamentalis (Kelompok yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer, menginginkan formalisasi penerapan syariah Islam).

2. Tradisionalis (Kelompok konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan. Hanya berpegang pada substansi ajaran Islam tanpa peduli formalisasinya).

3. Modernis (Kelompok modern yang ingin reformasi Islam agar sesuai tuntutan zaman sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas).

4. Sekularis (Kelompok sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan privasi dan dipisah sama sekali dari urusan negara).

Setiap kelompok telah ditetapkan strategi masing-masing, namun sasaran utamanya menentang kaum fundamentalis dengan cara menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidakakuratannya. Kemudian mencegah upaya menunjukkan rasa hormat dan pujian atas perbuatan kekerasan kaum fundamentalis, ekstremis dan teroris. Lalu mengucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan. 

Berikutnya mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan dan tak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris. Dan terakhir mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.

Beberapa cara untuk memojokkan kaum fundamentalis, di antaranya dengan memutarbalikkan fakta tayangan aksi-aksi mengandung kekerasan di televisi, l.alu mempidana para aktivis Islam dengan tuduhan teroris atau pelaku kekerasan dan lain-lain. 

Di sisi lain juga mendorong kaum tradisionalis untuk melawan kaum fundamentalis dengan cara: (a) menerbitkan kritik-kritik atas kekerasan dan ekstremisme yang dilakukan kaum fundamentalis; (b) memperlebar perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis; (c) mencegah aliansi kaum tradisionalis dan fundamentalis; (d) memperuncing khilafiyah, yaitu perbedaan antarmazhab dalam Islam, seperti Sunni–Syiah, Hanafi–Hanbali, Wahabi – Sufi, dll. 

Tidak lupa mendukung selektif kaum sekularis, dengan cara: (a) mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai musuh bersama (b) mendorong ide bahwa dalam Islam, agama dan negara dapat dipisahkan dan hal ini tidak membahayakan keimanan tetapi malah akan memperkuat.

*Kritik atas Narasi War on Islam*

AS dan sekutu secara tidak tanggung-tanggung memberi arus dana individu dan lembaga-lembaga seperti LSM, pusat kajian di beberapa universitas Islam maupun universitas umum lain, serta membangun jaringan antarkomponen untuk memenuhi tujuan-tujuannya. Sebab AS dan sekutu sadar, mereka tengah terlibat dalam suatu peperangan total baik fisik (dengan senjata) maupun ide. 

Mereka ingin memenangkan perang itu dengan cara: “Ketika ideologi kaum ekstremis tercemar di mata penduduk tempat asal ideologi itu dan di mata pendukung”.

 Tujuan utama, menjauhkan Islam dari umatnya dan membuat orang Islam supaya tak berperilaku lazimnya seorang Muslim. Bahkan Departemen Luar Negeri AS dan USAID menunjuk pelaksana penyaluran dana dan kontak dengan berbagai LSM dan para individu di negeri-negeri Muslim. 

Di antaranya yaitu The National Democratic Institute (NDI), The Asia Foundation (TAF), dan The Center for Study of Islam and Democracy (CSID). NDI sangat aktif di awal reformasi dalam turut merancang berbagai langkah, termasuk dalam penyusunan berbagai RUU, untuk menentukan arah reformasi semu.

Sebagai seorang Muslim harusnya sadar pola yang digunakan masih sama seperti dulu ketika bangsa Eropa menjelajahi dunia, menyembunyikan niat 3G (Gold, Gospel, Glory) dengan alasan berdagang. Pola ini terus berulang karena cukup efektif untuk mengakali kaum Muslim. Menggunakan titik lemah yakni dari segi finansial, mengarahkan orientasi menghasilkan uang untuk melalaikan potensi besar identitas sejati seorang Muslim.

Dengan demikian, hal ini telah menjadi sebuah tekanan tersendiri bagi dunia Islam. Perkara sesungguhnya mereka tidak lagi hanya mendengungkan perang melawan terorisme atau radikalisme, melainkan sudah menunjukan wajah aslinya untuk perang melawan Islam. 

Secara langsung menunjukkan nikmat indah toleransi moderasi beragama versi mereka, namun secara tidak langsung mereka ingin kaum Muslim melupakan bahwa umat Muslim adalah umat yang paling toleransi. Sudah jelas dalam surah Al Kafirun, bahwa "Bagiku agamaku, bagimu agamamu." 

Jika mereka sungguh gigih merancang proyek bernama "moderasi" untuk menjauhkan kaum Muslim dengan agamanya, maka bagaimana seharusnya seorang Muslim itu bersikap? Tentu saja kembali ke identitasnya sebagai seorang Muslim yang menerapkan Islam secara menyeluruh dalam naungan khilafah ala manhaj nubuwwah dan menolak moderasi yang justru semakin mempluralismekan umat. Karena sejatinya Islam merupakan ajaran murni sejak masa Rasulullah SAW, tanpa perlu perubahan moderasi apa pun.

Oleh: Triani Agustina
(Aktivis Muslimah) 

Posting Komentar

0 Komentar