Muslimah Afghanistan, Tuntutlah Pemberlakuan Islam Kaffah!


TintaSiyasi.com -- Bagi Zaigul, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun dari Nangarhar yang tinggal di pengungsi internal di dekat ibu kota Kabul, kehidupan sebelum Taliban berkuasa pada 15 Agustus 2021 tentu saja sulit. Sejak Taliban kembali berkuasa, Afghanistan telah jatuh ke dalam krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, bank-bank kehabisan uang, dan pegawai negeri tidak dibayar selama berbulan-bulan. Penguatan miliaran dolar kekayaan Afghanistan oleh Amerika Serikat dan penangguhan bantuan keuangan oleh lembaga keuangan internasional telah mendekati keruntuhan sistem ekonomi Afghanistan yang rapuh, yang dihancurkan oleh perang dan pendudukan selama beberapa dekade. Kedua putrinya yang masih remaja berkumpul di dekatnya, dengan anak bungsu bernama Sana bermain kain perca dan duduk di belakangnya. Rumah satu kamar Zaigul kosong kecuali beberapa kasur usang yang diletakkan di atas lantai semen yang dingin. 

Di sudut berdiri kantong tepung kosong di sebelah oven berkarat yang dia gunakan untuk memanggang roti di malam hari. Keadaan menjadi lebih buruk bagi Anzorat Wali yang berusia 19 tahun, anggota tim taekwondo wanita Afghanistan. Ia frustrasi dengan larangan perempuan berpartisipasi dalam olahraga, juga menderita dari pendidikan yang terbatas untuk perempuan dan situasi keuangan keluarga mereka. Permasalahan Afghanistan makin memburuk dengan terus membesarnya tekanan opini dan penghapusan bantuan internasional (merdeka.com, 15/01/2022).

Pekan kemarin kita diramaikan dengan adanya permasalahan Afghanistan yang kian memburuk. Di mana sebuah negara yang berpenduduk Muslim, namun belum merdeka seutuhnya karena masih dalam bayang-bayang negara asing. Selama negara asing masih bercokol di sana, kebijakan politik dan keamanan negaranya akan diatur oleh negara asing tersebut. Namun, mengingat situasi ekonomi yang lemah, Afghanistan tidak dapat dengan mudah merdeka karena sangat membutuhkan dorongan yang kuat untuk membuatnya mandiri. Negara asal al-Biruni ini hanya akan mandiri jika tetap berpegang pada Islam sebagai mabdanya, sebuah idealisme yang tidak mengenal kata kompromi dengan musuh. Siapa musuhnya? Mereka jelas-jelas kafir yang memusuhi Islam. Artinya, Afghanistan harus mengambil tindakan tegas terhadap lawan-lawannya dan berani mendasarkan Islam pada semua keputusan. Begitu pula dengan pengelolaan sumber daya alam, Islam mengatur cara penggunaannya. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud).

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, negara mengeluarkan aturan tentang penggunaan sumber daya alam. Dimulai dari industri pertambangan yang menjadi tanggung jawab negara, prosesnya dilakukan oleh negara hingga hasilnya dapat dinikmati oleh rakyat. Negara juga  melarang orang asing menguasai dan tidak memprivatisasi sumber daya alam. Semua hasil dari sumber daya alam diberikan kepada orang-orang. Seandainya ini terjadi di Afghanistan, tidak akan ada kelaparan, kemiskinan atau kekeringan, karena negara itu memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. 

Selain adanya bencana besar kelaparan, kemiskinan ataupun kekeringan, perempuan di Afghanistan juga sulit untuk bertahan hidup. Pasalnya, Taliban telah mengambil alih negara, Taliban meminta perempuan untuk diam di rumah, dan larangan lainnya. hal ini tidak selaras dengan Islam, di mana Islam sendiri itu memuji wanita dengan melindungi kehormatan dan keamanan jiwa mereka. Pelecehan, eksploitasi, kekerasan fisik atau seksual adalah kejahatan serius dan dihukum berat. Islam menempatkan perempuan pada tanggung jawab suami, ayah, kerabat laki-laki, atau negara. Namun, Islam mengizinkan wanita untuk bekerja di berbagai bidang sesuai dengan syariah-Nya. 

Islam juga memberi perempuan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan praktik kehidupan yang berbeda. Islam bahkan mempelopori pemberian hak-hak politik perempuan, seperti hak memilih penguasa, memilih wakil, dan menasihati penguasa. Islam menciptakan perempuan untuk menjadi istri, ibu dan penerus generasi menurut fitrah yang diberikan oleh Allah SWT. namun, Islam tidak menjadikan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Islam menyatakan bahwa kemuliaan seseorang terletak pada ketakwaannya kepada Allah SWT. 

Praktik Islam yang dijalankan secara tidak utuh oleh rezim baru, justru menjadi celah menekan Afghanistan agar lepas dari keterikatan Islam. Semestinya perempuan Afghanistan tidak terprovokasi opini Barat dan justru menuntut pemberlakuan Islam secara kaffah karena kesulitan hidup mereka akan terurai dengan tegaknya Islam. Dari sini dapat dipahami bahwa Afghanistan tidak akan pernah merdeka dan stabil tanpa dukungan Islam. Sebagaimana masa Khulafaur Rasyidin dan khulafa setelahnya. Hanya di bawah naungan khilafah, Afganistan tidak akan tunduk pada asing. Begitu pun terhadap sumber daya alamnya, hanya aturan Islam yang mampu mengelola untuk diberikan kepada rakyat. Oleh karena itu, baik di Afghanistan maupun negara-negara Islam lainnya, hanya Khilafah Islamiyah yang layak mendapatkan harapan dari semua wanita.

Penghormatan dan realisasi hak-hak perempuan juga hanya akan terwujud di negara-negara yang menerapkan Islam secara kaffah, yaitu sistem Kekhilafahan Islam. Negara-negara Barat yang sekuler sama sekali tidak memiliki harapan, karena aturan hidup dibangun di atas kecerdasan manusia yang lemah dan memiliki kepentingan dan potensi konflik individu atau kelompok. Allah Mahakuasa lagi Mahamengetahui aturan terbaik untuk mengatur pria dan wanita dalam kehidupan yang harmonis. Oleh karena itu, khilafah bisa menjadi negara yang memuliakan wanita. 

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Sanyya Ahfa
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar