Mengucapkan Selamat Natal Jatuh pada Keharaman



TintaSiyasi.com -- Membincang hukum mengucapkan selamat Natal, Pengasuh M.T. Darul Hikmah Banjarbaru Kalimantan Selatan Ustaz Muhammad Taufik NT menilai, hal itu bisa jatuh pada keharaman.

"Mengutip dari pendapat para ulama terdahulu. Itu sepakat bahwa mengatakan ini, kalau memang tidak ada i'tiqod-nya. Sebagaimanai'tiqod-nya Nasrani selamat dari kekafiran. Maka, terjatuh kepada keharaman," tuturnya dalam Kajian Afkar Islam: Hukum Mengucapkan Natal Menurut Imam Madzhab, di YouTube Khilafah Channel Reborn, Selasa, (21/12/2021).

Ia menjelaskan, secara umum mengucapkan selamat natal, dan umat yang ikut-ikutan berarti ikut mendoakan, ikut senang dengan kekufurannya. "Ada orang melakukan kekufuran kita berdoa ikut senang dengan kekufurannya," katanya.

Menurutnya, doa untuk kemaksiatan yang dilakukan oleh non-Muslim itu kalau sekadar misalnya, non-Muslim dapat nikmat terus kita ikut senang ya tidak apa-apa. Tetapi, jika orang non-Muslim melakukan sesuatu yang i'tiqod (keyakin) nya itu bertentangan dengan i'tiqod Islam, tetapi umat Islam malah ikut-ikutan mengucapkan selamat.

"Selamat ini maknanya ikut berbahagia. Jadi, ada dua di situ bisa kafir, bisa haram," kutipnya.

Ia menerangkan pendapat Ibnu Qoyyum Al-Jauziyah dalam kitab Ahkamul Ahli Dzimmah yang mengatakan, adapun mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar kekufuran yang khusus untuk orang-orang non-Muslim, maka itu hukumannya haram. 

"Secara ittifaq (kesepakatan) tidak ada perbedaan pendapat," katanya mengutip pendapat Ibnu Qoyyum.

Masih mengutip pendapat Ibnu Qoyyum, haram ini catatannya, kalau orang yang mengatakan selamat kepada non-Muslim itu dari kekufuran. Tetapi, kalau sampai menyakini non-Mjnuslim ini juga betul-betul selamat sampai di akhirat itu bukan hanya haram, tetapi sudah jatuh kepada kekufuran.

"Kata Ibnu Qoyyum lagi, kedudukan yang mengatakan itu, sama dengan kedudukan orang yang mengucapkan selamat berbahagia kepada orang yang sedang sujud di depan salib. Itu lebih besar dosanya di sisi Allah," katanya.

"Murka Allah lebih besar lagi daripada mengucapkan selamat kepada orang yang sekedar minum khamar, membunuh dan berzina," tuturnya mengutip pendapat Ibnu Qoyyum.

Ia menjelaskan, dalam riwayat Abdul Razak, Ibnul Mundzir dan Al Hakim. Ustaz Taufik mengutip dari tafsir Al-Durrul al Mantsur tertulis bahwa, Umar bin Khattab ra pernah melewati rahib, maka Umar melihat itu adalah orang yang kondisinya menderita, kurus, kering, para rahib bersungguh-sungguh dalam beribadah, alim dan zuhud. Melihat begitu Umar pun menangis. 

Ia melanjutkan, padahal yang ditangisi itu seorang Nasrani, Umar menangis karena kasihan kepada rahib-rahib dan itu mereka sudah bekerja keras, bersusah payah beribadah, tetapi kelak akan memasuki neraka yang sangat panas.

"Ini bentuk kasih sayang itu, menangis seharusnya bukan ikut bergembira. Kalau ikut bergembira, itu artinya bergembira melihat orang tersebut disiksa Allah kelak di akhirat," pungkasnya.[] Faizah

Posting Komentar

0 Komentar