Maraknya Penistaan Agama Berdalih Kebebasan Berekspresi

TintaSiyasi.com -- Islam adalah agama yang sempurna, yakni menyempurnakan syariat Nabi dan Rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW diutus untuk menyampaikan risalah Islam bagi seluruh alam. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, manusia seringkali ingin mencoba hal yang baru dalam rangka mengasah keterampilan yang dia miliki. Seiring dengan itu, kebebasan berekspresi seolah menjadi jargon dalam mengasah keterampilan hari ini. Parahnya lagi, dukungan sistem kapitalisme menyebabkan kebebasan berekspresi tak pedulikan batasan hukum Sang Pencipta. Sebagaimana yang terjadi pada tahun 2021, terdapat lebih dari satu kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam.

Terkini.id (12/12/2021) melansir, Aktivis dan pegiat media sosial, Nicho Silalahi menyampaikan pesan kepada umat Islam, khususnya mengenai penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Nicho Silalahi menilai bahwa selama umat Islam diam, maka pelecehan dan penghinaan kepada keyakinan mereka akan terus terjadi. Ia mengatakan ini saat merespons pegiat media sosial, Helmi Felis yang mengkritik keras Joseph Suryadi yang diduga menghina Nabi Muhamamd SAW.

Sebagaimana diketahui, tagar “Tangkap Joseph Suryadi” sempat trending di Twitter usai tangkap layar unggahannya di grup Whatsapp soal Nabi Muhammad dan Aisyah tersebar. Anggota grup Whatsapp diduga Joseph Suryadi menyinggung soal Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah di usia muda dan mengaitkannya dengan terdakwa pemerkosa 12 santriwati, Herry Wirawan.

Menanggapi ini, Helmi Felis pun menilai bahwa seharusnya Joseph Suryadi bukan ditangkap, melainkan dilempari batu hingga mati. “#TangkapJosephSuryadi? Kok tangkap? Gak di lempari batu aja sampai mati? Penghinaannya sudah melampaui batas itu,” katanya pada Senin, 13 Desember 2021.

Hidayatullah.com (23/08/2021) melansir, Pemerintah diminta untuk segera menyelesaikan kasus Youtuber Muhammad Kece (M Kace) yang diduga telah menghinakan agama Islam sebagaimana dorongan dari banyak kalangan.

Komentar-komentar Youtuber M Kece itu sangat provokatif, khususnya bagi umat Islam. Pemerintah melalui pihak kepolisian harus bersikap tegas dengan segera menyelesaikannya,” ujar Netty Prasetiyani anggota Komisi IX DPR RI, melalui keterangan resminya. "Hal semacam itu jika dibiarkan berlarut-larut akan menguras energi bangsa. Padahal saat ini kita sedang fokus kepada penanganan pandemi Covid-19,” sambungnya.


Kapitalisme Sekularisme Tumbuh Suburkan Penista Agama

Tak bisa dipungkiri bahwa sistem hidup yang diterapkan dalam masyarakat akan sangat mempengaruhi pola pikir dan pola sikap mereka. Kalau hari ini dijumpai masyarakat yang materialistik dan permisif (serba boleh), itu karena sistem hidup yang mengatur mereka adalah kapitalisme sekularisme. Masyarakat yang hidup dalam cengkeraman kapitalisme sekularisme, standar kebahagiaan mereka adalah materi (harta atau popularitas). Sehingga pola pikir dan pola sikap mereka selalu berfokus pada pengumpulan pundi-pundi uang dan eksistensi diri berupa jabatan atau popularitas.

Kapitalisme sekularisme sebabkan manusia memiliki ambisi yang menggebu pada dunia. Tak ayal, batasan halal haram seringkali dilanggar. Asalkan kenyang, asalkan tenar atau populer, apapun akan dilakukan. Nabi Muhammad SAW manusia paling agung pun menjadi sasaran bagi orang-orang yang pendek akalnya dan rakus dunia. Demi meraih popularitas atau pundi-pundi uang, tak jarang konten kreator berani menistakan Islam dan Rasulullah SAW. Tidak hanya kali ini saja, kasus menistakan Islam dan Nabi Muhammad SAW nampak seringkali terjadi dalam kapitalisme sekularisme. Parahnya, hukuman bagi penista Islam dan Nabi Muhammad SAW tak pernah tegas. Walhasil, para penista agama makin tumbuh subur dalam sistem hidup hari ini.


Penghina Nabi Layak Dihukum

Menghina Nabi SAW adalah tindakan kekafiran, dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Baik dilakukan serius maupun dengan bercanda. Allah SWT berfirman:

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ

"Jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah: 65).

Saat orang-orang munafik yang menghina Nabi itu menyanggah, bahwa mereka melakukan itu hanya sekedar bercanda, Allah menjawab:

لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

"Tidak perlu kalian mencari-cari alasan, karena kalian telah kafir setelah beriman." (QS. At-Taubah: 66).

Para ulama sepakat (ijma’), bahwa orang yang mengina Nabi, layak mendapat hukuman mati.

Syaikhul Islam al-Harrani dalam kitabnya as-Sharim al-Maslul:

وقد حكى أبو بكر الفارسي من أصحاب الشافعي إجماع المسلمين على أن حد من سب النبي صلى الله عليه و سلم القتل كما أن حد من سب غيره الجلد

"Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama syafiiyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabiﷺ adalah bunuh, sebagaimana hukuman bagi orang yang menghina mukmin lainnya berupa cambuk."

Syaikhul Islam al-Harrani ra, dan dikuatkan oleh Syekh Ibnu’Utsaimin ra, beliau menyatakan:

فصارت الأقوال في المسألة ثلاثة، أرجحها أن توبته تقبل ويقتل

"Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama. Namun pendapat yang paling kuat, taubatnya diterima dan tetap berlaku hukuman mati." (Liqo’ al-Bab al- Maftuh 5/53).

Wahai kaum Muslim, hanya dengan berjuang menegakkan Khilafah Islamiyah dan menegakkan hukum sesuai dengan syariat Islam lah para penghina Nabi akan jera. Karena hukuman terhadap penista agama dalam sistem Islam sangat tegas. Tanpa pandang bulu, hukum pidana dalam sistem Islam memiliki fungsi sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (memberikan efek jera). Niscaya, para penista agama dengan dalih kebebasan berekspresi tidak akan berani menampakkan batang hidungnya.

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Venni Hartiyah
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar