Layangan, Jangan Putus

TintaSiyasi.com -- Siapa yang sudah nonton drama series Layangan Putus? Apa kabar hati mak eh sobat maksudnya? Ikutan sebel dan murka gara-gara laki-laki kayak Aris?Hadeuh, banyak loh laki-laki kayak di zaman sekarang dipelihara oleh kejamnya sekularisasi. Sebenarnya tahun 2019 lalu tulisan cerita layangan putus ini viral. Emak-emak bangsa bersatu jadi detektif sampe tokoh cerita dalam tulisan itu dan ternyata "ketemu" di dunia nyata. 

Tapi, memang ada perbedaan antara versi tulisan dan dramanya. Kalau di novel topic issue-nya adalah poligami, di mana suami tidak memiliki adab-adab poligami. Menikah diam-diam kemudian bulan madu ga bilang-bilang, tak pulang-pulang. Setelah itu rumah tangga melayang, putus sudah layang-layang. Huhfftt so sad.

Versi drama sebenarnya topic issue-nya bukan poligami. Tapi benar-benar selingkuh. Suami punya wanita idaman lain tanpa ikatan. Pelakor memiliki niat tidak baik untuk menghancurkan rumah tangga pertama pasangannya. Suami menghabiskan uang 5M untuk beli penthouse dan liburan ke Cappadocia demi WIL dan "lupa" dengan istri di rumah yang tengah hamil. Huhfft so sad. Dari sudut pandang hukum syara', poligami berbeda dengan selingkuh.

Meskipun keduanya (mungkin) memiliki efek yang sama, misalnya hati wanita yang tersakiti dan atau rumah tangga yang berujung perceraian. Poligami hukumnya mubah sementara selingkuh hukumnya haram. Yang satu dibolehkan oleh Allah, yang satu dilarang oleh Allah. Yang satu memiliki adab-adab yang harus diperhatikan agar terlaksana dengan baik, yang satu harus mutlak ditinggalkan. Dan tak jarang terjadi perceraian, dan masih banyak problem yang menunjukkan bahwa ketahanan keluarga di negeri ini sedang melemah atau kian terancam.

Merebaknya kemiskinan dan pengangguran, dekadensi moral termasuk perselingkuhan pasangan menikah dan free sex di kalangan remaja yang kian membudaya. Pelaku penyimpangan seksual dan kasus-kasus incest yang juga kian mencuat. Lebih-lebih lagi  pemahaman masyarakat kaum Muslim, terhadap sistem pergaulan pria wanita dalam Islam mengalami kegoncangan dahsyat. Pemahaman  mereka amat jauh dari hakikat Islam, dikarenakan jauhnya mereka dari ide-ide dan hukum-hukum Islam.  Dan ternyata  karena sudah tercekokinya pemikiran umat Islam dengan sistem sekarang yakni sistem kapitalisme, paham-paham akan liberalisme (kebebasan). 

Dari kebebasan inilah, menjadi standar kehidupan masyarakat hidup dengan semaunya, sesuai dengan hawa nafsu. Padahal untuk mencegah terjadinya segala problematika terkhusus masalah pergaulan yang tidak abisnya di negeri ini, Islam memiliki peraturan dan problem solving bagi manusia. Adapun mekanismenya:

Pertama, Islam menerapkan sistem pergaulan yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan, baik ranah sosial maupun privat. Islam memerintahkan menutup aurat atau segala sesuatu yang merangsang sensualitas, karena umumnya kejahatan seksual itu dipicu  rangsangan dari luar yang bisa memengaruhi naluri seksual (gharizah an-nau’). Islam pun membatasi interaksi laki-laki dan perempuan, kecuali dalam beberapa aktivitas yang memang membutuhkan interaksi tersebut, seperti pendidikan (sekolah), ekonomi (perdagangan, pasar) dan kesehatan (rumah sakit, klinik, dan lain-lain).

Kedua, Islam memiliki sistem kontrol sosial berupa perintah amar makruf nahi mungkar. Saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan, juga menyelisihi terhadap segala bentuk kemaksiatan. Tentu semuanya dilakukan dengan cara yang baik.

Ketiga, Islam memiliki sistem sanksi tegas terhadap pelaku kejahatan seksual. Contohnya, sanksi bagi pelaku tindak perkosaan berupa had zina, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati, jika pelakunya muhshan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali dan diasingkan selama setahun, jika pelakunya ghairu muhshan (belum menikah).

Ketika sistem ini dan peraturan ini yang diterapkan maka, segala problematika kekerasaan seksual, perselingkuhan  terkhusus pasti dapat terminimalisir dan tidak akan ada lagi, karena baik dari sanksi yang diberikan negara akan berakibat jera terhadap pelaku untuk melalukan perzinahan ataupun kekerasan seksual.

Wallahu a'lam. []


Oleh: Siti Hajar
(Aktivitas Dakwah, Pemerhati Remaja)

Posting Komentar

0 Komentar