Kurikulum Ganti Lagi, Kesenjangan Menjadi-jadi, Arah Pendidikan Lari-Lari

TintaSiyasi.com -- Sejak negeri ini merdeka sampai sekarang kurikulum yang ada di dalam negeri tercinta belum mendapatkan jati dirinya. Terhitung sejak awal kemerdekaan sampai sekarang kurikulum pendidikan sudah berganti sebanyak sepuluh kali. yang terbaru adalah perubahan terkait kurikulum yang  memiliki 3 opsi yang dapat dipilih yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat (kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan kurikulum prototipe. Hal ini dilakukan oleh penguasa untuk pemulihan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 (tribunnews.com, 22/12/2021).

Salah satu tokoh yang mendukung kebijakan ini adalah komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI) Syaiful Huda yang mendukung opsi penerapan kurikulum prototipe yang digagas Kemendikbud Ristek sebagai pilihan untuk sekolah dalam mengatasi permasalahan kehilangan pembelajaran atau learning loss dan mengakselerasi transformasi pendidikan nasional (Kompas.com, 30/12/2021).

Learning loss merupakan istilah yang mengacu pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum atau spesifik, atau terjadinya kemunduran dalam proses akademik karena suatu kondisi tertentu yang ada pada peserta didik. Hal ini bisa disebabkan karena libur sekolah yang terlalu panjang, peserta didik yang terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang kurang mampu, dan pembelajaran jarak jauh yang telah berlangsung sangat lama, hal ini dilakukan agar peserta didik dan guru terhindar dari paparan virus Corona (kompasiana.com, 1/1/2022).

Beberapa minggu yang lalu, Komisi X DPR RI menyelenggarakan rapat kerja dengan Mendikbudristek. Mereka membahas tentang kurikulum terbaru ini, anggota Komisi X berpesan agar penerapannya tidak justru melanggengkan kesenjangan mutu antar sekolah dan daerah. Tidak dapat dipungkiri bahwa kesenjangan pendidikan yang terjadi bukanlah baru saat pandemi namun sudah dari dulu dan diperparah dengan adanya pandemi. Satu tahun pandemi berlalu, hasil belajar literasi dan numerasi siswa di wilayah timur Indonesia sudah tertinggal sekitar 8 bulan belajar dibanding mereka yang tinggal di wilayah barat. Banyak faktor yang menyebabkan ketertinggalan tersebut, sebut saja siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar, seperti buku teks, tertinggal 14 bulan belajar dibanding mereka yang memilikinya. Selain itu, siswa yang ibunya tidak bisa membaca bahkan tertinggal 20 bulan belajar dibanding mereka yang ibunya bisa membaca. Data PISA juga menunjukkan bahwa sekolah yang melayani siswa dari keluarga kurang mampu secara rata-rata tertinggal 3 sampai 4 tahun pelajaran dibanding yang melayani siswa dari kelas sosial-ekonomi atas.(news.detik.com, 27/12/2021).

Walaupun ada yang menyambut positif kebijakan kurikulum prototipe Kemendikbud Ristek. Namun banyak yang mempertanyakan dampak kebijakan tersebut pada salah satu fakta bahwa kebijakan ini akan menyebabkan kesenjangan pendidikan. Akhirnya banyak yang bertanya-tanya, Jangan-jangan kurikulum itu hanya akan diterapkan oleh sekolah-sekolah yang memang sudah bagus? Ataupun bisakah diterapkan oleh sekolah yang bahkan jaringan saja susah masuk dalam desa mereka?

Sungguh sangat memprihatinkan memang, jika kita melihat kesenjangan yang terjadi di dunia pendidikan saat ini. Apalagi setelah pandemi hadir maka bertambah panjanglah kesenjangan yang terjadi. Agaknya, salah satu di antara kekurangan dari kurikulum prototipe adalah tidak bisanya kurikulum ini diterapkan pada sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas yang mempuni berikut ketidaksiapan guru dan peserta didiknya. Sehingga sekolah dengan standar yang bagus akan terus berkembang dan sekolah yang di bawah standar akan terus tertinggal. 

Sistem pendidikan memang tidak dapat dipisahkan dengan sistem ekonomi yang diadopsi oleh suatu negara. Karena pendidikan yang bagus akan didapatkan jika negara menyediakan sekolah dan segenap fasilitas yang akan menunjuang proses belajar mengajar. Namun agaknya pendidikan yang gratis dengan standar tinggi dan merata di seluruh wilayah hanyalah khayalan dalam sistem kapitalisme. Karena pendidikan dalam sistem kapitalisme tidaklah gratis, jika orang tua mempunyai dana yang lebih maka dia bisa menyekolahkan anaknya di sekolah favorit dengan fasilitas lengkap dan guru yang kompeten, jika tidak punya dana maka orang tua terpaksa menyekolahkan anaknya di sekolah biasa dengan fasilitas seadanya bahkan ada yang putus sekolah karena tidak sanggup membayar iuran sekolah. 

Pendidikan merupakan hak bagi setiap individu yang wajib dipenuhi oleh negara, serta tertera dalam UUD 1945. Namun realitanya masih banyak dari anak bangsa yang tidak mampu sekolah bahkan putus ditengan jalan dengan alasan yang sama. Ditambah dengan pandemi yang membuat pembelajaran yang awalnya luring harus dilakukan secara daring, sehingga setiap peserta didik paling tidak memiliki smartphone dengan kuota yang cukup untuk belajar dari rumah. Padahal kita tahu masih banyak anak-anak yang tidak mempunyai smartphone, jangankan smartphone untuk makan sehari-hari saja susah. Miris memang, padahal kita tinggal di negara dengan sumber daya alam melimpah ruah bahkan tidak hanya dari daratan namun lautannya tidak kalah banyak.

Namun lagi-lagi, sistem kapitalisme yang diterapkan membuat sumber daya alam melimpah tersebut tidak bisa leluasa dinikmati karena negara tidak secara langsung mengelolanya. Tapi negara hanya berperan sebagai regulator, yang mengelola sumber daya alam tersebut adalah para pemilik modal yang jelas hasilnya nanti untuk memperkaya diri sendiri. sedangkan negara hanya mendapatkan beberapa persen dari hasilnya. Padahal jika sumber daya alam dikelola sendiri oleh negara, maka akan menjadi dana masukan utama untuk APBN negara yang bisa digunakan untuk pendidikan yang gratis bagi seluruh rakyat. 

Selain itu di balik kurikulum baru yang akan memperbesar kesenjangan yang terjadi kian memprihatinkan yang terjadi pada bidang pendidikan, arah pendidikan yang semakin tidak jelas juga menjadi imbas dari kurikulum yang terus berganti. Membebaskan untuk memilih kurikulum dari ketiga kurikulum yang sudah ditetapkan yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat (kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan kurikulum prototipe, walaupun sekilas memudahkan dan memerdekakan tenaga pendidik dengan adanya alternatif yang ditawarkan dengan kurikulum prototipe yang katanya akan mengurangi learning loss namun sebaliknya konsep ini sangat bertentangan dengan islam. Berbeda dengan cara pandang dalam islam, konsep ini lahir dari sistem kapitalis-sekuler yang menjunjung tinggi asas kebebasan.

Agaknya sangat jelas bahwa adanya kebebasan dalam menentukan kurikulum di setiap sekolah menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan tidak mempunyai konsep yang baku. Ketidaktegasan ini akhirnya akan berdampak pada kualitas pencapaian dari proses pembejararan siswa. Tidak hanya itu, hal ini juga akan berpengaruh kepada kualitas output generasi yang akan dihasilkan nantinya. Padahal kurikulum merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam proses pembelajaran dan dalam menghasilkan output generasi yang mempuni. Namun pada kenyataannya, saat ini setelah diterapkannya konsep merdeka belajar, kurikulum pun dibebaskan. Tetapi pertanyaannya, akan dibawa kemanakah generasi ini di masa yang akan datang? 

Sesuai dengan prinsip dari perbuatan terbaik, walaupun niatnya baik namun caranya juga harus benar, jika akan membuat perubahan dalam kurikulum pun haruslah jelas tujuannya jangan sampai lari dari hakikat tujuan pendidikan itu sendiri. Alhasil, arah pendidikan malah semakin tidak jelas, impian dan realita tidak sejalan akibat dari penerapan sistem kapitalis-sekuler.

Berbeda dengan kurikulum dalam sistem kapitalisme yang bisa digonta-ganti, dalam sistem pendidikan Islam keunggulannya adalah terdapat kekhasan yaitu kurikulum yang jelas dan telah terbukti menghasilkan generasi yang terbaik. Pengamat pendidikan dan isu generasi, Yusriana, didalam podcast muslimah media center (2/1/2022) dengan judul Ngomong Politik-Resolusi Pendidikan tahun 2022, menyampaikan bahwa didalam sistem pendidikan Islam, asas yang digunakan sahih karena lahir dari paradigma pendidikan yang shahih. Terlebih lagi menurutnya pendidikan wajib sesuai dengan akidah Islam. akidah Islam merupakan landasan utuma dalam kehidupan baik dalam pemerintahan maupun pendidikan.  Tujuan kurikulum harus sesuai dengan aturan Islam yaitu membentuk kepribadian Islam maupun membekali peserta didik dengan tsaqafah Islam dan ilmu kehidupan  sehingga peserta didik mampu menyelesaikan tantangan kehidupan. Kemudian, adanya kejelasan arah pendidikan dengan paradigma pendidikan yang berbasis akidah Islam, sehingga negara tidak mengacu pada proses pembelajaran atau output kualitas yang sekuler dan tentunya terhindar dari arahan pihak asing, namun kurikulum akan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islami yang tentu akan menghasilkan SDM yang handal walaupun sedang dalam kondisi pandemi. 
Menurut Yusriana, visi ilmu pengetahuan dalam sistem Islam adalah untuk kemaslahatan umat dan peradaban Islam yang mulia dengan didukung sistem politik dan ekonomi yang baik sehingga pelaksanaannya akan memudahkan terwujudnya semua kemaslahatan tersebut. Sebab pendidikan memang ditujukan untuk memaslahatan umat. Keselarasan dan keberagaman kurikulum dalam sistem Islam berlaku seragam dalam semua jenjang dan satuan belajar. Sehingga tidak boleh ada sekolah yang menggunakan kurikulum yang berbeda dengan yang sudah ditetapkan oleh negara, sekalipun teknis pelaksanaannya bisa saja menyesuaikan kondisi, misal disaat pandemi maka asas, tujuan dan metode pendidikannya tidak akan berubah, namun konten rinciannya bisa saja berubah. Jadi menurut yusriana, ketegasan inilah yang akhirnya akan menjadi kunci sukses tercapainya tujuan dari sistem pendidikan dalam Islam.

Oleh karena itu membebaskan pemilihan kurikulum bukanlah solusi dalam menghadapi learning loss akibat pandemi, justru pemerintah seharusnya menerapkan standar kurikulum yang baku. Dan jelas hal ini tidak akan kita dapatkan dalam sistem kapitalisme sekuler yang menjadikan pendidikan hanya untuk asas materi semata bukan untuk kemaslahatan umat. Sebaliknya kurikulum yang baku dan sudah terbukti menghasilkan output yang akan berguna bagi kemaslahatan umat hanya akan kita dapatkan dalam sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah. []


Oleh: Nada Navisya
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar