Kondisi Berulang, Harga Bahan Pangan Kian Melonjak

TintaSiyasi.com -- Sejak mendekati Natal dan Akhir Tahun 2021 hingga kini memasuki bulan pertama di Tahun Baru 2022 harga beberapa bahan pangan terus mengalami kenaikan. Beberapa bahan pangan tersebut adalah minyak goreng, cabai, dan telur. Menurut Andreas, kenaikan harga bahan pangan disebabkan oleh beberapa alasan, seperti pada kenaikan cabai dipicu oleh fenomena alam yang menyebabkan banyak petani mengalami gagal panen, sementara akhir tahun selalu tinggi permintaan terhadap bahan pangan tersebut. Begitu pula dengan kenaikan minyak goreng disebabkan oleh permintaan luar negeri terhadap kelapa sawit yang tinggi, sehingga para pelaku usaha memanfaatkan kenaikan harga untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi pula.

Harga kenaikan bahan pangan tersebut yang tak kunjung usai sangatlah mencekik masyarakat, bahkan menurut Peneliti Core Indonesia, Dwi Andreas mengatakan bahwa harga komoditas tersebut dapat dikatakan melewati batas harga psikologis, namun masyarakat diminta untuk tidak khawatir. Pernyataan tersebut karena diperkirakan pada akhir bulan Januari kenaikan harga akan berangsur-angsur turun. 

Namun jika kita perhatikan setiap menjelang tahun baru dan Bulan Ramadhan kenaikan beberapa harga bahan pangan selalu saja melonjak, benar begitu? Lalu, dengan menurunnya harga bahan pangan di akhir Januari apakah menjamin pada Bulan Maret ketika menjelang Bulan Ramadhan harga bahan pangan tidak naik lagi? Kenaikan bahan pangan pada momen-momen tertentu sudah menjadi tradisi di negeri ini, dan akan tetap selalu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat. Maka sudah seharusnya sejak lama pemerintah menangani dengan tegas kasus kenaikan harga bahan pangan ini.

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dari terus berulangnya kenaikan harga bahan pangan yang terjadi dalam sistem sekuler kapitalisme. Di mana permasalahan yang terjadi bukanlah sekedar akibat dari fenomena alam sehingga gagal panen, tingginya permintaan luar negeri sehingga di negeri yang banyak ditanami kelapa sawit juga ikut menderita akibat kenaikan harga tersebut. Permasalahan sebenarnya yakni adanya pengaturan perekonomian yang jauh dari aturan Sang Pencipta. Dalam sistem kapitalisme pemerintah tunduk pada korporasi, sehingga ketika terjadi kenaikan harga bahan pangan tidak bisa campur tangan. Selain itu dalam perekonomian kapitalisme selalu ada mafia pangan atau spekulan yang memiliki lahan bahkan mengatur pendistribusian hingga harga jual suatu bahan pangan, bahkan ada yang terus menimbun bahan pangan untuk disimpan dan akan dijual saat harga meningkat.

Begitulah ketika pemerintahan tunduk pada korporasi bukan kepada Sang Ilahi,  permasalahan teknis yang menyebabkan naiknya harga bahan pangan sulit untuk diselesaikan. Sudahlah begitu pemimpin kita tidak benar-benar memahami makna menjadi seorang pemimpin seperti yang terdapat dalam hadis berikut:

"Imam (Khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. al-Bukhari).

Sebab jika betul memahami makna tersebut maka permasalahan umat akan diselesaikan dengan sungguh-sungguh dan sesuai syariat. Permasalahan yang menyengsarakan termasuk kenaikan harga bahan pangan ini akan segera diatasi dengan mudah. Namun jika pemerintah juga tidak tunduk pada korporasi melainkan kepada Allah SWT maka permasalahan akan bisa diselesaikan.

Sebagai bentuk bukti pemimpin bertanggung jawab dalam mengurusi rakyatnya, dalam Islam pengaturan perihal perekonomian agar stabilitas harga tetap terjaga, yaitu:

Pertama, akan dilakukan penjagaan ketersediaan stok pangan agar penawaran dan permintaan stabil, yaitu dengan cara menghidupkan lahan sesuai syariat, memberikan fasilitas penelitian untuk riset terkait inovasi yang berkembang dalam bidang pertanian termasuk agar produktivitas pertanian tinggi, serta teknologi mengenai prediksi cuaca dan iklim sebagai upaya pencegahan gagal panen. Apabila diperlukan negara juga akan impor dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi ketersediaan bahan sehingga harga tetap stabil. 

Kedua, distribusi juga akan dilakukan tanpa memandang otonomi daerah, pada daerah yang surplus bahan pangan akan didistribusikan kepada daerah yang sedikit atau mengalami kelangkaan. Transportasi juga akan diperbaiki baik alat pengangkutnya maupun jalan yang digunakan sehingga proses pengiriman berjalan lancar.

Ketiga, pengaturan tata niaga meliputi pencegahan dan menghilangkan distorsi pasar, dilarang adanya penimbunan, praktik tengkulak, adanya praktik riba, bahkan kelompok tertentu yang mengatur harga pasar. Dalam Islam juga akan ada Qadhi Hisbah yang bekerja untuk menghukum pelaku kecurangan pada sistem perekonomian maupun saat terjadi transaksi di pasar.

Cara di atas merupakan aturan yang berasal dari Pencipta, dan wajib bagi kaum Muslim untuk menerapkan aturan tersebut. Apabila ingin permasalahan kenaikan harga bahan pangan pada momen tertentu yang sudah menjadi tradisi di negeri ini segera berakhir, maka kembali pada penerapan aturan dalam sistem Islam adalah satu-satunya solusi jitu. []


Oleh: Nida'ul Haq
(Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar