Ketua FDMPB: Dalam Demokrasi Tidak Ada Teman Sejati, yang Ada Kepentingan Abadi


TintaSiyasi.com -- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra, M.M. menyampaikan dalam demokrasi tidak ada teman sejati, yang ada kepentingan abadi.

“Kita juga tahu bahwa dalam demokrasi itu ada prinsip-prinsip bahwa tidak ada teman sejati, yang ada adalah kepentingan abadi," ungkapnya dalam Insight ke-126 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Pidato Megawati di HUT PDI-P Ke 49: Kritik Menggelitik Pemerintahan Jokowi? Rabu (12/01/2022) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Menurutnya, demokrasi merupakan sistem yang selalu paradoks. Karena, tidak sesuai antara apa yang diucapkan dengan kenyataan, rakyat juga sudah sangat tahu itu semua. Tetapi menurut Ahmad, yang menarik itu ketika bentuknya autokritik terhadap kadernya.

"Meskipun yang saya sayangkan juga bahwa kritik itu tidak dilengkapi dengan nama-nama," ujarnya. 

Ahmad menyampaikan jika tidak dilengkapi nama-nama ketika bicara benalu, kemudian tidak disebutkan namanya yang jadi benalu itu siapa, maka ada beberapa kemungkinan. 

Dilihat dari sisi di mana seorang politisi menyampaikan gagasan dalam rangka ulang tahun partainya, maka secara umum akan disampaikan karena beberapa hal.

Pertama, tentu untuk menarik simpati rakyat. Karena rakyat Indonesia memang secara pemikiran politik belum matang. "Begitu mudahnya rakyat bisa percaya hanya dengan kata-kata yang seolah membela mereka. Padahal setelah  pemilu juga pun tidak ada perubahan. Tapi, hal ini  berulang-ulang terjadi. Dan dari dulu juga sudah seperti itu," jelasnya.

"Karena itu ini juga tidak jauh dari upaya-upaya untuk pemilu di masa mendatang ini. Dua tahun ke depan ini. Dan ini semata-mata untuk menarik simpati rakyat karena psikologi rakyat di negeri ini tahu ya, mudah sekali untuk cepat percaya, cepat tidak percaya dan mereka juga secara umum tidak memahami apa sesungguhnya politik itu gitu," tambahnya.

Kemudian Ahmad mengira kalau dilihat dari esensi yang disampaikan terutama dari sisi autokritiknya, maka berarti bisa memaknai bahwa ini bagian dari delegitimasi lawan politik. 

"Oleh sebab itu, pertarungan politik dalam demokrasi sebenarnya bukan hanya antarpartai, tetapi juga di internal partai itu sendiri juga terjadi pertarungan sengit, bahkan jauh lebih sengit,” ungkapnya.[] HN/Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar