Ketika Umar bin Khattab sebagai Kepala Negara Melarang Anaknya Berbisnis

TintaSiyasi.com -- Masih ingatkah dengan Permenpan No.52 Tahun 2012 tentang pedoman pembangunan Zona Integritas menuju wilayah bebas dari korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani di lingkungan instansi pemerintah. Permen tersebut dikeluarkan tentu atas persetujuan kepala negara/pemerintahan, sehingga berlaku juga untuk dirinya sendiri. Zona Integritas merupakan predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya punya komitmen dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Tentu sangat tidak mudah memperoleh status Wilayah Bebas Korupsi di tengah kehidupan kapitalistik saat ini. Upaya untuk membangun integritas ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan memerlukan tauladan pemimpinnya. Pemimpin yang mengeluarkan aturan, dia pula yang harus menjadi teladan bagi jajarannya. Teladan pemimpin penting untuk menciptakan Good Corporate Governance (tata kelola pemerintahan yang baik) yang sering digembar gemborkan saat ini. Pemimpin yang melanggar tentu akan berdampak pada buruknya tata kelola pemerintahan. Terkait teladan pemimpin, ingat pula shahabat Rasulullah Saw bernama Umar bin Khattab ra. Jika ingin disamakan dengan Umar, maka ada baiknya seorang pemimpin melihat, memahami dan meniru bagaimana Umar menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dikaitkan dengan treatment beliau terhadap anaknya.


Melarang Anaknya Berbisnis

Al-kisah, Umar bin Khattab ra memiliki anak bernama Abdullah. Suatu ketika, Abdullah bin Umar pernah memiliki unta. Abdullah membeli  unta yang teramat kurus. Lalu dia menggembalakannya di padang rumput di Madinah, tempat unta-unta sedekah milik Baitul Mal dan milik warga merumput.
Suatu ketika, Umar bin Khattab ra pergi menjalankan suatu pemeriksaan. Kemudian, Umar melihat ada seekor unta yang gemuk. Unta tersebut tampak sangat berbeda karena unta tersebut paling gemuk (dan paling sehat) diantara unta-unta lainnya. Lalu, Umar bertanya (kepada petugas yang ada disana), “Siapakah pemilik unta ini?”, mereka menjawab “Unta Abdullah bin Umar.” Tentu Umar sangat kaget mengetahui pemilik unta gemuk itu adalah anaknya. “Bagus! Bagus sekali wahai anak Amirul Mukminin,” ucap Umar dengan nada geram. Kemudian, Umar mengutus orang untuk memanggil Abdullah anaknya dengan segera dan Abdullah pun datang dengan tergesa-gesa. Ketika Abdullah sampai dihadapan ayahnya, Umar mengelus-elus ujung janggutnya  (kebiasaanya ketika menghadapi urusan yang genting) dan berkata kepada anaknya, “Unta apakah ini Abdullah?”. “Unta ini kubeli menggunakan uangku sendiri,” jawab Abdullah. “Unta ini dulunya sangat kurus, lalu aku gembalakan di padang rumput, dan setelah sekian lama unta ini menjadi gemuk. Aku memperdagangkannya agar memperoleh keuntungan seperti yang diharapkan oleh orang lain,” Abdullah menjelaskan kepada ayahnya (yang kepala negara itu). Umar membantahnya dengan nada keras yang meluap-luap, “Lalu ketika orang-orang melihat unta ini, mereka berkata, gembalakan unta anak Amirul Mukminin, rawatlah, berilah minum secukupnya, sehingga untamu menjadi gemuk dan berlipat keuntunganmu. Hai anak Amirul Mukminin!”. Lalu, Umar melanjutkan, “Hai Abdullah ambillah modal awal pokok yang kamu gunakan untuk membeli unta ini, dan kembalikan semua keuntungannya ke Baitul Mal.”

Begitulah bagaimana Umar bin Khattab ra sangat menjaga integritas sebagai pemimpin. Beliau tidak ingin anaknya mengambil manfaat dari jabatan ayahnya (kesempatan untuk mendapatkan kemudahan dalam berbisnis). Karena dikhawatirkan pelayanan terhadap anaknya lebih baik dan diutamakan ketimbang terhadap rakyat biasa. Tentu ini akan menjadi beban berat Umar pada pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dan lebih dikhawatirkan lagi jika anaknya juga menjadi pejabat pemerintahan, tentu larangan itu menjadi berkalilipat. Sebagaimana Umar bin Abdul Azis (cicitnya Umar bin Khattab) yang dengan tegas melarang pejabat berbisnis. Beliau menyatakan: "Seorang Imam (Kepala Negara) tidak pantas untuk berdagang. Begitu pula tidak halal bagi seorang gubernur (atau walikota/bupati) untuk berdagang di dalam wilayah kekuasaannya. Karena seorang pemimpin bila dia berdagang, dia akan mudah melakukan monopoli dan membenarkan perbuatan yang merusak negara. Sekalipun dia berusaha keras untuk tidak berbuat demikian."

Inilah sikap kehati-hatian Umar bin Khattab ra dalam menjalankan pemerintahannya, karena beliau memang fokus kepada pelayanan terhadap urusan rakyatnya bukan urusan terhadap anak dan keluarganya (kesempatan menambah kekayaan).


Melarang Anaknya Jadi Pejabat

Pada saat Umar bin Khattab ra menjelang wafatnya karena ditikam oleh seorang budak Persia, beliau memberikan nasihat kepada kaum Muslim soal pemilihan khalifah (kepala negara) penggantinya. Salah satu nasihat itu adalah bahwa beliau melarang keras anaknya menjadi pejabat dan bahkan khalifah.
Umar menyatakan, "Tidak ada kaum keturunan Al-Khattab hendak mengambil pangkat khalifah ini untuk mereka, Abdullah bin Umar tidak akan turut memperebutkan pangkat ini." Setelah itu, Umar bin Khattab ra menoleh ke arah Abdullah, anaknya. "Anakku Abdullah, sekali-kali jangan, engkau mengingat-ingat hendak mengambil jabatan ini!". "Baiklah ayah," jawab Abdullah bin Umar. Sebagai anak yang soleh, tentu wasiat dari ayahnya ini, dipatuhinya dengan penuh tanggung jawab. Padahal pada saat itu Abdullah bin Umar mendapatkan banyak dukungan untuk menggantikan ayahnya sebagai kepala negara. 

Baik Umar bin Khattab ra maupun Abdullah sama-sama memahami bahwa jabatan adalah amanah yang penuh dengan fitnah. Keduanya tidak haus kekuasaan, karena mereka tahu bahwa kekuasaan jika dijalankan tidak hati-hati (zalim/ tidak adil dengan tidak melaksanakan hukum Allah), maka akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang neraka. Suatu ketika, Umar bin Khattab ra pernah membaca surat Ath-Thur. Ketika sampai pada ayat, إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٌ (sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi), beliau menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau jatuh sakit dan banyak orang yang menengoknya.
Ibnu Abbas pernah berkata kepada Umar, "Allah menjadikan kota dan negeri-negeri di bawahmu, menjadikanmu penakluk negeri-negeri tersebut. Allah berbuat baik kepadamu." Mendengar hiburan itu (berupa pujian atas kehebatan Umar sebagai kepala negara telah menaklukkan banyak wilayah) bukan malah senang, Umar masih saja cemas bahkan semakin khawatir dan menyatakan "Aku menginginkan selamat, bukan pahala maupun dosa." Demikianlah Umar tidak senang pujian namun yang beliau inginkan adalah ampunan dari Allah SWT karena khawatir melayani rakyat dengan tidak adil.


Melarang Diri dan Keluarga Menggunakan Fasilitas Negara

Ada yang mengharukan dalam kisah Umar bin Khattab ra sebagai kepala negara ini. Beliau tidak memanfaatkan fasilitas negara untuknya. Beliau hanya menerima tunjangan atas jabatannya sebagai kepala negara. Fasilitas pakaian dan makanan/ minuman yang mewah sangat mencemaskan Umar jika kelak ditanya oleh Allah tentang pemanfaatan uang rakyat. Umar bin Khattab ra sangat takut kepada Allah. Imam Malik meriwayatkan dalam ”Al-Muwaththa”, bahwa Anas bin Malik ra, "Aku melihat Umar bin Khattab pada masa khilafahnya memakai jubah yang bertambal di dua pundaknya." Ibnu Zanjuwaih (wafat 247 Hijriyah) meriwayatkan dalam bukunya ”al-Amwal”, ia berkata, "Umar bin Khattab memiliki seekor unta. Budaknya memerah susu unta setiap hari untuknya. Suatu ketika, budak membawa susu unta ke hadapan Umar. Umar berfirasat lain dan dia bertanya kepada budaknya, "Susu unta dari mana ini?" Budaknya menjawab, "Seekor unta miIik negara (baitul maal) yang telah kehilangan anaknya, maka saya perah susunya agar tidak kering, dan ini harta Allah". Umar berkata, "Celakalah engkau! Engkau beri aku minuman dari neraka!" 


Mendidik Anak dengan Ketat Sesuai Syariat (Apalagi Ketika Menjabat)

Umar bin Khattab ra sangat hati-hati menggunakan uang atau harta rakyat. Jangan sampai beliau menggunakan sedikitpun uang rakyat kecuali tunjangan yang sudah ditetapkan negara. Bahkan beliau melarang anaknya untuk mengambil sisa-sisa minyak zaitun milik Baitul Mal (milik rakyat) dimanfaatkan oleh anaknya. Suatu hari Umar bin Khattab ra mengisi banyak kendi dengan minyak zaitun untuk dibagikan kepada seluruh masyarakat di Madinah. Semua minyak zaitun tersebut dibeli menggunakan dana yang ada di Baitul Mal. Setelah selesai dibagikan, maka kendi-kendi yang dianggap kosong itu dikumpulkan di satu tempat. Dikarenakan minyak tidak bisa bersih total, maka dalam setiap kendi terdapat sisa-sisa dari minyak zaitun tersebut. Kemudian anak Umar bin Khattab ra yang masih kecil mengambil sisa minyak zaitun tersebut dan mengoleskan ke rambutnya. Saking banyaknya, rambut anak Umar itu sampai basah mengilap dan begitu rapi. Saat Umar mengetahuinya, maka ditanyalah anaknya. Anak Umar pun menjelaskan mengapa penampilannya bisa seindah itu, kemudian Umar bin Khattab ra berkata: "Wahai anakku, di Madinah ini ada begitu banyak anak yang ingin seperti engkau, memakai minyak zaitun. Oleh sebab itu, aku membagikan ini kepada seluruh masyarakat Madinah agar mereka juga merasakannya. Kenapa kau mengambilnya tanpa izin? Ini bukan hak kita." Umar pun memanggil tukang cukur untuk mencukur seluruh rambut anaknya, bersih tidak tersisa. Tak boleh sampai ada syubhat. 

Inilah sebagian contoh kecil sikap Umar bin Khattab ra dalam memperlakukan anaknya ketika beliau menjabat sebagai kepala negara. Contoh ini harus menjadi teladan bagi seluruh kaum muslimin bila hendak menjadi seorang pemimpin kelak. Takutlah kepada Allah, karena salah bersikap dalam mendidik anak terkait jabatan seseorang sebagai pimpinan/ pejabat di pemerintahan khususnya, maka akan berdampak pada ketidakadilan dalam melayani urusan rakyat. Yang paling mengerikan adalah dampak di akhirat kelak. Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR Ahmad). Wallahu a’lam. []


Oleh: Deni Muhammad Danial
Ketua Perhimpunan Intelektual Muslim Sukabumi

Posting Komentar

0 Komentar