Kekerasan terhadap Perempuan Belum Usai

TintaSiyasi.com -- Kekerasan terhadap perempuan dan anak terus saja meningkat, tak terkecuali di Kalimantan Selatan (banjarmasin.tribunnews.com, 2021/12/04). Kita juga mendengar bahwa ada kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga ) yang berujung pada perdamaian, karena istrinya memaafkan perbuatan suaminya (kalsel.prokal.co, 25/12/2021).

Kebanyakan pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat. Bisa ayah, kakak, paman, kekasihnya, dan lain-lain. Harusnya orang-orang terdekat melindungi, bukan malah kasar terhadap mereka. 

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan menandakan bahwa masih lemahnya sistem hukum untuk melindungi perempuan. Beberapa pegiat HAM (Hak Asasi Manusia) menganggap bahwa perempuan tidak mendapatkan haknya sebagai seorang perempuan. Kalangan feminis menganggap bahwa perempuan harus diakui dan setara dengan laki-laki. 

Banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadikan beberapa kalangan mendesak agar RUU menyangkut tentang kekerasan seksual segera disahkan. Juga sudah dikeluarkannya Permendikbud Ristej tentang aturan pakaian seragam Islami yang tak boleh dipaksakan. Ujung-ujungnya adanya aturan ini melahirkan kebebasan dan ini sangat berbahaya, karena sejatinya wanita tidak bisa memilih apa yang menurutnya baik, hanya karena pikirannya semata, karena manusia itu bersifat lemah dan terbatas. Harus ada aturan dari sang Pencipta yang dijadikan standar dalam melakukan sesuatu.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa perempuan masih dianggap sebelah mata oleh berbagai kalangan, tradisi dan bahkan perempuan dianggap sebagai warga kelas dua. Berbeda dengan Islam, sangat menghargai wanita dan bahkan menjunjung tinggi harkat martabat wanita. Bahkan rasul mengutakaman seorang ibu tiga kali dari seorang Ayah. Karena seorang Ibulah kita bisa melihat dunia.

Seorang wanita itu harus diperlakukan penuh kasih sayang karena karakter mereka yang lembut. Sebagaimana Rasul menyuruh berbuat baik kepada istri, seperti yang telah dicontohkan dalam kehidupan beliau. Berarti akar permasalahannya adalah kurangnya pemahaman yang  benar pada kalangan laki-laki tentang seorang wanita, hak-hak dan kewajiban yang harusnya  mereka dapatkan. Ditambah aturan hari ini yang mengekploitasi perempuan dan anak, bukan hanya tenaga yang dimanfaatkan, tapi juga tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, sehingga memudahkan orang lain berbuat jahat. 

Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan solusi untuk menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yaitu:

Pertama, menanamkan akidah Islam yang kuat terhadap masyarakat Islam, dengan menerapkan kurikulum Islam dalam setiap jenjang pendidikan, sehingga terbangun kepribadian Islam. Sehingga seorang laki-laki tau hak dan kewajibannya. Dan juga mampu memperlakukan orang lain dengan baik termasuk terhadap perempuan dan anak, karena itu bagian dari kebaikan Islam seseorang. 

Kedua, Islam mewajibkan aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar yaitu saling menasehati pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran di tengah-tengah masyarakat. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran untuk saling kontrol satu sama lain di dalam kehidupan masyarakat. 

Ketiga, negara mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dengan memberlakukan sistem pergaulan Islami, yaitu menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tidak diperbolehkan interaksi non-mahrom kecuali pada empat hal, yaitu pendidikan, kesehatan, perdangan, dan persaksian. Bagi wanita Muslimah wajib mengenakan pakaian syar'i ketika keluar rumah. Bagi laki-laki dan perempuan, wajib  juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh Islam. 

Keempat, negara menjadi pelindung perempuan dan anak, melindungi dengan menerapkan aturan yang tegas kepada pelaku kejahatan seksual. Pelaku mendapatkan hukuman sesuai dengan kadar kejahatannya untuk menimbulkan efek jera.

Jika seorang Mauslim memahami hukum-hukum Islam tentang bagaimana harusnya memerlukan seorang wanita. Ditambah negara yang menjalankan tugasnya sebagai pelaksana hukum Allah, pastilah seorang perempuan akan terpelihara kehormatannya. Dimuliakan kedudukannya tanpa syarat. Tanpa harus seorang wanita punya jabatan dan pengahasilan baru dimuliakan.

Namun hal ini hanya bisa didapatkan jika aturan Islam diterapkan secara sempurna, dalam kehidupan sehari-hari. Niscaya kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa diakhiri. Tidakkah hal ini menjadikan kita rindu akan diterapkan Islam secara totalitas? []


Oleh: Meita Ciptawati
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar