Katakan Tidak pada Moderasi

TintaSiyasi.com -- Moderasi beragama di Indonesia nampaknya semakin akan digaungkan di tahun 2022 ini. Sebagaimana yang dinyatakan dalam laman kalsel.kemenag.go.id bahwa saat ini Kementerian Agama Republik Indonesia mempunyai enam program utama yang menjadi prioritas, yaitu penguatan moderasi beragama, transformasi digital, revitalisasi KUA, cyber Islamic University, kemandirian pesantren dan religiousity index. Salah satu prioritas tersebut adalah penguatan moderasi beragama dan program tersebut mesti dipahami seorang penghulu, Kepala KUA dan karyawan KUA sebagai bagian dari Institusi Kementerian Agama.

Dalam laman tersebut dijelaskan mengenai makna moderasi beragama menurut Kemenag bahwa moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, serta selalu bertindak adil, berimbang dan tidak ekstrim dalam beragama.

Kepala Kantor Wilayah (Ka.Kanwil) Kemenag Kalsel Dr. H. Muhammad Tambrin, M.M.Pd mengatakan bahwa Kementerian Agama tahun 2022 menjadikan penguatan moderasi beragama sebagai program prioritas. “Penguatan moderasi beragama menjadi prioritas utama yang harus dilaksanakan di Kemenag dan kecamatan, baik lintas agama maupun Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB),” katanya. Tahun 2022 telah dicanangkan menjadi tahun toleransi internasional kata Tambrin, maka kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan lembaga keagamaan diharapkan agar mendukung dan menyukseskan tahun 2022 dengan kegiatan keagamaan. “Supaya terwujud keharmonisan dan kerukunan intern dan antar umat beragama,” harapnya (kalsel.kemenag.go.id, 31/12/2021).

Jika kita kembalikan kepada Islam, sebenarnya tidak pernah ada yang namanya ekstrim atau fanatisme dalam beragama. Sangatlah wajar jika seseorang mendalami agamanya hingga keakarnya. Menjadi penganut agama yang taat itu adalah perbuatan yang baik bahkan memang harus dilakukan. Sebenarnya ide moderasi beragama ini tidak lain berasal dari barat yang memang senang ketika umat Islam jauh dari agamanya. Bagaimana bisa seorang Muslim tidak mengamalkan ajaran-ajaran agamanya secara totalitas hanya karena harus mengamalkan nilai moderasi yang sejatinya moderasi ini adalah kata halus untuk mengatakan bahwa kita harus pilih-pilih ajaran Islam yang kita suka dan tinggalkan yang kita tidak suka.

Moderasi beragama ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya bagi kaum Muslim dan ini akan menjadi ancaman bagi generasi karena beberapa hal berikut ini:

Pertama, moderasi beragama akan merusak keyakinan akan kebenaran agama Islam. Ini dikarenakan moderasi beragama mengajarkan prinsip semua agama itu benar, semua agama itu sama, tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang paling salah. Penanaman konsep seperti ini kepada anak-anak sudah sejak dini sehingga akhirnya mereka merasa tidak masalah jika berpindah-pindah agama, karena di dalam otak mereka sudah tertanam bahwa semua agama itu benar. Toleransi terwujud dengan mengucapkan selamat hari Natal misalnya, ikut-ikutan menghias pohon Natal, memakai atribut Natal, semua itu akhirnya mereka anggap tidak mengapa, tidak mendapat dosa. Hal ini jelas bertentangan dengan akidah Islam yang mengajarkan bahwa hanya Islam lah agama yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Allah berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 19). Dan firman Allah dalam QS. Ali Imran [3]: 85, “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi”.

Kedua, moderasi beragama mencetak generasi Muslim yang sekuler. Ya, moderasi beragama ini sebenarnya merupakan cara halus untuk membuat generasi muslim menjadi sosok yang sekuler. Melalui moderasi beragama, ada penanaman di benar mereka bahwa syariat Islam itu tidak penting, yang penting adalah esensi ajaran Islam. Mereka juga akhirnya merasa bahwa menjalankan syariat Islam secara totalitas atau kaffah bukanlah suatu kewajiban dalam hidup mereka sebagai seorang Muslim. Juga mengatakan bahwa orang yang moderat adalah orang yang shalih, berpegang teguh pada nilai moral dan esensi ajaran agama, serta memiliki sikap cinta tanah air, toleransi, antikekerasan, dan ramah terhadap keragaman budaya lokal. Akhirnya, generasi pun akan tercekoki dengan pemahaman bahwa tidak perlu membenturkan pemahaman Islam dengan ritual-ritual budaya lokal. Semua itu menurut mereka adalah sebuah kebudayaan, sebuah kerukunan yang harus dijaga sekalipun itu mengajarkan hal yang salah atau bahkan kemusyrikan.

Demikianlah moderasi beragama jika kita biarkan berkembang. Generasi kaum Muslim akan semakin jauh dari agamanya sendiri yaitu Islam. Mereka akan semakin asing dengan ajaran Islam, sekalipun ajaran Islam sebenarnya harus diterapkan secara totalitas dalam kehidupan kita setiap hari, tetapi jika sudah tertanam pemikiran moderasi, takkan ada yang namanya rasa berdosa dalam benak mereka. 

Sudah jelas bahwa kita sebagai seorang Muslim harus dengan tegas mengatakan “Tidak pada moderasi!”. Karena generasi kita harus dilindungi dari pemikiran asing di luar Islam yang akan menjauhkan kita dari agama kita sendiri. []


Oleh: Widya
(Komunitas Pena Banua)

Posting Komentar

0 Komentar