Kaleidoskop 2021: Penistaan Agama atau Kebebasan Bercengkerama

TintaSiyasi.com -- Sepanjang tahun 2021, sejumlah kasus penistaan agama terus menerus berulang. Penistaan agama termasuk ke dalam kategori penodaan beragama selalu mencoreng untuk menyudutkan suatu agama kian masif didengungkan. Kebanyakan kasus terjadi disebabkan karena faktor kesengajaan yang diunggah melalui media sosial.

Pelakunya pun beragam mulai dari pejabat pemerintah, politikus, kaum intelektual, komika, artis, Youtuber bahkan influencer yang memang dijadikan aktor untuk memuluskan agenda setting sebagai alat pemicu permusuhan. 


2021: Penista Agama Kian Menjelma

Ada tiga kasus penistaan agama yang sempat menghebohkan dan memancing kegaduhan umat Islam selama 2021, diantaranya adalah Jozeph Paul Zhang dan Muhammad Kece. Mereka sama-sama Youtuber yang selalu membuat konten kontroversial dan provokatif menistakan agama Islam yang diunggah di kanal YouTube miliknya. 

Dalam sebuah diskusi Zoom, Jozeph Paul Zhang pernah menyindir ibadah puasa dan mengaku sebagai Nabi ke-26. Sementara M Kece, video yang menista Islam yaitu menggantikan kata 'Allah' dalam salam dan hamdalah dengan kata 'Yesus', mencela Nabi Muhammad SAW sebagai pengikut jin, pendusta, serta melecehkan syariat Islam seperti salat yang bukan perintah dari Tuhan. 

Keduanya pun telah dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana ujaran kebencian tentang penodaan agama. Serta video-video kontroversial mereka pun sudah diberangus oleh Kominfo. 

Kasus ketiga terjadi di penghujung tahun ini, Joseph Suryadi juga dituding telah melakukan penistaan agama. Tudingan itu didapatkan dari beredarnya unggahan tangkapan layar di sebuah percakapan grup WhatsApp berupa gambar karikatur Nabi Muhammad SAW yang menikahi Aisyah di usia belia kemudian mengaitkannya dengan isu terdakwa  pemerkosa 21 santriwati oleh pimpinan yayasan ponpes di Bandung. Setelah unggahannya meluas dan namanya viral di media sosial, akhirnya ia ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya (metro.tempo.co, 15/12/21).

Kasus fenomenal ini bak api yang menyulut kemarahan kaum Muslim.  Salah satunya pegiat media sosial, Helmi Felis mengkritik sepantasnya penghina Nabi Muhammad SAW ini tidak cukup sekadar ditangkap tetapi dilempari batu hingga mati. 

Begitu juga respons dari aktivis dan pegiat media sosial Nicho Silalahi yang setuju dengan ucapan Helmi, beliau juga berpesan saatnya umat Islam bangkit untuk melawan, jika dibiarkan diam maka pelecehan dan penghinaan terhadap Islam akan terus berulang (makassar.terkini.id, 15/12/21).

Berdasarkan kasus di atas dapat dikatakan bahwa agama yang paling sering dilecehkan atau dihina adalah Islam. Bagaimana mungkin, Islam yang menjadi agama mayoritas bagi penduduk negeri ini mengalami penistaan sedemikian jahatnya. Inikah yang dimaksud menjunjung tinggi kebebasan? Sehingga sulit menemukan perbedaan antara kebebasan berekspresi atau penodaan agama. 


Ilusi Kebebasan, Nyatanya Kebinasaan

Jika diusut benang merahnya, kasus-kasus penistaan agama ini bermuara karena diterapkannya sistem ideologi sekuler-kapitalis. Pemikiran yang paling menonjol dalam ideologi ini adalah kewajibannya memelihara kebebasan individu. Kebebasan ini meliputi beberapa bentuk, yaitu kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat/berekspresi, kebebasan berkepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. 

Jika kita merasa hidup kian sulit baik sandang, pangan, papan, transportasi dan kebutuhan dasar hidup lainnya yang serba mahal, maka itu akibat dari kapitalisasi hajat hidup publik dalam sistem ekonomi kapitalisnya. Dengan kebebasan berkepemilikan berasaskan manfaat mengakibatkan manusia menjadi rakus menghalalkan segala cara menjarah kepemilikan publik demi memenuhi ambisi cinta dunia. 

Jika sekarang sering ditemukan seseorang yang di waktu pagi Muslim kemudian di sore hari menjadi kafir atau sebaliknya. Orang-orang yang sangat mudah menggonta-ganti akidahnya hanya karena masalah sepele seperti karena cinta, kesulitan ekonomi atau karena intimidasi sekalipun. Inilah realita akibat dari adanya kebebasan berakidah. Seseorang diberikan kebebasan memilih agama atau keyakinan yang disukainya, boleh meyakini satu agama, dua agama bahkan boleh tidak meyakini satupun agama. Bahaya yang muncul dari kebebasan ini semakin banyak paham-paham, aliran-aliran, ajaran-ajaran dan agama-agama baru yang dibuat sesukanya. 

Sementara jika di depan belakang, samping kiri kanan selalu diberitakan kasus kriminalitas, tindak asusila, free sex, pelacuran, perilaku menyimpang, dan pelanggaran sosial lainnya, maka itu adalah buah dari kebablasan akibat kebebasan bertingkah laku. Manusia bebas berbuat tanpa rumusan yang mengikat. 

Adapun jika di layar TV, di lini masa medsos seringkali bertabur fitnah terhadap Islam, kriminalisasi ulama, mempersekusi pengemban dakwahnya, meremehkan ajaran agama, mengolok-olok syariat, mencela Nabi dengan merendahkan martabatnya, melecehkan pribadinya dengan menyifati terhadap hal-hal yang tidak pantas baginya. Atau ada yang mengakui kebenaran semua agama, menghalalkan yang maksiat, maka itu adalah hasil dari dijaminnya kebebasan berpendapat/berekspresi. Mereka diperkenankan berekspresi tanpa menghiraukan adanya toleransi. 

Keempat macam kebebasan ini jelas sangat bertentangan dengan hukum Islam. Dalam hal kepemilikan misalnya, seorang muslim tidak bebas dan tidak diakui memiliki sesuatu sekehendaknya kecuali dalam batas-batas pemilikan yang telah ditentukan oleh syara'. Serta tidak boleh memiliki sesuatu dengan cara yang dilarang syara'. Begitu juga dalam hal berakidah, seorang muslim tidak dibenarkan bebas memilih akidah. Bahkan akan diberi sanksi tegas jika dia murtad diperintahkan untuk bertaubat, apabila tidak mau maka akan dihukum bunuh. 

Lain halnya dalam kebebasan bertingkah laku juga tidak ada rumusannya dalam Islam. Seorang Muslim tidak bebas begitu saja bertingkah laku, tetapi selalu terikat dengan hukum syara' sebagai pengatur dalam bersikap. Sementara dalam berpendapat, seorang Muslim tidak dibenarkan bebas berpendapat. Tidak diperkenankan memiliki pendapat yang bukan berasal dari Islam. Seharusnya pandangan Islam wajib menjadi pandangannya ketika berpendapat. 

Dengan dalih kebebasan berekspresi, manusia bebas beragumentasi dengan beragam narasi, antar umat beragama dianjurkan untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi. Jikalau merasa tersudutkan jangan mudah tersulut emosi dengan langsung bereaksi tetapi harus sabar menahan arogansi. Karena inilah wujud aspirasi yang dijamin ketika berkomunikasi dalam menjunjung kebebasan sebagai eksistensi. 

Bagi ideologi sesat ini, kebebasan  individu adalah perkara sakral yang memang harus dilindungi oleh negara dengan membebaskan individu dari kendali dan campur tangan negara. 

Dari sinilah dapat dipahami, bahwa memberikan kebebasan kepada setiap individu dan masyarakat dalam bertindak dan berbuat merupakan pandangan yang jelas sesat dan membahayakan. Selain akan menyebabkan rusaknya nilai-nilai luhur Islam yang ada di tengah masyarakat, kebebasan individu ini justru akan menjerumuskan individu dan masyarakat dalam kehancuran dan kebinasaan. Untuk itu pandangan ini serta merta harus ditolak karena jelas bertentangan dengan syariat. 


Islam Membasmi Penista Secara Nyata

Pasca runtuhnya negara khilafah, berbagai penodaan terhadap agama Islam terus tumbuh waktu ke waktu yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik atas nama individu ataupun kelompok. Tindakan mereka terkesan dibiarkan oleh negara dengan alasan kebebasan berpendapat/berekspresi. Tanpa dijerat dengan hukum dan sanksi yang pasti. Umat Islam memang tidak tinggal diam hanya menyaksikan. Meski demikian, upaya mereka senantiasa terbentur oleh tembok kekuasaan. 

Seharusnya hal tersebut semakin menyadarkan umat bahwa negara sekuler saat ini sangat sulit diharapkan bahkan mustahil melindungi agama Islam dan umatnya dari berbagai penistaan. Karena itu, Khilafah Islamlah yang mampu menjaga dan memelihara Islam serta kaum Muslim, termasuk mencegah dan membasmi berbagai pelecehan agama. 

Khilafah harus berperan aktif dalam melindungi akidah umat dari setiap upaya yang ditujukan untuk menistakan dan melenyapkan akidah Islam. Selain itu, khilafah juga memberlakukan sejumlah sanksi yang tegas atas siapapun yang melakukan tindakan-tindakan yang mencela dan melecehkan Islam, menyebarkan pemikiran kufur dan mempertontonkan tindakan provokatif yang bertentangan dengan Islam. 

Dengan demikian, upaya untuk menjaga kebersihan agama Islam dari berbagai penyimpangan merupakan tugas utama Negara Islam. Oleh karena itu, menjadi penyelamat umat dan memiliki ambisi untuk menerapkan hukum Allah di muka bumi demi menjaga kesucian dan eksistensi akidah Islam adalah sangat relevan dan wajib untuk segera diwujudkan. 

Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Siti Alfina, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar