Kaleidoskop 2021: Pandemi Menambah Penderitaan Anak, Kapitalisme-Sekular Biangnya

TintaSiyasi.com -- Tahun demi tahun berganti begitu cepat namun permasalahan di negeri ini tak ada satupun yang terselesaikan dengan tuntas. Mulai dari pandemi yang tak kunjung usai, masalah pendidikan, ekonomi hingga kekerasan seksual pada anak. 

Dalam hal pendidikan misalnya, sebelum terjadi pandemi saja membuat anak-anak terbebani, karena mereka dituntut menjadi  generasi yang mampu menjadi pekerja bagi industri. Dan saat pandemi pun banyak dari anak-anak yang merasa jenuh dalam belajar dan berujung pada stres akibat pembelajaran daring. 

Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Primatia Yogi Wulandari, mengungkapkan bahwa banyak situasi tidak menyenangkan yang dihadapi anak selama pandemi Covid-19. “Dari penelitian terbaru yang dilaksanakan selama pandemi, anak-anak usia prasekolah hingga remaja turut merasakan kecemasan yang berantai dari lingkungan mereka,” papar Primatia dilansir dari laman Unair (Kompas.com, Minggu, 28/11/2021).

Dari jaminan kesehatan, anak-anak kehilangan asupan kecukupan gizi akibat kemiskinan ekonomi sekaligus literasi, bahkan kehilangan kesempatan emas mendapatkan ASI, akibat ibu melahirkan tak terduga terkena infeksi pandemi (Kompas.com, 27/06/2021).

Sementara dari jaminan ekonomi, kemiskinan membuat anak-anak mau tak mau harus membantu orang tuanya mencari pundi-pundi rupiah, menjadi pekerja kasar maupun pabrik. Bahkan tak jarang dari mereka sampai meninggalkan bangku sekolah. 

Fakta ini bertolak dari pengakuan menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah yang menargetkan sebanyak 204 perusahaan sawit dan Kawasan Industri harus bebas dari pekerja anak (Kompas.com, 22/12/2021).

Begitu pula dari sisi keamanan, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengungkapkan bahwa kekerasan seksual sebelum pandemi sudah meningkat pada 2018 hingga 2019. Tercatat sejak Maret 2020 hingga Juli 2021 Ada 2.726 kasus kekerasan terhadap anak dan lebih dari setengahnya merupakan kasus kejahatan seksual. "Pelaporan di kita itu pelanggaran hak anak itu 2.726 kasus. Ditemukan dari 2.726 kasus itu, 52 persennya didominasi oleh kejahatan seksual" (Republika.co.id, 07/09/ 2021).

Sungguh, realita ini sangat menyakitkan. Generasi yang seharusnya mendapatkan jaminan hidup serta terpenuhinya kebutuhan mereka secara layak, harus menghadapi kenyataan pahit disebabkan sistem sekulerisme kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. 

Sistem yang menjadikan kebutuhan dasar publik seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan sebagai bahan komoditi komersialisasi. Akibatnya kesejahteraan anak-anak tergadaikan, sebagaimana realitas sekarang. 

Jaminan yang seharusnya mereka dapatkan dengan kualitas terbaik, namun jaminan itu ibarat "barang mewah" yang sulit diwujudkan dan dirasakan oleh setiap anak saat ini. Terlebih dalam kondisi pandemi, tidak sedikit anak-anak yang kehilangan orang tuanya dan menjadi yatim piatu. 

Penderitaan ini semakin diperparah dengan kegagalan sistem sekuler kapitalisme menangani pandemi. Oleh karenanya, umat membutuhkan sistem alternatif yang terbukti mampu menyejahterakan dan melindungi anak-anak. Sistem ini tidak lain adalah sistem Islam yang disebut khilafah. 

Dalam mewujudkan perlindungan terhadap anak, khilafah memiliki tiga pilar yakni:

Pertama, ketakwaan individu. Individu rakyat yang bertakwa akan mendidik anak-anak mereka dengan hukum syara'. Sehingga anak dapat melakukan hak serta kewajiban mereka dalam keluarga.

Kedua, kontrol masyarakat. Masyarakat bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu masyarakat tidak melakukan pelanggaran terhadap hak anak. Masyarakat juga akan mengontrol negara atas berbagai kebijakan negara dan pelaksanaan hukum-hukum Islam.

Ketiga, penerapan sistem dan hukum Islam oleh negara. Negara akan menanamkan keimanan dalam ruang publik. Melalui kurikulum pendidikan generasi akan dididik menjadi sosok yang bersyaksiyah Islam. Sehingga mereka siapa menyerahkan hidup mereka untuk kemudian islami dan umat muslimin. Mereka tidak akan dididik sebagai pekerja industri dan dieksploitasi daya intelektualnya untuk komoditi bisnis.

Khilafah pun menerapkan sistem dan hukum Islam secara menyeluruh. Islam akan meminimalkan faktor-faktor yang bisa memicu kasus pelanggaran dan kekerasan terhadap anak. Namun, jika masih ada yang melakukan itu, maka sistem uqubat yakni sanksi hukum Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat. Caranya adalah dengan pemberian sanksi hukum yang berat yang bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain berbuat serupa.

Inilah solusi dari Islam secara praktis yang diwujudkan dalam sebuah negara untuk memberikan jaminan dan perlindungan terhadap anak-anak.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Siti Zulaikha, S.Pd.
(Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi) 

Posting Komentar

0 Komentar