Jamal Harwood: Situasi Ekonomi Global Suram dan Sedang Runtuh


TintaSiyasi.com -- Konsultan keuangan juga aktivis Islam asal Inggris, Jamal Harwood menyatakan bahwa situasi ekonomi global saat ini suram dan sedang runtuh. 

“Ekonomi global sedang runtuh di depan mata kita sendiri. Pada pertengahan musim dingin ini, kita melihat situasi global yang sangat suram. Inflasi semakin mencengkram kemiskinan dan harga kebutuhan hidup  tercatat terus meningkat,” ujarnya dalam video singkat dengan tajuk Profiteering from Poverty di kanalYouTube Hizb Britain, Sabtu (01/01/2022). 

Ia mengungkapkan harga kebutuhan meningkat lebih dari yang diperkirakan. Seperti harga bahan bakar, makanan, minuman juga pakaian. Bahkan kendaraan bekas juga harganya melambung tinggi akibat kebangkrutan global dalam chip computer.  

“Harga petrol melambung paling tinggi yang pernah tercatat mencapai 1.50 pound per liter bulan lalu. Bandingkan dengan 1.30 pound per liter tahun lalu. Harga mobil bekas juga naik 31 persen lebih mahal dibandingkan pada bulan April setelah produksi kendaraan baru dipukul oleh kebangkrutan global dalam chip computer," terangnya.

"Inflasi pada makanan dan minuman juga mencapai 2,5 persen bulan lalu. Tertinggi selama lebih dari tiga tahun. Sebab para pengecer juga berjuang dengan menyuplai masalah. Angka inflasi naik dari 4,2 persen pada Oktober menjadi 5,1 persen pada bulan November tahun lalu. Berdasarkan kantor statistik nasional, merupakan level tertinggi sejak September 2011," ungkapnya. 

Sebagai seorang konsultan keuangan, Jamal menyebutkan bahwa data tersebut sangat kuat dan lebih dari sekedar uraian angka-angka dalam lembaran kertas. Ia menuturkan bahwa itulah dampak sistem ekonomi kapitalisme yang dalam bahasa awam disebut sistem tamak atau rakus. 

“Bagaimanapun, realitas data ini sangat kuat lebih dari hanya sekedar angka-angka dalam lembaran kertas. Lalu apa sebenarnya yang telah terjadi? Jawabannya ya, inilah dalam bahasa ekonomi disebut sistem kapitalisme. Atau dalam bahasa awam sederhananya disebut sistem tamak/rakus,” kata dia. 

Jamal menjelaskan bahwa sistem kapitalisme adalah suatu sistem yang mengambil keuntungan sebagai tujuan utama tanpa peduli bagaimana caranya. Kapitalisme bahkan juga berharap bisa mengambil keuntungan dari kondisi kemiskinan yang ada. Sebab katanya, sistem ini juga menjadikan kebutuhan masyarakat seperti energi dapat menjadi milik pribadi (diprivatisasi). 

Ia juga mengungkapkan bahwa kapitalisme melakukan praktek oligopoli yang menjadi pengontrol kebutuhan hidup dengan harga yang tinggi ditawarkan ke masyarakat. Katanya, kapitalisme adalah sistem yang tidak membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Karena tujuan utamanya adalah meraih keuntungan dengan segala cara. 

“Apalagi praktek oligopoli adalah pengontrol kebutuhan-kebutuhan ini dengan harga yang tinggi ditawarkan ke masyarakat. Kapitalisme ini tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Karena kapitalisme memandang segala sesuatu sebagai komoditas bisnis. Segala benda memiliki nilai (harga) yang ditempatkan untuk mengejar keuntungan,” tambahnya. 

Jamal memberikan perbandingan dengan sistem ekonomi Islam yang unik dan berbeda dengan kapitalisme dalam memandang kebutuhan hidup manusia. 

"Ketika anda melihat kearah kebutuhan, kapitalisme sudah memprivatisasi semuanya dan tidak ada lagi yang menjadi hak rakyat. Sebaliknya,berbeda dengan sistem Islam yang sangat unik. Islam membedakan mana barang kebutuhan mana sekedar keinginan,"jelasnya.

"Kebutuhan-kebutuhan pokok yang diperlukan manusia tidak akan pernah diprivatisasi sebab barang-barang tersebut adalah hak rakyat,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa Islam tidak akan mengizinkan adanya persekutuan dagang untuk memonopoli kebutuhan dasar dan mengambil keuntungan. Kata Jamal, nilai dari barang-barang dalam Islam tidak ditentukan dengan spekulasi belaka. Tetapi dengan mengkategorisasi benda-benda kebutuhan tersebut. Dan ia sebutkan Inilah salah satu contoh cara Islam mengatur kebutuhan hidup di bawah naungan khilafah. 

Jamal juga meyakinkan bahwa khilafah tidak akan mengambil keuntungan dari kemiskinan seperti yang dilakukan oleh kapitalisme. Islam menempatkankan kebutuhan manusia sebagai pusat ekonomi, sementara kapitalisme menempatkannya sebagai lahan keuntungan yang menjadi tujuan utamanya. 

“Khilafah tidak akan mengambil keuntungan dari situasi kemiskinan. Terdapat perbedaan yang sangat kuat dan menonjol antara sistem ekonomi Islam dan ekonomi kapitalis yang menyebabkan hutang dan keputusasaan. Islam menempatkan kebutuhan manusian sebagai pusat ekonomi, sementara kapitalisme menempatkannya sbagai lahan basah (keuntungan) yang merupakan tujuan utamanya,” tandasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar