Ilmuwan Tidak Dihargai di Negeri Sendiri

TintaSiyasi.com -- Negeri ini semakin miris. Kebijakan-kebijakan nonkesejahteraan rakyat menghantui dari berbagai sisi. Baru-baru ini terdapat satu kebijakan baru yang ditengarai akan mematikan kualitas SDM terbaik negeri ini. Apatah benar bahwa Ilmuwan bukannya tidak ingin membangun negeri sendiri dan berkarya di negeri orang. Namun nasib para Ilmuwan ini memang tidak dihargai di negerinya sendiri. Dilansir dari Detik.com, salah satu badan penelitian yang memiliki sejarah panjang di Indonesia menyatakan tubuhnya akan dilebur menjadi satu dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 
“Mulai tanggal 1 Januari 2022, kegiatan deteksi Covid-19 di PRBM Eijkman akan diambil alih oleh kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional,” Cuit akun twitter Eijkman (Detik.com, 1/1/2022).

Beberapa kalangan menyayangkan peleburan tersebut. Ada kekhawatiran bahwa vaksin yang tengah dikerjakan yang salah satunya oleh para peneliti Eijkman akan terhambat, atau paling tidak tertunda dengan adanya mekanisme baru tersebut. 

Pelaksana tugas kepala Pusat Riset Biologi Molukuler Eijkman, Wien Kusharyoto mengatakan, “Vaksin Merah Putih tetap berjalan” (Tempo.co, Minggu, 2/1/2022) ketika menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap tersendatnya proses pengerjaan Vaksin Merah Putih tersebut.

Tidak kurang dari 71 peneliti honorer tidak akan diperpanjang/diberhentikan kontraknya. Ini adalah resiko yang memang harus ditanggung Sebagian peneliti sebagai peneliti non-ASN. Jumlah 71 peneliti bukanlah jumlah yang sedikit, mengingat kontribusi seorang ilmuwan saja bisa berdampak besar bagi dunia kesehatan pun bersinergi terhadap bidang-bidang keilmuwan yang lain.

Rendahnya perhatian negara terhadap riset dan peneliti disini sangat jelas dan cenderung bergantung kepada pihak ketiga. Bercermin kepada kasus vaksin Covid-19. Dengan meleburnya Eijkman pada BRIN maka tentu proses pengerjaan Vaksin akan tertunda walaupun dikatakan akan tetap berjalan. 

Dengan desakan dari rakyat untuk hasil secepatnya, bisa memungkinkan untuk intervensi asing dalam membantu penyelesaian proses tersebut. Namun tentu, ini bukannya makan siang gratis. Sudah rahasia umum bahwa nantinya result akhirnya akan memberikan keuntungan juga bagi pihak luar dengan hak komersialisasi proyek yang telah dikerjakan.

Ini yang perlu dikaji ulang ketika ingin menyerahkan proyek-proyek yang berhubungan dengan kemaslahatan umat kepada pihak asing. Oleh karena itu, negara sangat membutuhkan peneliti negeri. Karena hal ini akan menekan komersialisasi hasil yang nantinya  bisa diberikan secara murah atau bahkan cuma-cuma kepada rakyat jika memang tugas negara adalah mensejahterakan kehidupan berbangsa dan bernegara rakyatnya.

Proses melahirkan peneliti handal yang berintegritas tidaklah mudah. Sedangkan kita ketahui bersama bahwa pendanaan dana riset masih jauh dari standar yang dibutuhkan. Banyak penelitian mandeg, dan riset unggulan diambil alih korporasi swasta karena masalah mentok di dana ini. Belum lagi dengan fakta bahwa negeri ini memiliki jumlah peneliti terendah di ASEAN. Sungguh miris dan memalukan.

Lain apabila Islam kaffah diterapkan dengan syariat Islam sebagai aturannya. Seperti yang jelas dicatat di dalam sejarah, masa kejayaan Daulah Islamiyah telah menumbuh suburkan peneliti dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Banyak inovasi dan manfaat nyata yang ditelurkan untuk masyarakat dan negara.

Bahkan karya ilmuwan Muslim masih bisa dirasakan manfaatnya sampai saat ini. Katakanlah hukum Aljabar yang penemunya adalah salah seorang ilmuwan Muslim ternama. Dan Namanya dikenal di seluruh dunia, ilmunya digunakan baik di Barat maupun di Timur. Dan menjadikannya salah satu variable terpenting dalam ilmu matematika. Mengapa ini mungkin?

Di dalam Daulah Islamiyah anggaran penelitian ditanggung Baitul Mal secara penuh. Ilmuwan mendapatkan gaji, segala fasilitas, dan sarana prasaran pendukung dipenuhi hingga tidak ada satu pun kebutuhkan para ilmuwan yang kurang lengkap dan memadai.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Amsina
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar