#HijabisOurRight: Muslim Bebas Mengikuti Agamanya


TintaSiyasi.com -- Menyoal insiden pelarangan memakai hijab terhadap mahasiswi Kampus Udupi (Udupi College)di Karnataka (India) diprotes. Hingga masuk Trending Topic Worldwode, warganet ramai menaikkan tagar #HijabisOurRight dan #SuspendUdupiClgPrincipal.

“Seorang Muslim bebas jadi Muslim dan mengikuti agamanya. #HijabisOurRight," tulis salah seorang warganet bernama Adila Banu dalam akun Twitter @AdilaBanuT, Jumat (21/01/2022).

Menurutnya, India sebagai negara seharusnya tidak ada masalah bagi siapapun untuk menjalankan ajaran agamanya termasuk Muslim. Begitu juga bagi pemeluk Hindu, Kristen, bahkan yang tidak percaya agama sekalipun. 

Banyak dukungan yang datang mengalir dari warganet di India dari berbagai kalangan baik pemuda Muslim maupun para aktivis solidaritas kemanusiaan. Mereka mengatakan bahwa hijab adalah hak asasi bagi Muslimah.

“Hijab adalah hak asasi mendasar bagi Muslimah dan tidak ada hukum yang bisa melarangnya. #HijabisOurRight," cuit Altaf Ansari dalam akun Twitter @altaf4089, Jumat (21/01/2022). 

Sebagian menyebutkan, bahwa pelarangan hijab untuk mahasiswi Kampus Udupi bukan hanya berhubungan dengan hak asasi. Namun, juga pengrusakan mental serta cara lain untuk mengusik ketenangan komunitas Muslimah yang bersekolah di instansi pemerintah India. 

“#Udupi, mahasiswi dirusak secara mental setiap hari oleh Rudra Gonda hanya karena mereka memakai hijab dan hijab adalah alasan yang sebenarnya merupakan cara lain untuk mengusik keberadaan komunitas Muslimah di instansi pendidikan di bawah pemerintah. #HijabisOurRight,” tulis pemilik akun @ArbaazKhan (20/01/2022), dan @faizan0008 (21/01/2022).

Tagar dukungan untuk mencopot pimpinan kampus Udupi, yakni, #SuspendUdupiClgPrincipal juga tidak kalah ramai. Menurut para penuntut, tidak ada hak seorang kepala kampus untuk melarang mahasiswa mengenakan hijab karena hal tersebut adalah pelanggaran konstitusi.

“Saya menuntut pemberhentian pimpinan kampus Udupi, siapa yang setujua dengan saya?” cuit salah satu Nitizan Afreen Shaikh yang memiliki alamat akun @00Aafreen_Shaikh, Kamis (20/01/2022). Tuntutan ini di-retweet sebanyak lebih dari dua ribu kali. 

Undefeated_Faith, pemilik akun @Shaad_Bajpe juga meminta masyarakat agar menuntut pimpinan dan pihak majemen kampus Udupi yang telah berlaku diskriminatif terhadap mahasiswi yang memgenakan hijab, "Kita akan terus mendukung mereka, sementara itu kita akan lanjutkan tuntutan terhadap pihak pimipinan kampus dan managemennya yang berbuat diskriminatif,” tulisnya, Kamis (20/01/2022). 

Pemilik akun @afsarkodlipet, Kamis (20/01/2022), juga menyebutkan bahwa seharusnya dalam negara sekuler, tidak ada seorang pimpinan kampus manapun untuk meruntuhkan semangat konstitusi yang merupakan hak-hak dalam pendidikan. Dan menurutnya, perilaku inkonsitusi harus digagalkan. 

Dukungan tersebut muncul setelah insiden pelarangan beberapa Muslimah dari Kampus Negeri Wanita Udupi, untuk memasuki ruang kelas karena hijab. Mahasiswi yang mengenakan hijab hanya diiizinkan mengikuti perkuliahan kembali di ruangan jika mereka menanggalkan hijabnya. Kabar tersebut seperti dimuat dalam berita DOAM, Ahad (02/01/2022). 

Namun, berselang lebih dari 2 pekan, para mahasiwi yang mengenaka hijab tersebut tak kunjung diperbolehkan memasuki ruangan kelas. Menurut hasil wawancara pihak kampus dengan NDTV (New Delhi TV), pimpinan kampus menyatakan bahwa hijab bukan seragam yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga tidak boleh dipakai dalam ruangan kelas. Pernyataan tersebut akhirnya menambah ramai dukungan terhadap para mahasiswi yang berhijab dan meminta agar pimpinan tersebut dicopot dari jabatannya. 

“Sejak 15 hari mahasiswi kampus Udupi dilarang memasuki ruangan kelas karena berhijab. Hal ini merupakan penghinaan hak-hak mereka yang dijamin oleh konstitusi. Bahkan, kejadian ini sungguh telah mempermalukan negara sekuler sendiri di mata negera sekuler lainnya di dunia,” ungkap seorang Thaj yang memiliki akun @Thaj_Thaju, Jumat (21/01/2022). 

Pemilik akun lain bernama Faizan juga menyatakan bahwa pernyataan pimpinan kampus dalam wawancara NDTV, telah melanggar ucapannya sendiri tentang menjaga keharmonisan di tengah-tengah keragaman masyarakat. 

“Presiden Komite Pengembangan Kampus dan BJP MLA Raghupati Bhat mengatakan bahwa hijab bukan seragam kampus dan mereka (Muslimah) tidak akan diizinkan memakainya dalam ruangan. Sebenarnya pernyataan ini menggnagu ketertiban umum dengan melarang hijab. Padahal ia sendiri sering menyampaikan agar menjaga ketertiban umum,” ujarnya dalam dalam akun Twitter @faizan0008, Kamis (20/01/2022). 

Ummu Sumbula zuha dalam akunnya @USumbula juga mempertanyakan ucapan pimipinan kampus Udupi tersebut terkait kebijakan seragam. 

“Jika pemerintah sendiri tidak menetaapkan bentuk seragam tertentu, lalu siapa yang memberi hak untuk pimpinan kampus itu agar menolak para mahasiswi berhijab masuk kelas? Dan yang tidak kalah penting lagi, pemerintah terkesan diam terhadap ketidakadilan ini. Kenapa tidak ada tindakan dari penguasa?” tulisnya pada Jum,at (21/01/2022).[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar