Harga Komoditas Melejit, para Konsumen Menjerit


TintaSiyasi.com -- Menjelang natal dan tahun baru 2022 kemarin, terjadi kenaikan harga terhadap beberapa komoditas pangan, di antaranya ada cabai, minyak goreng, dan telur ayam ras. Data yang didapat dari Kementerian Perdagangan terkait beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan itu mencakup Harga cabai rawit merah di Klaten tembus hingga Rp 100 ribu per kilogram pada periode Natal dan Tahun baru ini. Untuk harga rawit hijau Rp 40 ribu per kilogram. Harga telur juga tercatat mengalami kenaikan menjelang libur Nataru. Sebelumnya di harga Rp 29 ribu per kilogram menjadi Rp 32 ribu per kilogram. Harga minyak goreng memang mengalami kenaikan sejak beberapa bulan lalu. Bahkan hingga saat ini harga minyak di supermarket masih berada di atas Rp 20 ribu per liter. Masih jauh dari ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 11 ribu per liter.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan bahwa kenaikan harga minyak goreng diakibatkan oleh naiknya harga CPO (minyak sawit mentah) dunia. Harga CPO di Dumai tercatat mencapai Rp12.812 per liter. Harga tersebut lebih tinggi 51,06 persen dibandingkan dengan November 2020. Sementara itu, terkait kenaikan harga cabai diakibatkan oleh mulai berkurangnya pasokan seiring dengan berakhirnya panen raya di Jawa Timur dan terkait kenaikan harga telur ayam tas diakibatkan oleh meningkatnya harga di tingkat peternak. Harga telur di tingkat peternak mengalami peningkatan yang signifikan yaitu naik 15,7 persen dibandingkan dengan bulan lalu menjadi Rp20.596 per kg.

Dapat kita lihat disini bahwa kenaikan harga komoditas pangan tersebut tentu saja akan menyulitkan rakyat yang notabenenya adalah para konsumen. Apalagi pada akhir tahun, konsumen sedang membutuhkan banyak sekali bahan pangan. Belum lagi, krisis ekonomi di masa pandemi yang hingga saat ini belum juga berakhir total akan berdampak pada menurunnya kesejahteraan rakyat.

Lantas, mengapa pemerintah tidak mampu untuk mengantisipasi hal ini yang bahkan sudah terjadi berulang kali? Tentu saja yang terjadi saat ini lagi dan lagi karena pengaruh sistem kapitalisme yang dianut oleh negara ini. Tak ada yang namanya kesejateraan bagi rakyat di rezim ini karena seluruh penguasanya hanya mementingkan diri mereka sendiri. Bahkan tak ada kesungguhan dalam diri penguasa untuk menyejahterakan rakyatnya. Apakah kita masih pantas untuk mempertahankan sistem kapitalisme yang kufur ini?

Bandingkan dengan sistem Islam yang penguasanya selalu saja berusaha untuk membuat rakyatnya hidup sejahtera tanpa adanya kesulitan sama sekali. Bahkan Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai khalifah rela bekeliling kota di malam hari hanya untuk memastikan rakyatnya tidak ada yang kelaparan dan beliau juga rela untuk memanggul sendiri bahan pangan yang akan diberikan pada rakyatnya yang kekurangan. Bukankah sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh para penguasa saat ini?

Tentu saja, karena penguasa saat ini menganut sebuah ideologi yang batil, ideologi yang diciptakan sendiri oleh manusia, ideologi yang tidak dilandaskan pada syariat Allah SWT. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengganti idelologi yang batil ini menjadi ideologi yang benar dan akan memberikan kemaslahatan bagi siapapun yang menganutnya. Tak akan ada lagi kesengsaraan bagi rakyat jika menganut idelogi ini. Satu-satunya ideologi yang juga merupakan agama. Islam rahmatan lil 'alamin. []


Oleh: Zaskia Rifky
(Siswi SMAIT Al-Amri)

Posting Komentar

0 Komentar