Harga Kebutuhan Pokok Naik Membuat Rakyat Panik

TintaSiyasi.com -- Sebagaimana diketahui harga kebutuhan pokok kembali naik pada akhir Desember lalu. Di awal tahun pun belum menunjukkan adanya penurunan harga. Diantara barang pokok tersebut yaitu cabai rawit, minyak goreng, dan telur. 

Dikutip dari Kompas.com (27/12/2021), kenaikan harga kebutuhan pokok ini dikeluhkan para pedagang karena berkurangnya pembeli. Salah satunya pedagang di Pasar Rajawali, Pademangan, Jakarta Utara. Kenaikan harga ini beragam, bahkan hingga mencapai 40 persen dari harga normal. Misalnya harga tomat yang sebelumnya Rp 8.000 per kilogram menjadi Rp 12.000 per kilogram. Selain itu, minyak goreng yang sebelumnya Rp 15.000 hingga Rp 17.000 menjadi Rp 21.000 per kilogram. 

Adapun menurut Peneliti Core Indonesia, Dwi Andreas kenaikan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk kenaikan harga cabai disebabkan fenomena alam la nina yang membuat para petani banyak yang gagal panen. Untuk kenaikan harga minyak goreng terjadi karena meningkatnya permintaan kelapa sawit yang besar dari luar negeri. Sementara kenaikan harga telur saat ini menjadi wajar karena sampai bulan November lalu produksi telur sangat berlimpah dan harganya menjadi anjlok (Liputan.com, 29/12/2021).

Kenaikan harga kebutuhan pokok seolah menjadi biasa. Terlebih ketika menjelang hari raya atau momen-momen tertentu. Kenaikan ini tentu akan mempengaruhi kenaikan harga lainnya. Misalnya pedagang makanan atau masakan. Baik para pedagang atau konsumen seperti ibu rumah tangga akan menjadi panik dan sulit membeli barang pokok ini. Padahal kita tahu bagaimana kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit di masa pandemi ini. Alhasil rakyat pun terhambat dalam memenuhi gizi atau kesehatannya. 

Dalam sistem kapitalisme, berlaku hukum ekonomi jika permintaan naik maka harga barang pun relatif naik. Bahkan diperparah dengan adanya penimbunan sehingga barang menjadi langka dan mahal. Hal ini disebabkan lemahnya pengawasan oleh negara sehingga merugikan rakyat. 

Dalam sistem Islam, negara harus menyelesaikan permasalahan ini dengan segera. Bahkan senantiasa mengantisipasi agar tidak terus terulang. Beberapa langkah yang akan dilakukan oleh negara di antaranya:

Pertama, melakukan pengawasan di pasar agar ketersediaan bahan pokok rakyat terjamin.  Kedua, menindak tegas produsen atau pedagang yang melakukan kecurangan seperti menipu atau melakukan penimbunan. Ketiga, mendukung para petani dalam bercocok tanam sehingga dapat menghasilkan hasil panen yang melimpah dan tidak terjadi gagal panen. 

Hal ini hanya dapat dilakukan oleh institusi negara yang menerapkan syariat Islam. Negara yang berdaulat tidak diintervensi oleh asing atau korporasi seperti saat ini. Negara akan benar-benar memberikan kemudahan kepada rakyat dalam memenuhi kebutuhan pokok terutama pangan. 

Wallahu a'lam bishshawab.. []


Oleh: Nina Marlina, A.Md
Muslimah Peduli Umat

Posting Komentar

0 Komentar