dr. Nur Elin: Kalau Ingin Tuntas Atasi Wabah, maka Kembali ke Konsep Khilafah

TintaSiyasi.com -- Praktisi Kesehatan dr. Nur Elin mengatakan, kalau ingin tu tas atasi wabah, maka kembali ke konsep khilafah yang Rasulullah SAW contohkan. 

"Kalau ingin tuntas solusi wabah kembali saja ke bagaimana Rasul mencontohkannya dan khalifah setelahnya," tuturnya dalam Insight ke-121 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Omicron Dan Kesiapan Hidup Berdampingan Dengan Covid-19, Jumat (31/12/2022) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Menurutnya, negara-negara kapitalisme belum berhasil menyelesaikan wabah ini. "Seorang Muslim sudah punya konsep dari Rasulullah SAW, ketika negaranya khilafah. Mengubah menjadi lebih baik ini PR kita, solusi semua persoalan, komprehensif dan tanpa timbul masalah baru," katanya.

Ia menjelaskan, masa pandemi Covid-19 masih harus terus dihadapi oleh masyarakat dunia. Menurutnya, varian baru yang seakan belum membuat jera para penentu kebijakan untuk kembali pada konsep penanganan wabah yang pernah dicontohkan Rasulullah SAW. 

Ia melihat, penguasa negeri ini ketika pandemi awal tidak melakukan karantina wilayah seperti konsep Rasulullah SAW dalam penanganan wabah. Karenanya, vaksinasi di era kapitalisme ini, dilakukan sebagai bagian ikhtiar upaya untuk pencegahan dan meminimalisir penularan.

"Vaksinasi insyaAllah aman, tidak berbahaya karena sudah uji klinis. Upaya vaksinasi efektif dengan syarat. Artinya, ketika sudah divaksin tetap (taat) prokes (protokol kesehatan) pakai masker, jaga jarak," ungkapnya.

"Tapi, faktanya tidak begitu. Agak sulit jika anak-anak apalagi di bawah minimal usia 10 tahun ke bawah. Sebenarnya mau efektif, gampang aja dari negara. Artinya negara berikan aturan tegas dan sanksi pada pelanggaran," tambahnya. 

Ia menjelaskan, beragam upaya penguasa serasa tong kosong nyaring bunyinya, ketika sistem kehidupan kapitalisme-materialisme masih terus bercokol utamanya di negeri ini.

Ia mengatakan, "Kalau saya melihat, masyarakat sudah krisis kepercayaan terhadap pemerintah. Sebelum wabah sudah tidak percaya terhadap pemerintah. Karena sistem yang diterapkan pemerintah kapitalisme-materialisme. Seharusnya negara harus mencegah kontradiksi antara aturan dan perlindungan kepada masyarakat."

Ia menyontohkan, "Misal pemberlakuan PPKM seharusnya dibarengi juga dengan jaminan pangan dan kebutuhan masyarakat lainnya agar aturan pemerintah berjalan sesuai tujuan hadapi wabah ini."

Oleh karena itu, katanya, seorang Muslim terlebih Muslimah harus siap menghadapi fakta ini ke depan. Menurutnya, para ibu harus tangguh dan gigih bekerja sama dengan bagian keluarga dan institusi lainnya hadapi wabah Covid-19 di tengah kapitalisme yang berjalan beriringan hingga kini.

"Ibu harus menerangkan pemahaman yang benar tentang Covid-19 bahwa ini bagian qadha dari Allah SWT. Selanjutnya, Ibu memaksimalkan ikhtiar sebagai bagian dari kewajiban seorang muslim kepada Allah SWT yang bernilai pahala jika dilakukan hamba-Nya. Seperti memakai masker, jaga jarak, mengurangi mobilitas," katanya.

"Ibu punya kewajiban edukasi ke masyarakat. Secara pribadi ikhtiar, lalu melakukan perbaikan masyarakat dan agar negara juga serius. Rasul punya konsep baku ketika ada wabah dan diteladani oleh para Khulafaur Rasyidin. Negara mencontoh Umar bin Khattab memenuhi pemenuhan pangan hingga kesehatan," ujarnya.

Kesiapan 

dr. Nur Erlin menegaskan, harus adanya sinergi antara kesiapan keluarga, masyarakat dan negara dalam menghadapi wabah Covid-19. dr. Nur Erlin mengungkapkan, bahwasanya kesiapan keluarga menghadapi wabah Covid-19 ini tergantung pada institusi lainnya. Kesiapan institusi yang dimaksudkan adalah kesiapan masyarakat dan juga negara.

"Kalau bicara kesiapan keluarga, kita tidak bisa memisahkan dengan institusi lain, yakni masyarakat dan negara. Keluarga, secara umum sudah memahami bahaya Covid-19 sesuai tuntunan yang ada misal perlu pakai masker, jaga jarak," urainya.

Lanjut, ia mengungkapkan kemungkinan keluarga tidak ada jaminan siap hadapi wabah Covid-19 ini jika kesiapan institusi masyarakat dan negara tidak sinergi. 

"Apakah menjamin masyarakat yang sebagian ada yang percaya dan selebihnya tidak percaya dengan wabah Covid-19 ini? Bagaimana mungkin keluarga protect jika masyarakat tidak protect? Apalagi negara juga demikian. Kesiapan keluarga tergantung masyarakat dan negaranya," jelasnya. 

Tambahnya, “Jika tidak saling sinergi, maka tidak akan siap keluarga itu menghadapi kondisi-kondisi ke depan wabah ini. Masyarakat belum bisa membedakan antara Covid-19 ada dan yang kontradiksi meski ada vaksin guna menurunkan gejala.”

Oleh karena itu, para ibu harus menyiapkan keluarga utamanya generasi penerus bangsa ini guna hadapi wabah Covid-19 di tengah derasnya arus kapitalisme-materialisme.

Ia menjelaskan, kapitalisme selalu mencari kesempatan sejak lahirnya. Standar materialisme telah menjadi motivasi mencari untung dalam semua tindakan, tak terkecuali ketika wabah melanda seperti saat ini. "Saatnya seorang Muslim kembali pada konsep baku dari Rasulullah SAW ketika menangani wabah dan sikap beliau pernah dicontoh Khalifah Umar bin Khattab," tuntasnya.[] Hanif/Ika Mawarningtyas

Posting Komentar

0 Komentar