Dituduh India sebagai Negara Pendukung Terorisme, Begini Jawaban Telak Aktivis Islam Pakistan


TintaSiyasi.com -- Menanggapi pernyataan Menteri kesehatan India, Mangla Pandey yang menuduh Pakistan sebagai negara pendukung dan terlibat aksi terorisme, Aktivis Islam Pakistan Zubyr Cheema menyatakan bahwa sudah merupakan hal yang biasa bagi India selalu menyalahkan negara Pakistan. 

"India memang suka menyalahkan Pakistan. India terus mengklaim dan menuduh Pakistan berada di balik aktivitas teror," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Senin (19/12/2021). 

Zubyr Cheema, begitu sapaan akrabnya mengungkapkan data tentang kejahatan negara India yang sebenarnya lebih layak dituduh sebagai pendukung dan pelaku aksi terorisme terhadap warga minoritas di negara tersebut. 

"Kejahatan-kejahatan yang terjadi di India menindas warga minoritas bukankah lebih layak disebut sebagai teror? Misalnya, media nasional Turki pernah memuat bahwa kelompok Hindu ektremis menyerang warga minoritas Kristen yang tercatat sebanyak 300 kali," ungkapnya.

"Militer India juga pernah memperkosa perempuan-perempuan Sikh lalu membunuhnya di wilayah Nagaland (Punjab) tahun 1984. Di wilayah Kashmir, tercatat 200.000 nyawa telah hilang yang menyebabkan ribuan anak-anak Kashmir menjadi yatim piatu. Juga pemerkosaan terhadap 11.000 lebih wanita Muslim oleh militer Hindu India. Bukan hanya itu, tahun 2016, kerusuhan yang terjadi di Kashmir oleh militer India telah melukai 18.000 korban dan 2400 diantaranya termasuk anak-anak, matanya dirusak hingga kehilangan penglihatan," bebernya. 

Kejahatan lainnya ungkap aktivis Islam Pakistan tersebut, dilakukan oleh India adalah penyelundupan uranium yang telah terungkap sebanyak empat kali yang bernilai miliyaran dollar. Dan menurutnya, India menggunakan uranium tersebut untuk senjata biologi seperti bom nuklir. 

"Sudah empat kali, India tertangkap melakukan penyelundupan uranium yang nilainya milyaran dollar. Dan uranium tersebut dipergunakan untuk pembuatan senjata biologi seperti bom nuklir. Artinya, nuklir sangat tidak aman berada di tangan India," sebut dia. 

Ia juga mengungkapkan satu informasi yang didapatkan dari Ilham Omer (salah satu perwakilan AS), bahwa India merupakan salah satu daftar target yang bisa mendapatkan pukulan dari Amerika Serikat (AS) sebagai harga yang harus dibayar oleh India atas kejahatan-kejahatan Islamofobia. 

"Ilham Omer (salah satu perwakilan AS), mengatakan bahwa India menjadi salah satu daftar target AS yang bisa mendapatkan pukulan akibat kejatahan-kejahatan islamofobia yang terjadi di India. Amerika akan mengambil langkah tegas jika India menutup-nutupinya," kata dia. 

Namun demikian, walaupun kejahatan India menindas warga minoritas sudah sangat jelas merupakan perbuatan terorisme yang nyata, namun menurutnya, dunia internasional hingga saat ini tidak menindak tegas India, bahkan kerap menutupi dari publik atas kejahatan pemerintah India. 

Zubyr Cheema mengungkapkan kondisi saat ini, India sedang mendapatkan dropped point untuk rangking paspor global, yang berarti negara India sedang berada dalam kondisi yang berbahaya serta jadi ancaman bagi penerapan demokrasi yang selama ini menjadi tink tank Amerika.  

"Mengapa paspor warga India kini mengalami dropped point hingga sepuluh angka dari 82 sekarang di rangking 92 dalam paspor global? Nah, ini menunjukkan dengan jelas bahwa pertumbuhan kasus radikal ekstremis meningkat tajam di India," terangnya.

"Dan kondisi ini sebenarnya ancaman bagi negara India secara internal juga sebagai tink tank Amerika yang selama ini menjalankan demokrasi. Karena faktanya, justru menjadi wilayah yang sangat berbahaya bagi kalangan minoritas," tandasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar