Derita Anak Masa Pandemi Makin Menjadi, Islam Punya Solusi

TintaSiyasi.com -- Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan tentu sangat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali bagi anak-anak. Berbagai kebijakan pemerintah dan kebiasaan baru bagi masyarakat guna mencegah kenaikan angka penularan Covid-19 diberlakukan, seperti protokol kesehatan yang ketat dan pembetasan fisik dan sosial.

Dikutip dari edukasi.kompas.com, Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Primatia Yogi Wulandari, mengungkapkan bahwa banyak situasi tidak menyenangkan yang dihadapi anak selama pandemi Covid-19. Ia memaparkan bahwa anak-anak usia prasekolah hingga remaja turut merasakan kecemasan yang berantai dari lingkungan mereka,

Emosi negatif seperti cemas, gelisah, dan khawatir yang ditunjukkan oleh orang tua atau anggota keluarga lain akan memberi dampak kepada anak bila tidak dikelola dengan baik. Anak usia prasekolah memiliki kebutuhan akan kegiatan bermain yang tinggi. Mereka tumbuh dan berkembang termasuk juga mengeksplorasi lingkungan sosial mereka dengan bermain.

Dengan adanya pembetasan fisik dan sosial, anak-anak akan merasakan kejenuhan karena tidak semua rumah mempunyai alat bermain anak yang komplit terutama untuk permainan motorik kasar. Selain itu, mereka juga tidak mendapat kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya.

Di sisi lain, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait merasa miris melihat kasus kekerasan terhadap anak tetap tinggi di masa pandemi, saat di mana mereka justru terus dekat dengan keluarga. Berdasarkan catatannya, ada 2.726 kasus kekerasan terhadap anak sejak Maret 2020 hingga Juli 2021 ini dan lebih dari setengahnya merupakan kasus kejahatan seksual (republika.co.id).

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dalam sambutannya mengatakan, sektor perkebunan kelapa sawit saat ini diterpa isu keterlibatan pekerja di bawah umur yang memerlukan upaya dari pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan dengan berkomitmen mendukung Indonesia terbebas dari pekerja anak (Kompas.com).

Dengan melihat beberapa fakta tersebut, tentu membuat para ibu sangat prihatin dan khawatir. Sulit sekali menemukan tempat yang aman, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di tengah masyarakat.

Anak adalah amanah Allah SWT yang ada pada pundak orang tua. Orang tua mempunyai peranan penting dalam menyayangi anak-anak, mendidiknya, serta menjaganya dari ancaman kekerasan, kejahatan, sedrta terjerumus pada azab neraka (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Amar makruf nahi munkar juga sangat perlu ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat. Hal itu dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya kemaksiatan yang merajalela di lingkungan masyarakat tersebut. Dengan demikian, jika ada potensi munculnya kejahatan, maka masyarakat tidak akan tinggal diam, mereka akan  segera bertindak dan melaporkan pada pihak berwenang.

Dengan demikian masalah kekerasan dan kejahatan anak tidak dapat diselesaikan jika yang melakukannya hanya individu atau keluarga dan masyarakat saja. Bagaimana pun juga negara sebagai perisai umat yaitu, pelindung, dan benteng bagi keselamatan seluruh rakyatnya, tak terkecuali bagi anak-anak tak dapat dinafikan. Negara tentu memiliki kekuasaan dan berwenang dalam menegakkan hukum yang adil bagi masyarakat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yagn memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim).

Nasib anak menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya walaupun dalam keadaan sulit terutama masa pandemi ini.

Islam memiliki paradigma yang khas dalam penyelesaian kasus kekerasan dan kejahatan anak. Berikut ketentuan Islam terkait masalah tersebut:

Pertama. Islam menangani masalah ini dengan penerapan aturan yang integral dan komprehensif. 

Kedua. Pilar pelaksana aturan Islam adalah negara, masyarakat, dan individu/keluarga.

Dalam Islam, mekanisme perlindungan dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan, yaitu:

Pertama. Penerapan sistem ekonomi Islam. Terpenuhinya kebutuhan dasar merupakan masalah asasi manusia. Sehingga tidak ada anak yang terlantar; krisis ekonomi yang memicu kekerasan anak oleh orang tua yang stress bisa dihindari; para perempuan akan fokus pada fungsi keibuannya (mengasuh, menjaga, dan mendidik anak) karena tidak dibebani tanggung jawab nafkah.

Kedua. Penerapan sistem pendidikan Islam. Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. Salah satu hasil dari pendidikan ini adala kesiapan orang tua untuk menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak, serta mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan.

Ketiga. Penerapan sistem sosial. Negara wajib menerapkan sistem sosial yang akan menjamin interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai ketentuan syariat. Di antara aturan tersebut adalah: perempuan diperintahkan untuk menutup aurat dan menjaga kesopanan, serta menjauhkan mereka dari eksploitasi seksual.

Keempat. Pengaturan media massa. Berita dan informasi yagn disampaikan media hnyalah konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Apapun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hokum ysara akan dilarang keras.

Kelima. Penerapan sistem sanksi Islam. Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para pelaku kejahatan, termasuk orang-orang yang melakukan kekerasan dan penganiiayaan anak. Hukuman yang tegas akan membuat jera orang yang terlanjur terjerumus pada kejahatan dan akan mencegah orang lain melakukan kemaksiatan tersebut (muslimahnews.com).

Akar dari penyebab penderitaan anak atas kekerasan atau tindak kejahatan yang terjadi selama ini tidak lain adalah buah dari penerapan sistem demokrasi liberal dengan ekonomi kapitalismenya. Sehingga, Masyarakat hendaknya mulai sadar bahwa hanya dengan diterapkannya sistem Islam kaffah penderitaan anak-anak ini akan berakhir. Inilah solusi tepat dan nyata. Sebagaimana catatan sejarah berabad-abad silam yang menunjukkan adanya generasi gemilang pemimpin peradaban dunia. Wallahu a'lam. []


Oleh: Dewi Ratih
Sahabat TintaSiyasi

Posting Komentar

0 Komentar